KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Selain banjir, ancaman longsor kini menjadi perhatian serius saat hujan deras melanda Kota Samarinda. Setiap kali hujan berintensitas tinggi turun, masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di wilayah rawan bencana.
Peristiwa longsor yang terjadi di Jalan Belimau Raya, RT 22, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, menyisakan duka yang mendalam. Tanah longsor dari lereng bukit menghantam lima rumah warga.
Dua rumah tertimbun sepenuhnya, satu rumah tertutup sebagian, dan dua lainnya mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
Dari rumah yang paling dekat dengan bukit, empat anggota keluarga menjadi korban. Mereka adalah Hamdana (50), ibu dari keluarga Nasrul (24), anak laki-laki, serta dua anak perempuan, Nurul Sakira (17) dan Fitri (14). Seluruh korban diduga tertidur saat longsor terjadi sekitar pukul 06.00 Wita.
Tim gabungan dari BPBD Samarinda, Basarnas, TNI, Polri, serta relawan dikerahkan ke lokasi kejadian. Dua unit ekskavator digunakan dalam proses pencarian. Jenazah Hamdana ditemukan sekitar pukul 15.10 Wita, disusul oleh Nasrul yang berhasil dievakuasi pada pukul 16.50 Wita dalam kondisi meninggal dunia. Dua korban lainnya masih dalam pencarian.
Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso mengungkapkan, kawasan perbukitan di RT 22 tergolong rawan longsor. Dari lima rumah yang terdampak, terdapat lima rumah lainnya di lereng bawah yang berisiko terdampak jika terjadi longsor susulan.
“Kami sudah mengimbau warga yang tinggal di kontrakan dan kos-kosan sekitar lokasi longsor untuk segera mengungsi demi keselamatan mereka,” ujar Suwarso, Senin (12/5/2025).
Menurutnya, struktur tanah yang labil serta kemiringan bukit yang curam menjadi penyebab utama kerawanan longsor. Berdasarkan analisis kajian lapangan, potensi longsor susulan di wilayah tersebut dikategorikan tinggi.
“Dalam peta kajian risiko bencana kami, kawasan ini termasuk zona dengan tingkat kerawanan longsor yang sangat tinggi,” tambahnya.
Selain itu, Suwarso juga mendapat informasi bahwa wilayah tersebut sebelumnya sudah dua kali mengalami longsor, namun belum menimbulkan korban jiwa. Longsor ketiga inilah yang kemudian memakan korban.
“Tanah di lokasi masih labil dan curam, dengan topsoil yang mudah bergeser. Potensi pergerakan tanah masih sangat besar,” pungkasnya.
Editor : Uways Alqadrie