KALTIMPOST.ID,JAKARTA- Harjanto Halim, CEO PT Marimas Putera Kencana, baru-baru ini menarik perhatian netizen dengan tantangan unik di TikTok. Ia mencari kaos promosi Marimas yang pertama kali dibagikan pada tahun 1995.
Akhirnya sayembara bernilai Rp 30 juta tersebut berhasil. Kaos yang dicari ternyata masih disimpan warga Pekalongan, bernama Khoiri.
Kaos tersebut pemberian ayahnya, Damiri (70) yang hingga kini masih menjadi tukang becak.
Harjanto Kusuma Halim atau Liem Tun Hian (lahir di Semarang, Jawa Tengah) adalah pengusaha dan filantropis keturunan Tionghoa berkebangsaan Indonesia. Ibunya bernama So Sioe Dwan, sedangkan ayahnya Harjanto.
Harjanto Halim adalah CEO dari PT Marimas Putera Kencana, perusahaan yang memproduksi minuman segar, Marimas. Di luar pekerjaannya sebagai pengusaha.
Marimas merupakan produk serbuk minuman rasa buah yang telah ada sejak tahun 1995. Marimas menjadi salah satu merek minuman bubuk terkemuka di Indonesia. Pabrik Marimas berada di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Dia juga beraktivitas di bidang sosial, antara lain menjadi Ketua Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong, Ketua Komunitas Pecinan Semarang Untuk Pariwisata (Kopi Semawis) yang kegiatannya dimaksudkan untuk meningkatkan minat wisatawan ke Semarang, menjadi dosen tamu di Universitas Katolik Soegijapranata, dan dewan penyantun Unnes.
Perusahaan yang dipimpinnya pun dimulai dari skala UKM dan saat ini telah berkembang menjadi perusahaan nasional.
Sebelum memiliki pabrik di Kawasan Industri Candi, Semarang, Harjanto Halim memulai Marimas dari skala industri rumah tangga. Saat itu, dia ingin menawarkan minuman kemasan alternatif di tengah mulai masifnya produk – produk minuman manis.
Kini, 30 tahun berlalu, Marimas menawarkan puluhan rasa. Pionirnya, rasa mangga, jeruk, dan jambu biji yang tetap eksis hingga sekarang. Ada juga varian rasa baru seperti cincau dan black currant.
Marimas juga memiliki program Factory Tour untuk siswa sekolah dari level SD – SMA, organisasi, komunitas, maupun masyarakat umum. Selain belajar mengenai operasional pabrik, dengan Factory Tour masyarakat umum juga bisa melihat proses pembuatan Marimas.
Haul Gus Dur
Sebagai keturunan Tionghoa, ia turut merayakan Tahun Baru Imlek. Namun ia juga rutin merayakan tahun baru Jawa atau malam satu suro.
Dulu, ujar Harjanto, ayahnya kerap menggelar acara selamatan merayakan malam satu suro. Hingga kini, pria kelahiran 54 tahun lalu itu masih menggelar rutinitas itu.
"Kalau satu suro saya juga menggelar selamatan di rumah. Ya berdoa juga," ungkap Harijanto.
Harijanto berpendapat melestarikan budaya Jawa merupakan kewajibannya. Terlebih, Semarang merupakan tanah kelahirannya.
"Saya tidak bisa mengingkari, budaya adalah sebagai identitas, saya lahir di sini, harus bisa mengapresiasi budaya yang ada. Lepas kami orang Tiongkok atau Jawa," bebernya.
Pendiri PT Marimas Putra Kencana itu mengaku menikmati budaya Jawa. Ia berharap masih banyak anak muda bisa merawat budayanya. Sebab, budaya merupakan identitas bangsa.
Ia juga mengapresiasi Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Bagi Harijanto, Gus Dur merupakan orang tuanya warga Tionghoa di Indonesia.
"Setiap haul Gus Dur kami berdoa bersama," ungkapnya.
Kepergian Alm Ny So Sioe Dwan, ibu dari Harjanto Halim pada 31 Agustus 2018 meninggalkan duka mendalam.
Lulusan S2 Bikin Usaha STMJ
Marimas dibuat tahun 1995. Tepatnya ketika selesai kuliah dari Amerika Serikat (AS) itu tahun 1990, lulusan teknologi pangan. Setelah pulang juga tidak langsung bekerja, mulai merintis usaha membuat susu telur madu jahe (STMJ), snack, buka agen air mineral sampai bumbu masak. Juga membantu usaha orang tua juga.
"Saat itu saya melihat produk minuman kemasan rasa jeruk. Tapi bentuknya sirup dalam botol dan gelas plastik. Saya merasa kalau sirup di botol itu kan ribet ya, mau beli harus tukar botol, rawan dikerubungi semut dan takut botolnya pecah," katanya.
Nah kemasan saset ini di teknologi pangan kan lebih ke arah efisien dan ringkas. Jadi satu kali seduh cocok untuk satu gelas, kalau sirup kan satu botol bisa untuk 7-8 gelas.
Tahun 1995 itu minuman serbuk seperti barang baru. Harjanto Halim menawarkan ke pasar-pasar, ke bakul-bakul. Susah memang, tapi dia menjelaskan ke mereka kalau produk ini seperti jamu, diseduh satu gelas. Mereka nggak percaya, masa minuman begini bisa diseduh kayak jamu.
Tapi Harjanto Halim gigih dan terus menawarkan ke pasar-pasar dan ke warung-warung. Saat itu ia kasih contoh gratis. Bahkan kala itu sempat menawarkan dengan menggunakan pengeras suara. Seperti pedagang obat.
"Saya ajak bapak-bapak kumpul. Memang sih, paling enak menjual dengan bapak-bapak. Selain kasih sampel juga mereka nggak pernah nawar kalau beli ha ha ha. Saya turun ke pasar-pasar juga karena mau tau perilaku konsumen itu seperti apa," tuturnya mengenang masa lalu.
Modal Membangun Marimas
Waktu itu secara kasar sekitar Rp 100 jutaan. Waktu itu Harjanto Halim menggunakan uang hasil perputaran usaha yang lain seperti waktu jadi agen air mineral dan usaha sebelumnya. Itu untuk operasional dan produksi semuanya dari situ.
Seiring berjalannya waktu, Marimas kan mulai dikenal masyarakat. Banyak yang konsumsi. Tahun 1997 mulai iklan nih. Mulai datang agency iklan menawarkan pemasangan iklan. Akhirnya Marimas terus berkembang dan bertahan hingga sekarang.
Mengembangkan Usaha
Sekarang Marimas juga punya produk makanan sehat seperti Kongbap. Lalu minuman herbal cap jangkrik mas. Itu sebenarnya usaha kecil yang diambil-alih
Kalau Kongbap itu sebenarnya terinspirasi waktu pulang dari Jepang. Di sana banyak multigrain kecil-kecil yang dijual, sama di Korea Selatan juga.
"Nah saya rasa di Indonesia itu bahannya ada semua. Akhirnya saya bawa dan saya kasih ke tim R&D saya mereka bilang, pak kok ini kayak makanan burung," katanya.
Kemudian saya bikin dulu prototipenya dicampur dan komposisinya seperti yang sekarang dijual di pasaran.
Sebenarnya multigrain itu bisa membantu menurunkan indeks glikemik pada nasi putih. Kalau beras putih GI nya sekitar 90%, beras merah 55%. Kalau pakai Kongbap bisa jadi 60% itu efektif.
Editor : Uways Alqadrie