KALTIMPOST.ID, Pesawat jet Boeing 737 MAX dengan corak cat maskapai dari Tiongkok mendarat di Bandar Udara Boeing Field Seattle, Amerika Serikat (AS), Jumat (18/4). Armada tersebut menjadi salah satu tanda dari dampak perang dagang.
Sebab, burung besi tersebut dikembalikan pemesannya, Xiamen Airlines. Menurut sumber di Reuters, pesawat tersebut merupakan salah satu dari beberapa armada yang sedang menunggu finalisasi produksi di fasilitas milik Boeing di Zhoushan, Tiongkok.
Belum ada pernyataan resmi dari pihak Boeing atau Xiamen Airlines. Namun, khalayak umum yakin pengembalian pesawat pesanan maskapai itu buntut dari perang dagang kedua negara. Industri maskapai merupakan salah satu sektor yang menikmati bebas bea ekspor impor selama satu dekade terakhir. Namun, panasnya perang tarif impor antara AS dan memicu kebingungan pelaku industri aviasi.
Baca Juga: Paus Franciskus Wafat, Ini Kesan dan Doanya Saat Berkunjung ke Indonesia dan Melihat Masjid Istiqlal
Sebenarnya, Boeing sudah mengirimkan beberapa pesawat ke fasilitas di Zhoushan pasca pengumuman tarif pertama Trump. Maret lalu, mereka mengirim tiga unit737 MAX. Kemudian, satu lagi pekan lalu. Namun, Jumat lalu satu pesawat diantar balik ke Seattle. ’’Rencana terbaru Boeing dan penyuplai sepertinya didasarkan pada asumsi mereka tidak bisa mengirimkan pesawat ke Tiongkok dalam sementara waktu,’’ ujar salah satu narasumber yang tak mau disebut.
Sementara itu, harga pesawat komersial semakin melonjak. Biaya produk yang sebelumnya sudah terdongkrak karena masalah rantai suplai kini makin mahal. Penyebabnya, perang tarif impor. Menurut sumber Agence France-Presse yang tidak ingin diungkap identitasnya, harga pesawat jet komersial sudah naik sebanyak 30 persen sejak 2018.
Baca Juga: Pernah Mengunjungi Masjid Istiqlal Jakarta, Menag Harap Wasiat Paus Fransiskus Ditindaklanjuti
Namun, harga tersebut bisa naik lebih lanjut. Mengingat, banderol bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi pesawat ikut terdongkrak setelah perang dagang jilid dua. ’’Produk seperti casting, forgings, dan apapun yang terbuat dari titanium bakal melambung,’’ ujar Richard Aboulafia, managing director dari konsultan aviasi AeroDynamic Advisory.
Aboulafia memperkirakan bahwa harga bahan baku pesawat naik sebanyak 40 persen sejak 2021. Itu sebelum Trump menerapkan tarif impor 25 persen untuk baja dan aluminium. Dua komoditas itu digunakan untuk produksi pesawat. “Sebenarnya ironis. Suplai sebenarnya tidak bermasalah namun Trump membuatnya bermasalah,’’ bebernya. (jpg/*)
Editor : Muhammad Rizki