Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Melacak Akar Paser di PPU, Koreksi Sejarah Ungkap Struktur Kesultanan dan Tokoh Penting

Ari Arief • Kamis, 1 Mei 2025 | 17:40 WIB
PENINGGALAN: Museum Sadurengas ini berada di Kabupaten Paser, dan menyimpan berbagai peninggalan etnis dan Kesultanan Paser. Museum ini ramai dikunjungi, terutama, saat hari libur.
PENINGGALAN: Museum Sadurengas ini berada di Kabupaten Paser, dan menyimpan berbagai peninggalan etnis dan Kesultanan Paser. Museum ini ramai dikunjungi, terutama, saat hari libur.

KALTIMPOST.ID, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia merilis berkaitan dengan sejarah etnis Paser yang mendiami Kabupaten Paser dan Penajam Paser Utara (PPU) di Kaltim.

Dalam rilis itu disebutkan, bahwa wilayah PPU merupakan hunian Suku Paser Tunan dan Suku Paser Balik, yang berakar dari induk Suku Paser di Kabupaten Paser.

Sebelum terorganisir, kawasan ini diwarnai keberadaan kelompok-kelompok suku yang mendirikan kerajaan-kerajaan adat kecil di sekitar sungai dan teluk. Mereka hidup sebagai nelayan dan petani, mewarisi tradisi secara turun temurun.

Setiap kerajaan adat dipimpin oleh seorang raja atau ketua adat. Beberapa contohnya adalah pemerintahan adat Suku Adang di Teluk Adang, Suku Lolo di Muara Sungai Lolo, Suku Kali di Long Kali (semuanya kini masuk wilayah Paser), Suku Tunan di Muara Sungai Tunan (Penajam), dan Suku Balik di sekitar Teluk Balikpapan.

Suku Balik tercatat menjadi bagian dari Kerajaan Kutai Kartanegara (Kukar), sementara suku-suku lainnya berada di bawah naungan Kerajaan Paser.

Seiring waktu, kerajaan-kerajaan kecil ini perlahan menghilang akibat perpindahan penduduk ke pusat kerajaan atau pedalaman, bahkan beberapa lenyap tanpa jejak tertulis yang lengkap, menyisakan legenda di tengah masyarakat.

Sejak berdirinya Kerajaan Paser, wilayah Suku Adat Tunan dan Penajam menjadi bagian integralnya.

Dalam catatan raja-raja Paser, Tunan lebih dikenal sebagai Tanjung Jumlai. Karena strategisnya, Tanjung Jumlai dijadikan lokasi pembangunan armada perang Kerajaan Paser untuk mengamankan wilayah utara.

Keberadaan angkatan laut Kerajaan Paser tak lepas dari peran Petta Saiye, seorang bangsawan Bugis dari Sulawesi Selatan.

Ia membawa ahli dan pekerja untuk memodernisasi kapal perang Sultan Sulaiman Alamsyah.

Setelah setahun, Petta Saiye diperintahkan mencari persenjataan melalui barter rotan, getah, dan emas hingga ke Sulawesi Selatan.

Karena pasokan senjata Portugis menipis di sana, ia melanjutkan perjalanan ke Negeri Delly (Timor Leste) dan berhasil mendapatkan meriam, bedil, senjata, dan mesiu dari seorang pedagang Portugis.

Kapal-kapal perang yang diperoleh kemudian ditempatkan di beberapa pelabuhan, salah satunya di Pelabuhan Tanjung Jumlai Jaya (kini Desa Tanjung, PPU), dengan Panglima Aden Segara sebagai pemimpin.

Kedekatan dengan bangsawan Bugis ini membawa pengaruh signifikan bagi Kerajaan Paser dan wilayah di bawah kekuasaannya.

Meskipun kini Penajam, Nenang, Waru, dan sekitarnya masuk administrasi PPU, catatan sejarah Kerajaan Paser menegaskan bahwa daerah-daerah tersebut dulunya berada di bawah kepemimpinannya. Setiap anak sungai menjadi wilayah kekuasaan dengan pemimpin dari keluarga kerajaan yang bertugas mengumpulkan pajak.

Jejak kejayaan masa lalu ini masih dapat ditemukan dalam bentuk makam, sisa-sisa masjid, meriam, dan bungker yang tersebar di wilayah PPU.

Namun, rilis lama ini dikoreksi oleh Paidah Riansyah, tokoh adat Paser, PPU, Kamis (1/5). Menurut dia, Suku Paser Tunan itu tidak ada, namun yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Tunan dahulu dihuni dari berbagai subsuku Paser seperti Suku Paser Telake, Paser Adang, Paser Semunte dan suku Paser Balik yang merupakan pemilik tanah ulayat di sepanjang Teluk Balikpapan hingga Sungai Tunan hingga daerah Senipah, Samboja (Kukar) lalu ke barat hingga Kubar

Tidak hanya itu, Paser Kalimantan dan Paser Lolo itu juga bukan nama subsuku Paser tapi lebih ke nama  wilayah atau Kampung.

“Suku Paser Balik tidak memiliki kerajaan ,namun Suku Balik masuk ke dalam sistem kewilayahan di bawah daulat Kesultanan Paser,” kata Paidah Riansyah.

Disebutkannya, struktur Kesultanan Paser dahulu adalah raja/sultan yang berkuasa atas seluruh wilayah daulat Kesultanan Paser, namun di bawah sultan ada para pangeran yang ditunjuk sebagai penguasa setempat, yang mana dahulu ada sekitar 6-8 wilayah kepangeranan termasuk kepangeranan (adipati) Tana Balik yang ibu negerinya berada di Tanjung Jumlai.

Di bawah kepangeranan (adipati), lanjut dia, ada para punggawa dan di bawah para punggawa ada para pembakal lalu dibawahnya lagi ada para pengirak.

“Kemudian penyebutan Aden Segara itu salah tapi yang benar ialah Anden Segara. “Beliau panglima angkatan laut wilayah utara Kesultanan Paser kalau tak salah  saat kepimpinan Sultan Sulaiman Alamsyah (Aji Panji) tahun 1799-1811. Lalu, setelah itu panglima angkatan laut Kesultanan Paser wilayah utara digantikan oleh Aji Oko (atau familiar juga disebut Anden Oko). Kemudian di sekitar tahun 1900-1950  di Tunan ditunjuk Aji Natam bin Aji Sahbandar menjadi penguasanya yang kini makamnya ada di Jl. Logpon Waru Tua, Kelurahan Waru di Kecamatan Waru, PPU,” tegasnya. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#Klarifikasi sejarah Kalimantan Timur #suku balik #Tanjung Jumlai #Sejarah Suku Paser #Panglima Anden Segara #Kesultanan Paser