KALTIMPOST.ID, MAGETAN- Pendaki Gunung Lawu sedang berduka. Sang Legenda, Wakiyem alias Mbok Yem meninggal dunia dalam usia 82 tahun pada 23 April 2025. Sejak 1980-an, Mbok Yem bersama suami yang lebih dulu meninggal dunia, merintis usaha membuka warung di puncak Gunung Lawu.
Warungnya hanya berjarak beberapa meter dari puncak Hargo Dumilah, puncak tertinggi Gunung Lawu. Satu-satunya warung di puncak gunung pada saat itu.
Bernostalgia dengan warung miliknya di puncak Gunung Lawu, Mbok Yem memang menyediakan sejumlah makanan untuk para pendaki yang singgah ke warungnya. Entah sudah berapa banyak pendaki gunung yang singgah di warung Mbok Yem.
Kalau setiap minggu rata-rata 300 orang singgah, selama 45 tahun mencapai 648 ribu orang yang dilayani Mbok Yem.
Salah satu menu andalan dari warung Mbok Yem adalah nasi pecel telur ceploknya, harga seporsi dari nasi pecel komplit tersebut adalah Rp 15 ribu. Selain itu ada juga menu andalan lainnya yakni nasi soto. Menikmati satu piring nasi pecel atau satu mangkok soto hangat dengan pemandangan menakjubkan di Gunung Lawu tentu menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Menjadi warung satu-satunya di Gunung Lawu tentu saja warung Mbok Yem tak pernah sepi pengunjung. Para pendaki harus sabar mengantre untuk mendapatkan sajian dari Mbok Yem.
Lokasinya Warung Mbok Yem juga terbilang strategis, tepat berada di pertemuan tiga jalur pendakian via Cemoro Sewu, Comoro Kandang, dan Cetho. Para pendaki yang berbeda jalur pun bisa bertemu di warung berusia 3 dekade lebih ini.
Di sela-sela kesibukannya, Mbok Yem terkadang melayani pendaki yang meminta foto bersama. Sebagai tanda kenangan telah menginjakkan kaki di warung legendaris ini. Ya, Mbok Yem dan kedai sederhananya ini memang membekas di hati para pendaki Gunung Lawu.
Bagaimana tidak, wanita lanjut usia ini sudah mendirikan warung ini sejak 1980-an silam. Dulunya, pemilik nama asli Wakiyem seorang peracik jamu tradisional yang mencari bahan-bahan di puncak Lawu.Namun hatinya tersentuh setelah bertemu dan berinteraksi dengan pendaki.
Ia memutuskan untuk tinggal di kawasan Argo Dalem tepat dibawah puncak Gunung Lawu. Membuka warung untuk membantu kebutuhan logistik pendaki yang kekurangan. Memilih menghabiskan sebagian besar hidupnya di gunung. Ia bahkan hanya turun gunung setahun sekali saja saat lebaran.
Letak warung Mbok Yem berada 3.150 mdpl, membuat Warung Mbok Yem dinobatkan menjadi kedai tertinggi di Indonesia. Dari batu-batu yang tersusun, dan dinding-dinding kayu warung ini berdiri. Bagian depan warung terlihat penuh dengan stiker dari pendaki. Di atap warung terpasang benda persegi panjang berwana hitam dengan corak kotak-kotak sebagai panel surya.
Meski sederhana dan kecil, namun kedai ini menjadi primadona pendaki yang kelaparan di atas puncak Gunung Lawu, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur. Menyantap satu piring pecel lele dengan minuman hangat di tengah dinginnya udara Gunung Lawu.
Sejak pagi wanita dengan nama asli Wakiyem ini sudah berjibaku di balik bilik dapurnya, melawan dingin udara Gunung Lawu merasuk tubuh. Tangannya sibuk membuat adonan gorengan, telur, sayur mayur, menyiapkan kuah soto dan merebus air hangat. Melayani pendaki yang sedang keroncongan.
Minuman-minuman segar, satu baskom yang berisi gorengan, sayur rebus untuk pecel terhidang di warung ini. Tak perlu khawatir, aneka minuman hangat juga ada di warung ini. Siap menjadi teman tatkala dingin merasuk tubuh.
Berikut ini menu kenangan Mbok Yem yang akan selalu diingat pendaki gunung Lawu:
Nasi pecel
Seperti kuliner pecel pada umumnya, Nasi Pecel Mbok Yem ini biasa dilengkapi dengan tauge bihun dan potongan ayam gurih.
Memang terdengar seperti nasi pecel seperti umumnya, namun ketika menyantap menu kuliner ini di ketinggian 3000-an meter di Gunung Lawu, pengalaman yang didapatkan amat sangat berbeda dan berkesan. Satu porsi hanya Rp15 ribu-an.
Soto racikan Mbok Yem tak jauh berbeda ketika membeli 1 porsi soto di warung makan yang ada di bawah gunung.
Nasi, tauge, kol dan tentu potongan ayam goreng menjadi pelengkap untuk satu mangkuk soto Mbok Yem.
Sensasi yang ditawarkan saat menyantap soto di warung Mbok Yem jelas berbeda. Udara dingin yang membuat badan menggigil bisa sedikit reda ketika menyantap nasi soto ini.
Apalagi saat pendaki tiba malam hari dan kelaparan ingin menyantap makanan, pegawai atau Mbok Yem sendiri biasanya masih melayani ketika masih terjaga dari tidur.
Satu porsi soto biasanya dihargai berkisar Rp 10 ribu. Belum termasuk minuman atau camilan lain.
Mie instan
Hal itu juga dimanfaatkan oleh Mbok Yem di warungnya. Mie instan menjadi makanan favorit ketiga yang biasa dipesan oleh pendaki.
Seporsi mie di warung milik Mbok Yem saat itu dihargai sekitar Rp 10 ribu.
Gorengan
Meski bukan makanan berat, gorengan di tengah situasi dan kondisi alam yang dingin menjadi makanan darurat untuk perut lapar.
Warung Mbok Yem memanfaatkan gorengan ini menjadi menu yang selalu ada bagi para pendaki. Meski pun tak jarang para pendaki menyantap gorengan, sembari memesan soto hangat.
Minuman
Minuman di warung Mbok Yem menjadi pelengkap saja. Teh hangat, kopi dan minuman panas lain sudah tentu menjadi pilihan pendaki untuk mengurangi rasa dingin gunung.
Meski begitu, Mbok Yem selalu membawa stok banyak untuk minuman, karena tahu sebagian pendaki berniat ke puncak Gunung Lawu untuk menikmati pemandangan sembari menenggak minuman.
Editor : Uways Alqadrie