KALTIMPOST.ID, Sore itu, Nurul Zafik masih sempat menerima pesan dari ibunya. Sederhana saja, permintaan untuk dibawakan kepiting hasil tangkapan dari empang. Sang ibu ingin makan malam bersama sekeluarga.
Namun, harapan kecil itu berubah menjadi duka paling dalam. Keesokan paginya, longsor besar meluluhlantakkan hunian mereka di Jalan Belimau Raya, RT 22, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara.
Empat anggota keluarganya tewas tertimbun tanah. Zafik selamat, tapi bukan tanpa luka, dia kehilangan ibu, kakak, dan dua adik sekaligus.
“Saya lagi di empang sama bapak waktu kejadian. Ibu sempat WA (whatsapp) sore sebelumnya, minta dibawakan kepiting,” ucapnya, Rabu (14/5).
Sang ibu, Hamdana (50), kakak pertamanya Nasrul (24), serta dua adiknya, Nurul Sakira (17) dan Fitri (14), ditemukan tak bernyawa di antara puing-puing rumah yang rata dengan tanah.
Longsor terjadi Senin pagi (12/5), sekitar pukul 06.00 Wita, usai hujan deras mengguyur kawasan itu sejak dini hari.
Permintaan sederhana dari sang ibu kini menjadi kenangan yang paling membekas.
Zafik tak menyangka itu adalah percakapan terakhir mereka.
“Ibu bilang, ‘Nak, bawakan kepiting ya. Kita makan malam rame-rame.’ Tapi saya belum sempat pulang, paginya semua sudah terjadi,” tuturnya .
Warga sekitar mengaku, malam itu hujan tanpa henti. Tanah di lereng belakang rumah korban sudah lama rawan longsor. Tapi tak ada yang menyangka bencana sebesar itu datang begitu cepat.
Keluarga Hamdana dikenal hangat dan sederhana. Hamdana adalah sosok ibu yang sabar. Sahrul si sulung dikenal bertanggung jawab, sementara dua adik perempuannya ceria dan berprestasi.
Kini, hanya Zafik, kakaknya yang lain Sahrul (20), dan sang ayah yang tersisa. Mereka bukan hanya kehilangan rumah, tapi kehilangan hampir seluruh dunia mereka.
“Yang paling berat bukan kehilangan barang atau rumah. Tapi kehilangan mereka semua sekaligus,” ujar Zafik dengan mata merah.
Pemerintah dan relawan sudah turun tangan. Evakuasi selesai hari itu juga, dan proses pemakaman langsung dilakukan.
Bantuan darurat dikirimkan, tapi luka yang ditinggalkan tak mudah sembuh.
Zafik kini hanya bisa mengenang pesan terakhir ibunya, bukan soal kepiting, tapi tentang cinta seorang ibu yang ingin makan malam bersama keluarga lengkap, untuk terakhir kalinya.
“Kalau saya tahu itu permintaan terakhir, saya pasti langsung pulang,” ucapnya pelan.
Editor : Hernawati