KALTIMPOST.ID, SEOUL– Krisis politik Korea Selatan akhirnya mencapai titik klimaks. Mahkamah Konstitusi Korea Selatan resmi memberhentikan Presiden Yoon Suk Yeol dari jabatannya, menandai kejatuhan dramatis bagi mantan jaksa bintang yang dulu menjatuhkan Presiden Park Geun-hye, dan kini bernasib sama.
Keputusan bulat delapan hakim konstitusi itu menjawab kekacauan yang dimulai sejak Desember lalu, ketika Yoon secara kontroversial menyatakan darurat militer meski tidak ada krisis nasional yang sah. Tindakannya tersebut langsung dikecam luas sebagai pelanggaran konstitusi dan menjadi dasar pemakzulannya oleh parlemen.
Hakim Moon Hyung-bae menyebut deklarasi darurat militer itu sebagai tindakan inkonstitusional yang melanggar prosedur, menekan parlemen, serta mencederai prinsip kepemimpinan sipil dalam militer.
Yoon telah diminta angkat kaki dari kediaman resmi dan kekuasaan kini kosong, menuntut pemilihan presiden baru dalam waktu 60 hari. Nama pemimpin oposisi Lee Jae-myung kini mencuat sebagai kandidat kuat, setelah sebelumnya kalah tipis dari Yoon pada pemilu 2022.
Namun, drama politik belum usai. Yoon masih menghadapi dakwaan berat atas tuduhan pemberontakan, salah satu dari sedikit kejahatan yang tidak mendapat kekebalan presiden dan bisa berujung pada hukuman seumur hidup – bahkan hukuman mati, meski eksekusi tidak pernah dilakukan dalam beberapa dekade terakhir di Korea Selatan.
Dalam tuduhan itu, Yoon disebut mengirim tentara untuk mengepung parlemen dan bahkan memerintahkan penarikan paksa anggota dewan, sebagai upaya membungkam oposisi.
Ia berdalih langkahnya hanya sebagai "peringatan sementara" terhadap kekuatan pro-Korea Utara yang ia anggap mengancam stabilitas negara.
Di tengah kericuhan, rakyat Korea Selatan terbelah. Di luar gedung pengadilan, lawan politik Yoon bersorak gembira, menari sambil mengibarkan bendera. Namun, suasana muram tampak di sekitar kediaman Yoon, di mana para pendukung konservatifnya diam dalam kesedihan.
Yoon dulunya dielu-elukan sebagai simbol reformasi hukum, bahkan pernah menjadi tamu kehormatan di Gedung Putih dan menyanyikan lagu “American Pie” di hadapan Presiden Joe Biden pada 2023. Kini, ia tercatat sebagai presiden terpendek masa jabatannya dalam sejarah demokrasi Korea Selatan.
Kisah Yoon menjadi pengingat pahit bahwa kekuasaan adalah pedang bermata dua – dan bahwa hukum yang pernah ia tegakkan kini menjatuhkannya dari singgasana tertinggi.(*)
Editor : Thomas Priyandoko