KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Operasi pencarian korban tanah longsor di Jalan Belimau, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, resmi dihentikan. Dua korban terakhir yang sebelumnya dinyatakan hilang akhirnya ditemukan pada Selasa (13/5), seluruhnya dalam kondisi meninggal.
Termasuk seorang balita usia dua tahun yang dilaporkan tenggelam di Gang Saka, Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu, juga berhasil ditemukan. Tangis keluarga pun pecah saat tim SAR membawa jasad mungil itu ke mobil ambulans. Kepala BPBD Samarinda Suwarso menjelaskan bahwa potensi longsor masih tinggi.
Baca Juga: Banjir Belum Tuntas dan Semakin Meluas, 36 Titik Tergenang, BPBD Beberkan Penyebabnya
Struktur tanahnya pada permukiman di lereng curam, mudah bergerak, dan lapisan bawahnya sudah jenuh air. “Saat pencarian korban, pada lereng terlihat air terus mengalir dari dalam tanah. Ini sangat berisiko, apalagi ketika hujan,” ungkapnya.
Minimnya vegetasi memperparah kondisi. Tidak ada pohon besar yang bisa mengikat tanah. Bahkan, 16 titik longsor tercatat dalam insiden kemarin—sebagian besar dengan karakteristik serupa. “Jenis tanah di Kalimantan itu mayoritas berpasir dengan lempung di bawahnya. Air tidak terserap, hanya tertahan. Begitu tak kuat menahan, tanah bagian atas mudah longsor,” jelas Suwarso.
Sementara itu, banjir masih merendam sejumlah kawasan seperti Perum Bengkuring Raya dan Perum Griya Mukti. Waduk Benanga kini berstatus waspada, dengan ketinggian muka air 7,80. Di Kecamatan Loa Janan Ilir, disebutkan Suwarso banjir yang tidak biasa muncul disebut berasal dari limpahan air dari Purwajaya, Kukar.
Pemerintah pun mempercepat pembebasan lahan untuk pembangunan kanal yang menyalurkan air langsung ke Sungai Mahakam. “Pak wali minta pembayaran lahan segera dilakukan, supaya proyek kanal bisa dimulai secepatnya,” pungkasnya. (*)
Editor : Muhammad Rizki