Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Penembakan Misterius di Samarinda! Ayunda: Pembunuh Dedy Diduga Pintar dan Merencanakan dengan Matang

Eko Pralistio • Senin, 5 Mei 2025 | 05:51 WIB
Polresta Samarinda memasang police line di depan ruko yang menjadi lokasi penembakan Dedy Indrajid Putra di Jalan imam Bonjol pada Minggu 4 Mei 2025. (FOTO: IST)
Polresta Samarinda memasang police line di depan ruko yang menjadi lokasi penembakan Dedy Indrajid Putra di Jalan imam Bonjol pada Minggu 4 Mei 2025. (FOTO: IST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kasus penembakan yang menewaskan Dedy Indrajid Putra, 35 tahun, di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Samarinda Kota, diduga kuat merupakan aksi yang telah direncanakan dengan matang. 

Pelaku disebut memiliki tingkat intelegensia yang cukup memadai, berpikir logis, dan mampu menyusun strategi secara sistematis.

Korban tewas setelah ditembak oleh orang tak dikenal saat baru saja keluar dari tempat hiburan malam (THM) dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari lokasi, sekitar 10 meter dari THM.

Penembakan itu terjadi sekitar pukul 04.20 Wita. Lalu, berdasarkan hasil autopsi yang dilakikan pihak kepolisian, Dedy mengalami luka tembak di lima titik, yakni dua di bagian dada kiri, satu di perut, dan dua dibagian belakang tubuhnya.

Informasi yang dihimpun Kaltim Post menyebutkan, pelaku sempat mondar-mandir di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Pelaku mengenakan jaket berlogo salah satu brand ojek online, helm, masker, sarung tangan, serta mengendarai motor. Semua atribut itu dipilih pelaku dengan difokuskan kepada warna hitam.

Penampilannya ini diduga sengaja dipilih untuk menyamarkan identitas dan menghindari kecurigaan publik.

Lalu, saksi di lokasi menyebutkan, pelaku sempat menembakkan senjata ke udara, baik sebelum maupun sesudah menyerang korban. Tindakan itu diyakini sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian warga.

Menanggapi kronologis tersebut, Psikolog asal Samarinda, Ayunda Ramadhani, mengungkapkan bahwa dari sudut pandang ilmu psikologi, aksi tersebut mengandung banyak indikator perencanaan dan kecerdasan pelaku.

“Saya tidak melakukan pemeriksaan terhadap tersangka, jadi ini murni analisis berdasarkan teori psikologi yang saya pelajari dan pengalaman memeriksa pelaku kasus kejahatan,” kata Ayunda saat diwawancarai Kaltim Post, Minggu (4/5).

Psikolog asal Samarinda, Ayunda Ramadhani
Psikolog asal Samarinda, Ayunda Ramadhani

Menurut Ayunda, dari kronologis kejadian terlihat bahwa pelaku telah mengamati dan mengincar korban sejak awal. Pelaku diduga melakukan observasi terhadap aktivitas korban, termasuk lokasi dan waktu kemunculannya.

Baca Juga: Pria Ditembak Mati di Samarinda! Dedy Indrajid Putra Tewas Usai Keluar dari THM Bersama Lima Anggota Keluarga

“Pelaku tampaknya tahu betul keberadaan korban di THM. Dia menunggu saat yang tepat, lalu menghampiri ketika korban keluar dan hendak menuju mobil,” ujarnya. 

Selain itu, ucap Ayu, pelaku menembak ke titik-titik vital di tubuh korban, yang menunjukkan pengetahuan tentang anatomi tubuh dan penggunaan senjata api. Hal ini, menurut Ayunda, mengindikasikan bahwa pelaku mungkin memiliki pengalaman dalam menggunakan senjata api.

“Ketepatan tembakannya menunjukkan kecenderungan perfeksionis. Pelaku tidak menembak secara acak. Titik yang disasar bisa mematikan dan itu terjadi dengan tepat, hingga menyebabkan korban tewas dengan cepat. Ini bukan tindakan impulsif, tapi diduga terencana,” jelasnya.

Ayunda juga mencermati kemampuan pelaku mengendalikan emosi di bawah tekanan. Setelah melakukan penembakan, pelaku tetap tenang, tidak panik, bahkan mampu mengelabui massa dengan menembak ke udara agar perhatian tidak langsung tertuju pada korban.

“Ini menunjukkan adanya kontrol diri. Umumnya, pelaku yang tak terbiasa akan panik atau gugup. Tapi pelaku ini justru tenang dan cepat menghilang dari lokasi,” tambahnya.¿

Meski tidak bisa memastikan apakah pelaku memiliki gangguan psikologis seperti psikopat atau antisosial, Ayunda menyebut bahwa tindakan pembunuhan ini mengindikasikan rendahnya empati pelaku terhadap sesama manusia.

“Pembunuhan adalah bentuk agresi kriminal. Jika dilakukan dengan penuh perhitungan tanpa penyesalan, bisa saja itu tanda kurangnya empati. Tapi untuk memastikan, tentu perlu pemeriksaan psikologis secara langsung,” ujarnya.

Bahkan, Ayunda menilai jaket yang dipakai pelaku bisa saja merupakan upaya manipulatif terhadap kondisi di sekitar TKP.

"Penggunaan jaket ojek online bisa jadi bentuk manipulasi untuk menyamarkan identitas," lanjutnya.

Namun, menurut dia, beda cerita jika kasus pembunuhan ini tidak didasari oleh diri sendiri, melainkan terdapat aktor di belakang layar yang mengendalikannya.

"Tapi apakah dia bertindak sendiri atau ada aktor intelektual lain, itu ranah penyidik. Pihak berwajib yang akan lebih mengetahui secara lengkap kondisi dan apa motif yang mendasari pelaku melakukan penembakan tersebut " tukasnya mengakhiri.

Editor : Uways Alqadrie
#Penembakan misterius di Samarinda #Pria ditembak mati di Samarinda #Polresta Samarinda