KALTIMPOST.ID, Ketika di berbagai belahan dunia, umat Islam bergembira menyambut adzan magrib, di Gaza sebuah kota di Palestina, suara adzan telah lama digantikan oleh dentuman bom yang menggetarkan jiwa. Masjid-masjid yang dahulu berdiri megah kini hanya menyisakan puing-puing. Tak sedikit orang yang ingin mengumandangkan adzan, tetapi mereka takut-takut suara mereka justru mengundang serangan udara.
Bagi masyarakat Gaza, makanan sederhana seperti teh manis dan gorengan yang di Indonesia dianggap biasa, bisa jadi terasa mewah. Kita mungkin sempat kesal dengan teriakan anak-anak yang memenuhi masjid, namun justru itu yang masyarakat Gaza rindukan.
Di saat sebagian dari kita kesal dengan susah payahnya mengantre berjam-jam dalam kemacetan mudik, itu pula yang mereka impikan lantaran mereka tak tahu lagi bagaimana nasib anggota keluarganya; entah di mana, entah masih hidup atau sudah tiada.
Dahulu, sebelum perang berkecamuk, warga Gaza, layaknya kita, terbiasa melangkah ke masjid bersama keluarga. Usai berbuka, mereka menunaikan salat tarawih, bersilaturahmi dengan tetangga dan handai tolan.
Kemudian, seperti kita, mereka menikmati semaraknya malam Ramadan di jalanan Gaza, sebelum pulang menyantap qatayef segar—mungkin seperti gorengan bagi kita. Namun, sejak tahun lalu, tak ada lagi tempat bagi mereka untuk melaksanakan tarawih, di tengah nestapa genosida yang melanda.
Kini, masjid-masjid telah rata dengan tanah. Masjid Agung Omari, kebanggaan warga Gaza, yang dulu menjadi tempat favorit menghabiskan 10 malam terakhir Ramadan, kini telah lenyap, dibom hingga menjadi reruntuhan tak berbentuk. Di Yerusalem, umat Islam dihadang memasuki Masjid Al-Aqsha. kaum Muslimin diadang memasuki Masjid kiblat pertama kita semua, Al Aqsha.
Pada 6 Maret, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyetujui pembatasan lebih ketat terhadap akses jamaah Palestina ke Masjid Al-Aqsha. Berdasarkan pembatasan baru, hanya pria di atas usia 55 tahun, wanita di atas usia 50 tahun, dan anak-anak di bawah usia 12 tahun yang diizinkan memasuki Masjid Al- Aqsa.
Namun, akses akan bergantung pada perolehan izin keamanan sebelumnya dan menjalani pemeriksaan keamanan menyeluruh di pos pemeriksaan yang ditentukan. Keputusan tersebut bertepatan dengan serangan harian yang dilakukan oleh ratusan pemukim ilegal Israel ke Masjid Al-Aqsa selama bulan suci.
Reporter Anadolu, sebagaimana dikutip Middle East Monitor, mencatat banyak warga Palestina, termasuk orang lanjut usia, ditolak masuk dengan alasan mereka tidak memiliki izin yang sesuai, meskipun usia mereka. Um Alaa, seorang wanita berusia 71 tahun asal Gaza yang tinggal di Tepi Barat yang diduduki sembari menerima perawatan medis, berbagi rasa frustrasinya.
“Tentara Israel menolak mengizinkan saya memasuki Yerusalem, dengan alasan saya tidak memiliki izin yang diperlukan. Saya berusia 71 tahun, dan yang saya inginkan hanyalah salat di Al-Aqsa,” katanya.
“Saya sangat terpukul ketika saya dilarang masuk. Saya berharap untuk mengunjungi masjid dan berdoa, tetapi pasukan Israel menolak saya masuk,” tambahnya.
Kemudian, ada Fatima Awawda, warga negara Amerika berusia 67 tahun dari Deir Dibwan, timur Ramallah, mengatakan dia dihentikan di pos pemeriksaan Qalandiya karena dugaan kesalahan dalam izin masuknya.
Baca Juga: Hore Lebaran Telah Tiba! Pemkot Samarinda Larang Takbiran Idul Fitri Pakai Mobil
“Apa yang bisa saya lakukan? Saya punya paspor Amerika, saya seorang wanita tua, tetapi mereka melarang saya masuk,” katanya. “Al-Aqsa berarti segalanya bagi kami; ia adalah kiblat pertama [arah salat] bagi umat Islam, dan di sanalah Nabi Muhammad memimpin salat para nabi lainnya,” ujarnya.
Kalau kita kehilangan rumah atau kehilangan orang yang dicintai, kita masih punya harapan esok hari. Mereka di Gaza telah kehilangan “hari ini dan masa depan” mereka.
Gencatan Senjata, Harapan yang Dibombardir Pengkhianatan
Ramadan tahun ini dimulai saat gencatan senjata. Tidak ada serangan udara yang mengguncang bumi saat kita berbuka puasa. Tidak ada ledakan yang bergema di keheningan fajar.
Tidak ada rasa takut untuk mendekorasi rumah kita, menggantung lampu warna-warni yang mungkin menjadikan kita sasaran. Di tengah rasa sakit karena luka dan jalan-jalan Gaza yang luluh lantak, kehidupan mencoba kembali menemukan wujudnya.
Toko-toko dan pasar yang tersisa mulai dibuka, pedagang kaki lima kembali menjajakan dagangannya. Di Nuseirat, sebuah supermarket besar bernama Hyper Mall kembali beroperasi.
Esra Abo Qamar, seorang penulis asal Gaza, mengisahkan melalui sebuah artikel yang dimuat dalam Al Jazeera. Dirinya dan saudara perempuannya hampir tak percaya saat memasuki mal yang terang benderang itu.
Rak-rak kembali dipenuhi cokelat, biskuit, dan kurma. Hiasan Ramadan berwarna-warni tergantung di sudut-sudut toko, mengingatkan mereka pada masa lalu---masa di mana Ramadan adalah perayaan, bukan penderitaan.
Namun, di balik tampilan kelimpahan itu, ada kenyataan pahit yang tak mungkin ia abaikan. Sebagian besar barang di rak-rak toko masuk ke Gaza, justru melalui jalur perdagangan komersial yang dikendalikan ketat oleh Israel.
Truk-truk yang membawa bahan pangan untuk dijual jauh lebih banyak dibandingkan yang membawa bantuan kemanusiaan. Akibatnya, harga melambung tinggi, tak terjangkau oleh sebagian besar warga yang kehilangan rumah dan pekerjaan mereka akibat perang.
Tidak berhenti di situ, dalam beberapa pekan terakhir, Israel kembali memberlakukan blokade ketat di Gaza. Bantuan kemanusiaan yang seharusnya menjadi penyelamat ditahan di perbatasan.
Makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya tidak diizinkan masuk. Israel berdalih hal ini dilakukan untuk menekan Hamas, sementara kelompok hak asasi manusia mengecamnya sebagai bentuk hukuman kolektif terhadap warga sipil.
Akibatnya, dapur-dapur umum yang menjadi tumpuan banyak keluarga kini harus menjatah pasokan makanan mereka dengan ketat. Di salah satu dapur umum, antrean panjang terlihat di setiap waktu berbuka. Warga Gaza yang kelaparan dan kelelahan berdiri berjam-jam menunggu giliran untuk mendapatkan sepiring makanan.
Fouad Nassar, seorang pria yang sebelum perang hidup dengan cukup, kini harus menerima kenyataan pahit. Dulu, setiap hari ia berbuka dengan ayam, ikan, atau kebab. Kini, untuk mendapatkan sepiring kacang dari dapur amal, ia harus antre selama dua jam.
“Kami tidak butuh bantuan siapa pun sebelumnya. Namuni sekarang, mengapa saya harus mengantre selama dua jam hanya untuk sepiring makanan?” sesalnya.
Kursi-kursi Makan yang Kosong
Terlepas dari kesulitan mereka menikmati kemeriahan Ramadhan pada momen tarawih maupun berbuka puasa, yang jauh lebih menyedihkan ialah kehilangan orang-orang yang dulu bergandengan tangan menuju masjid, sekaligus mengisi meja-meja makan saat sahur maupun berbuka. Di setiap sudut Gaza, kursi-kursi yang kosong menjadi saksi bisu atas perang yang telah merenggut lebih dari 48.000 nyawa.
Banyak dari anggota di kartu keluarga kini terhapus dari catatan sipil. Tidak akan ada lagi suara tawa anak-anak yang berlarian menuju masjid, tidak ada lagi doa yang dipanjatkan bersama, dan tidak ada lagi tangan-tangan yang menyajikan makanan dengan penuh cinta.
Pada sebagian tembok rumah yang masih berdiri, keheningan menggantikan kebersamaan. Seorang ayah yang dulu selalu memanggil anak-anaknya ke meja makan kini tak lagi ada.
Seorang ibu yang dulu menghidangkan makanan dengan kasih sayang kini tinggal kenangan. Seorang putra yang tak sabar menanti waktu berbuka kini tak akan pernah pulang. Ramadan bagi mereka yang ditinggalkan kini bukan lagi bulan kebersamaan, melainkan bulan penuh luka dan kesepian.
Rasa kehilangan ini terlukis jelas dalam tulisan Noor Alyacoubi, seorang penulis Palestina,
dalam artikelnya di Palestine Chronicle. Ia menuliskan dengan pilu: “Hari ini, hatiku sakit karena aku tahu aku tidak bisa menunggu orang tuaku datang dan memberkatiku dengan doa mereka. Aku tidak akan mengunjungi mereka besok.
Aku juga tidak akan berdiri di toko, kewalahan dengan banyaknya pilihan, bertanya-tanya apa yang harus kubeli untuk ibu dan saudara-saudaraku.
Aku tidak akan diundang untuk berbuka puasa di rumah keluargaku, karena rumah itu telah dibom pada Maret 2023. Hari ini, aku merasa sendirian. Setiap hari terasa tidak lengkap. Kami biasa menyambut Ramadan dengan kebahagiaan dan kegembiraan.
Namun tahun ini, kami sama sekali tidak merasa siap menyambutnya. Ramadan sama sekali tidak terasa,” katanya. Kalimat ini berkali-kali terdengar di Gaza dalam pekan- pekan terakhir.
Tidak ada lentera yang menyala terang di jalan-jalan, tidak ada suara anak-anak yang menyanyikan lagu Ramadan. Semua berganti menjadi raung kesedihan yang begitu dalam, kehilangan yang tak tergantikan.
Para ibu menangisi anak-anak mereka yang gugur sebagai syuhada, para putra merindukan orang tua mereka yang telah tiada, dan keluarga-keluarga meratap atas puing-puing rumah- rumah yang hancur.
Mereka belum pulih. Hati mereka hancur karena perpisahan, jiwa mereka bergolak karena duka, dan tubuh mereka kelelahan karena penderitaan yang tak berkesudahan.
Namun, dalam keheningan yang menyakitkan ini, ada satu hal yang tetap bertahan—iman. Iman yang membuat mereka percaya bahwa di balik setiap luka ada janji Allah, bahwa setelah setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
Meski kursi-kursi itu kosong di dunia, mereka yakin suatu hari nanti, mereka akan kembali bersama di tempat yang lebih indah, dalam jamuan yang lebih megah, di sisi-Nya.
Laporan Noor Hafidz (Damai Aqsha) untuk Kaltim Post
Editor : Uways Alqadrie