KALTIMPOST.ID, KALTIMPOST.ID, Gratis jadi kata kunci kepemimpinan Gubernur Kaltim Rudy Mas`ud dan wakilnya, Seno Aji lewat program Gratispol. Gratis internet jadi salah satu kebijakannya. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim jadi lembaga penggerak program ini.
Kepala Diskominfo Kaltim, M Faisal, menerangkan mereka sudah menyusun data awal soal rencana dan prioritas program yang akan dijalankan ke desa-desa se-Kaltim di awal 2025 ini.
Tiga pelayanan dasar yang disasar, dari kantor desa, puskesmas, hingga sekolah. “Kantor desa paling utama, agar pelayanan publik tak terhambat,” terangnya beberapa waktu lalu.
Jika kantor desa sudah, berlanjut ke puskesmas serta sekolah. Beres di tiga fasilitas dasar ini, barulah program itu beranjak, membuat sebuah ruang berinovasi memanfaatkan digitalisasi yang sudah tersedia.
Entah memasarkan produk UMKM setempat atau menyiarkan potensi desa. Untuk teknis, nantinya akan ditangani Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa.
Lewat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2025-2030 yang tengah disusun, program gratis internet ini akan dijalankan di 841 desa di Kaltim. Tapi, tak semua desa memiliki fasilitas publik yang lengkap. Masih ada yang belum punya kantor desa, malahan masih ada titik-titik yang buta sinyal.
Dari jumlah total desa di tanah Etam, ada sekitar 50 hingga 60-an desa yang belum terjamah koneksi internet.
Program yang perlu dijalankan pun harus menyasar ke paling dasar, menyediakan koneksi internet. “Bisa lewat fiber optik atau via satelit untuk menghadirkan sinyal,” tuturnya.
Menyediakan internet hingga ke desa juga jadi program di sejumlah kabupaten. Untuk yang sudah ada, bukan berarti pemprov lepas tangan. “Misal di kantor desanya sudah ada program serupa dari kabupaten. Maka puskesmas dan sekolah yang dihandel pemprov. Saling melengkapi saja,” sambungnya.
Dengan begitu, target Gubernur Rudy agar tak ada lagi titik buta sinyal di Kaltim 2030 bisa terwujud. Dengan gratis internet, Kaltim punya target besar. Menjadi provinsi di mana desa-desanya tak lagi dianggap tertinggal karena susah sinyal.
Editor : Uways Alqadrie