Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Jejak Spiritual di Bumi PPU, Menguak Kisah Syekh Mujrar dari Pakistan dan Keagungan Masjid Al-Ikhlas

Ari Arief • Kamis, 1 Mei 2025 | 14:14 WIB
WISATA RELIGI: Masjid Agung Al-Ikhlas di Kelurahan Nipahnipah, Kecamatan Penajam, dan makam tua di Gersik, Kecamatan Penajam, PPU yang kini menjadi destinasi wisata religi.
WISATA RELIGI: Masjid Agung Al-Ikhlas di Kelurahan Nipahnipah, Kecamatan Penajam, dan makam tua di Gersik, Kecamatan Penajam, PPU yang kini menjadi destinasi wisata religi.

KALTIMPOST.ID, Siapa menyangka, di tengah hamparan hijau Kaltim, tepatnya di kawasan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), tersembunyi jejak-jejak spiritual yang siap menyentuh kalbu para pelancong.

Lebih dari sekadar keindahan alam, daerah ini menyimpan kekayaan wisata religi yang unik, mulai makam seorang tokoh agama yang dipercaya berasal dari jauhnya Pakistan, hingga kemegahan masjid bersejarah yang menjadi denyut nadi kehidupan beragama masyarakat setempat.

Sebuah penemuan menarik terselip di rimbunnya hutan Gersik di Kecamatan Penajam, PPU.

Di sini, bersemayam sebuah makam tua yang diyakini sebagai peristirahatan terakhir Syekh Mujrar, tokoh agama yang dipercaya datang dari Pakistan.

Kisah kedatangan dan perjuangan tokoh ini hingga kini belum sepenuhnya terungkap, namun keberadaan makam ini telah menjadi daya tarik tersendiri.

Bagi sebagian warga lokal dan para peziarah yang datang dari berbagai tempat, makam Syekh Mujrar bukan sekadar situs bersejarah, tetapi juga sebuah jendela untuk menelusuri jejak penyebaran Islam dan interaksi budaya di masa lampau.

Aura khusyuk dan tenang yang menyelimuti area makam memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi setiap pengunjung yang datang.

Tak jauh dari kesunyian hutan Gersik, berdiri megah Masjid Agung Al-Ikhlas di Kelurahan Nipahnipah, Kecamatan Penajam.

Masjid dibangun dengan biaya lebih dari Rp 100 miliar itu bukan sekadar bangunan untuk tempat ibadah, melainkan juga pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat Penajam.

Keindahan arsitekturnya yang memukau berpadu dengan suasana kekeluargaan yang hangat, menjadikan masjid ini sebagai tempat yang nyaman untuk beribadah sekaligus mempererat tali silaturahmi.

Momentum-momentum penting seperti perayaan halalbihalal seringkali digelar di masjid ini, menjadi saksi bisu kebersamaan dan persaudaraan umat Islam di PPU.

Kombinasi antara makam tua di Gersik yang penuh misteri dan Masjid Agung Al-Ikhlas yang sarat akan nilai kebersamaan menawarkan sebuah pengalaman wisata religi yang berbeda.

Para pelancong tidak hanya disuguhkan dengan nilai-nilai sejarah dan keagamaan, tetapi juga diajak untuk merasakan kedamaian spiritual dan kehangatan interaksi sosial masyarakat setempat.

Abdul Rasyid, ketua RT 04 Gersik, Kecamatan Penajam, PPU, mengatakan, makam tua itu pada 2024 telah dipugar pihaknya dengan dana bersumber dari donatur.

Makam yang ditemukan pada 2012 itu saat ini dirawat oleh masyarakat sehingga memudahkan warga untuk berziarah.

Peziarah tidak hanya penduduk lokal saja melainkan juga dari luar daerah.

“Biaya memugar berkisar Rp 50-60 juta. Dana itu berasal dari penyumbang yaitu dari Bapak Hendrik Eka Bahalwan (kapolres PPU kala itu), Dalle Roy Bastian, saya, dan Andre,” kata Abdul Rasyid.

Dikatakannya, penemuan makam tua oleh masyarakat setempat itu diperkuat dengan “kesaksian” seorang tokoh agama dari Surabaya, Jatim, Muhammad Zamhuri Nur atau yang akrab dipanggil Gus Muh.

Ia yang sempat datang ke Gersik, mengatakan, bahwa sesuai isyarat yang diterimanya menyebutkan ada makam tua berada di hutan Gersik.

“Beliau kemudian datang kemari dan menemukan tulisan di atas nisan pada makam tua itu tertera tulisan tahun 1373 masehi,” kata Abdul Rasyid.

Warga di Gersik meyakini Syekh Mujrar mengembangkan agama Islam sampai ke Kota Balikpapan.

Dia mengatakan, bagi wisatawan yang mencari perjalanan spiritual yang unik dan ingin menyelami lebih dalam jejak-jejak peradaban Islam di Kaltim, PPU adalah destinasi yang patut untuk dipertimbangkan.

“Bersiaplah untuk terhubung dengan masa lalu dan merasakan ketenangan jiwa di tengah keindahan alam Borneo,” katanya.

Editor : Hernawati
#tokoh agama #Syekh Mujrar #wisata religi