Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Meski Diblokade Israel, Selalu Ada Cara Bantuan Masuk ke Gaza! Dua Juta Warga Palestina Terancam Kelaparan

admin redaksi • Senin, 28 April 2025 | 16:57 WIB

SAMPAI: Bantuan masyarakat Indonesia yang dihimpun oleh Yayasan Damai Aqsha Samarinda sampai dengan baik kepada yang berhak menerima di Gaza, Palestina.(Dok Damai Aqsha)
SAMPAI: Bantuan masyarakat Indonesia yang dihimpun oleh Yayasan Damai Aqsha Samarinda sampai dengan baik kepada yang berhak menerima di Gaza, Palestina.(Dok Damai Aqsha)

Di tengah gempuran rudal dan gemuruh tank Israel, Gaza tidak hanya berjuang untuk bertahan hidup, tetapi juga melawan kelaparan yang mematikan. Sejak awal 2025, blokade yang diberlakukan Israel semakin brutal. Menurut laporan Al Jazeera (10 April 2025), lebih dari dua juta warga Gaza kini menghadapi ancaman kelaparan ekstrem, dengan pasokan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar yang nyaris dihentikan total.

Bahkan, Anadolu Agency juga mencatat, Israel secara terang-terangan menolak mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza, bahkan satu butir gandum pun tidak diperbolehkan melewati perbatasan. Pernyataan ini dilontarkan langsung oleh Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, pada Maret 2025.

"Bahkan sebutir gandum pun tidak akan masuk ke Gaza," kata Smotrich dalam pernyataan yang dibawa oleh harian Israel Yedioth Ahronoth.

Kondisi di perlintasan Rafah dan Kerem Shalom pun tidak jauh lebih baik. Middle East Monitor melaporkan bahwa meski tekanan internasional menguat, jumlah truk bantuan yang diizinkan masuk hanya 5 persen dari jumlah normal sebelum perang.

Melihat kenyataan ini, wajar bila sebagian orang di Indonesia ragu, bertanya dalam hati: "Apa iya, bantuan yang saya donasikan benar-benar bisa sampai ke Gaza?"

Namun, jawaban dari lapangan berkata lain: bantuan tetap bisa masuk. Allah Swt. punya banyak jalan yang kadang tidak bisa dijangkau oleh nalar manusia.

Bagaimana Bantuan Bisa Tetap Masuk ke Gaza?

Alhamdulillah, kesulitan memang ada, namun upaya menyalurkan bantuan ke Palestina tetap berjalan dengan berbagai cara. Bantuan bisa disalurkan lewat kerja sama dengan pemerintah Mesir, lembaga kemanusiaan lokal di Gaza, maupun secara langsung melalui relawan yang berada di wilayah tersebut.

Kami melakukan semua upaya, termasuk melalui relawan yang sudah dibina sejak 2021. 

Saat ini, hampir semua jalur bantuan memang bisa dilalui, namun sangat dibatasi dan dipersulit oleh Israel. Truk bantuan harus melalui pemeriksaan ketat, seringkali tertahan berhari-hari. Di tengah hambatan ini, jalur tim relawan lokal menjadi kunci utama untuk mengalirkan bantuan secara lebih fleksibel.

Adapun jenis bantuan yang paling memungkinkan untuk masuk saat ini adalah makanan pokok dan obat-obatan. Dua hal ini menjadi prioritas, mengingat sebagian besar warga Gaza mengalami kelaparan parah, sementara yang lainnya bertahan hidup dengan luka-luka akibat serangan.

Dengan ragam upaya, Alhamdulillah, kamu menemukan dua jalur enyaluran bantuan. Jika lewat jalur resmi, harus bermitra dengan lembaga resmi di Mesir, lalu distribusi dilakukan ke Gaza melalui koordinasi lintas batas. Namun, jalur yang paling efektif adalah dengan mengirim dana ke tim lokal di Gaza, yang kemudian membelanjakan kebutuhan sesuai prioritas dan menyalurkannya langsung ke masyarakat.

Tantangan terbesar dalam proses ini adalah minimnya koordinasi akibat pembatasan listrik dan internet. Selain itu, biaya logistik melonjak tajam karena keharusan menukar uang ke mata uang asing di tengah fluktuasi nilai tukar yang parah.

Ada juga tantangan dalam pengadaan bahan-bahan pokok. Makanan, pakaian, hingga obat-obatan sangat sulit ditemukan di Gaza saat ini. Meski demikian, strategi tim lokal, dengan distribusi langsung dalam skala kecil, berhasil mengatasi kebuntuan.

Semua bantuan yang disalurkan tetap terpantau melalui laporan akuntabilitas berupa foto, video, dan data jumlah penerima manfaat. Relawan lokal menjadi ujung tombak distribusi karena mereka mengenal medan, memahami situasi, dan dapat bergerak cepat tanpa harus menunggu jalur besar dibuka.

Selama Berusaha, Jalan Senantiasa Terbuka

Meski jalur darat seringkali ditutup atau diperlambat, dunia tidak tinggal diam. Beberapa negara mencoba menyalurkan bantuan melalui jalur udara, menerjunkan paket makanan dan obat dari pesawat. Bahkan, konvoi bantuan dari organisasi kemanusiaan internasional juga tetap berusaha masuk dari berbagai arah.

Middle East Monitor melaporkan bahwa upaya pengiriman bantuan udara telah dilakukan oleh beberapa negara Arab dan Barat, meski tak selalu mulus. 

Ada yang berhasil mencapai warga Gaza, ada pula yang harus kembali karena dihalangi sistem pertahanan Israel. (Sumber)

Di tengah semua ini, fakta tetap berbicara: bantuan tetap mengalir. Sedikit demi sedikit, dari tangan-tangan yang tidak menyerah, dari hati-hati yang percaya bahwa rezeki Allah lebih kuat dari semua pagar berduri yang dibangun manusia.

Kondisi di Gaza hari ini jauh dari kata mudah. Namun, menyerah bukan pilihan. Selama masih ada anak kecil yang menahan lapar, selama masih ada ibu yang menangis di reruntuhan rumahnya, maka selama itu pula, kita punya kewajiban untuk terus berbuat.

Bantuanmu mungkin tampak kecil, tapi di Gaza, itu bisa berarti sepotong roti di tangan seorang anak, segelas air untuk seorang ibu yang hampir pingsan, dan sekantong tepung yang membuat satu keluarga bertahan sehari lebih lama.

Kalau hari ini kamu masih ragu apakah bantuan bisa sampai ke Gaza, ketahuilah: Allah tidak pernah membiarkan kebaikan sia-sia. Jangan takut untuk terus membantu. Setiap rezeki sudah Allah jamin bagi setiap hamba, termasuk bagi warga Gaza, mustahil blokade buatan manusia mampu menghalaunya.

Penulis: Noor Hafidz

Yayasan Damai Aqsha Samarinda untuk Kaltim Post

Editor : Uways Alqadrie
#palestina #jalur gaza #Israel