KALTIMPOST.ID, Putri sulung mendiang Titiek Puspa, Petty Tunjungsari Murdago, memilih untuk tidak meneruskan jejak sang ibu di dunia musik.
Alasannya sederhana tapi sangat jujur, ia merasa tak mampu menandingi sosok legendaris ibunya.
Dalam wawancaranya yang menyentuh di kanal YouTube Hati ke Hati, Petty mengungkap rasa segannya untuk mengikuti jejak ibunya yang telah mengukir sejarah panjang di industri hiburan Indonesia sejak 1950-an.
"Beban," kata Petty dengan nada ringan namun penuh makna.
"Ya mungkin saya ada bakatnya, tapi setetes, dua tetes. Sementara beliau ini satu samudera."
Ungkapan itu pun disambut tawa oleh Titiek Puspa semasa hidup. Meskipun begitu, Petty bukan tanpa usaha.
Ia pernah mencoba menyanyi, bahkan sempat tampil bersama Vina Panduwinata. Namun, ada kejadian yang membuatnya mundur total.
"Waktu itu pernah saya sama-sama nyanyi kalau enggak salah ketika Vina Panduwinata nyanyi," kenangnya.
"Tapi kemudian saya menemukan satu hal di mana nada tinggi saya waktu itu pecah."
Baca Juga: Film Jumbo Pecahkan Rekor, Tapi Ada Satu Adegan yang Bikin Penonton Meneteskan air Mata Tanpa Sadar
Setelah diperiksa ke dokter, Petty diketahui memiliki masalah pada pita suara. Momen itu menjadi titik balik.
"Ya sudah lah, enggak usah," ucap Petty sambil tersenyum.
Meski tak melanjutkan karier di panggung musik, Petty tetap merasa punya tanggung jawab besar. Bukan untuk tampil, tapi menjaga nama baik sang ibu.
"Jadi kita jaga diri kita demi nama baik Titiek Puspa," tegasnya.
Baca Juga: Bukan Instruksi Biasa, Wasiat Titiek Puspa Ini Bikin Keluarga Tak Berani Membantah
Mendiang Titiek Puspa bukan hanya penyanyi dan pencipta lagu, tapi juga aktris yang membintangi film seperti Bawang Putih, Ateng Minta Kawin, hingga Inem Pelayan Sexy.
Meski tak bisa memainkan alat musik, lagu-lagu ciptaannya selalu abadi bahkan saat dinyanyikan ulang oleh generasi baru.
Titiek Puspa wafat pada 10 April 2025 setelah sempat dirawat akibat pendarahan otak selama 15 hari.
Meski ia telah tiada, kisah tentang warisan seni dan cinta keluarganya terus hidup dalam kenangan publik. ***
Editor : Dwi Puspitarini