KALTIMPOST.ID, Di balik pesona megah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), tersimpan rahasia kelam?
Sebanyak 59 titik ladang ganja ditemukan tersembunyi di kawasan konservasi ini.
Fakta mengejutkan ini terungkap dalam sidang kasus narkotika di Pengadilan Negeri (PN) Lumajang, dan langsung memicu kemarahan DPR.
Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan dengan tegas menyatakan akan memanggil Kementerian Kehutanan (Kemenhut) untuk meminta penjelasan mengenai kelalaian pengawasan ini.
Baca Juga: Tradisi Mudik dan Libur Lebaran, Waspada Ada Potensi Kejahatan
“Kita akan segera memanggil, meminta penjelasan dari pihak Kementerian Kehutanan yang memang bertanggung jawab terhadap pengelolaan Taman Nasional,” ujar Daniel di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 19 Maret 2025.
Komisi IV DPR juga mewanti-wanti agar kasus ini tidak hanya berhenti pada TNBTS. Mereka mendesak pengawasan lebih ketat di seluruh taman nasional Indonesia.
“Jangan sampai ini hanya puncak gunung es. Kita akan memastikan tidak ada ladang ganja lain di taman nasional lainnya,” lanjut Daniel.
Fakta keberadaan ladang ganja ini mencuat dalam persidangan di PN Lumajang pada 11 Maret 2025 lalu.
Baca Juga: Investasi Online di Balikpapan, Dijanjikan Keuntungan Berlipat Tak Nyata
Kesaksian polisi hutan menjadi kunci dalam menguak skandal ini. Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengungkapkan bahwa temuan ini sebenarnya sudah terjadi sejak September 2024.
“Pada tanggal 18-21 September 2024, Balai Besar TNBTS bersama Kepolisian Resor Lumajang, TNI, dan perangkat Desa Argosari, Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang, menemukan tanaman ganja yang berdasarkan titik koordinat berada di Blok Pusung Duwur,” ungkap Rudijanta, Rabu, 19 Maret 2025.
Namun, pertanyaannya, bagaimana mungkin ladang ganja ini bisa berkembang tanpa terdeteksi lebih awal?
Baca Juga: Pejabat Utama Polda Berbagi Takjil di Jalanan, Gelar Buka Bersama Media
Tak puas hanya dengan pemanggilan Kemenhut, Komisi IV DPR berencana menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke berbagai taman nasional.
Daniel Johan menyatakan bahwa pengawasan selama ini lemah dan perlu tindakan tegas agar kejadian serupa tak terulang.
“Saya akan usulkan kepada pimpinan agar segera diagendakan sidak ke beberapa taman nasional. Kita harus memastikan hal yang sama tidak terjadi di tempat lain,” kata Daniel. ***
Editor : Dwi Puspitarini