KALTIMPOST.ID, Singapura merasa terpojok. Dunia makin tidak adil bagi negara kecil. Ini bukan sekadar tarif, tapi ancaman besar terhadap tatanan global.
Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, menyuarakan kekhawatiran mendalam soal kebijakan tarif resiprokal baru yang diumumkan Presiden AS Donald Trump.
Dalam pidato yang dirilis lewat kanal YouTube-nya, Wong menyebut langkah AS ini bisa menjadi awal dari akhir era globalisasi yang selama ini melindungi negara-negara kecil seperti Singapura.
"Era perdagangan bebas berbasis aturan sudah usai. AS tidak lagi hanya mencoba mengubah sistem, mereka meninggalkannya sama sekali," ujar Wong, Jumat (4/4/2025).
Baca Juga: Surya Paloh Buka-bukaan, Mengapa NasDem Tak Mau Duduk di Kabinet Prabowo?
Trump menetapkan skema tarif resiprokal, alias pembalasan terhadap negara-negara yang dianggap memperlakukan barang AS tidak adil.
Indonesia dikenai 32 persen, Tiongkok 34 persen, Vietnam 46 persen, dan yang tertinggi adalah Kamboja dengan 49 persen.
Singapura memang “hanya” dikenai tarif 10 persen, tapi bagi Wong, dampak dari kebijakan ini jauh lebih dalam daripada sekadar angka.
“Era globalisasi berbasis aturan telah berakhir. Ini bukan lagi soal reformasi WTO. Ini penolakan total terhadap sistem itu,” kata Wong.
Dunia Menuju Perang Dagang Besar-besaran?
Singapura, yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor dan keterbukaan pasar internasional, kini berdiri di persimpangan jalan.
Wong dengan tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan membalas dengan tarif serupa. Namun dia tidak bisa menjamin bahwa negara lain akan bersikap sama.
“Kemungkinan terjadinya perang dagang global besar-besaran kini makin nyata,” ujarnya.
Wong menggambarkan situasi ini seperti sebuah bom waktu ekonomi. Tarif tinggi dan ketidakpastian antarnegara akan membebani perdagangan, menekan investasi, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.
“Singapura bisa terpukul lebih keras daripada negara lain. Kami kecil, terbuka, dan sangat bergantung pada sistem global yang stabil,” lanjutnya.
Seperti Tahun 1930-an, Tapi Versi Lebih Kompleks
Dalam pernyataannya, Wong bahkan menarik garis sejarah. Ia membandingkan situasi saat ini dengan era proteksionisme 1930-an yang berakhir dengan bencana besar, yaitu Perang Dunia Kedua.
Bedanya, dunia saat ini lebih saling terhubung, sehingga dampaknya bisa jauh lebih menghancurkan.
“Tak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi beberapa bulan atau tahun mendatang. Tapi kita harus bersiap menghadapi bahaya besar yang tengah tumbuh,” ujarnya.
Baca Juga: Masih Punya Utang Puasa Ramadan? Jangan Dulu Puasa Syawal sebelum Baca Ini
Singapura Tidak Diam, Tapi Juga Tidak Ikut Membalas
Meski tidak akan melakukan balasan tarif, Wong memastikan bahwa Singapura akan memperkuat ketahanan dalam negeri dan memperluas kerja sama dengan negara-negara yang masih menjunjung tinggi perdagangan bebas dan kerja sama multilateral.
“Kami lebih siap dibandingkan banyak negara lain. Tapi kejutan-kejutan ekonomi akan terus datang,” katanya.
“Kita harus waspada, bersatu, dan siap menghadapi dunia yang sedang terluka.”
Trump menyebut pengumuman kebijakan ini sebagai “Liberation Day”, simbol bahwa AS akan kembali merebut kendali atas perdagangan global.
Baca Juga: Beasiswa Australia Awards 2025 Dibuka! Cek Syarat dan Cara Daftarnya di Sini
Tapi bagi banyak negara, termasuk Singapura, ini bukan kemerdekaan, ini adalah peringatan akan datangnya masa yang jauh lebih gelap.
Wong menutup pidatonya dengan seruan yang tidak biasa untuk ukuran seorang pemimpin negara.
“Jalan ke depan tidak akan mudah. Tapi jika kita tetap bersama dan terus siaga, kita akan mampu bertahan,” tegasnya. ***
Editor : Dwi Puspitarini