KALTIMPOST.ID, Di pagi yang seharusnya penuh suara tawa dan pelajaran, langit desa Oe Htein Kwin justru retak oleh suara mengerikan, bom dijatuhkan dari pesawat tempur.
Saat itu pukul 10 pagi waktu setempat, Senin (12/5), dan ruang kelas menjadi saksi bisu dari kekejaman yang sulit dimaafkan.
Dalam hitungan detik, 22 nyawa melayang. Sebagian besar atau 20 di antaranya adalah anak-anak yang tengah menuntut ilmu, dihantam serangan udara junta militer Myanmar yang mengabaikan janji gencatan senjata kemanusiaan. Ini bukan sekadar tragedi ini adalah luka yang sulit dilupakan oleh dunia.
Dilansir AFP pada Kamis (15/5), serangan bom itu terjadi di sebuah sekolah dasar di desa Oe Htein Kwin, sekitar 100 kilometer dari episentrum gempa 28 Maret lalu.
Baca Juga: Jangan Sampai Salah! Berikut Daftar Makanan yang Menyebabkan Asam Urat
Seorang guru berusia 34 tahun yang selamat berkata dengan suara parau, “Kami mencoba menyelamatkan anak-anak, tapi pesawat itu datang terlalu cepat dan langsung menjatuhkan bom.”
Ia meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan. “Saya belum bisa mendata semua korban. Orang tua panik, mereka berlarian membawa anak-anak mereka yang sudah tak bernyawa.”
Pasca serangan, suasana berubah menjadi pilu. Para orang tua menggali tanah keras dengan tangan mereka sendiri untuk menguburkan anak-anak yang telah mereka antar ke sekolah pagi itu dengan harapan.
“Atap logamnya remuk, dinding bata berlubang seperti disobek,” kata seorang saksi mata.
Baca Juga: Buah Kecil Berwarna Merah Ini Diam-Diam Mampu Cegah Infeksi Saluran Kemih
“Kami tidak menyangka, bahkan setelah gempa besar, ternyata yang membunuh mereka bukan bencana alam tapi sesama manusia.”
Pihak militer Myanmar membantah semua tuduhan. Dalam pernyataan resminya, mereka menyebut laporan itu “berita yang dibuat-buat” dan mengklaim tak pernah menyerang target sipil.
Namun dunia tak tinggal diam. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam.
“Sekolah harus tetap menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk belajar bukan untuk dibom,” kata juru bicaranya di New York.
Baca Juga: Myanmar Tetapkan Masa Berkabung Nasional 7 Hari Usai Gempa Dahsyat
Sementara itu, Uni Eropa mengeluarkan kecaman keras. “Kami merasa ngeri atas pembantaian ini,” ujar juru bicara Anitta Hipper lewat akun X.
“Pelaku kekejaman ini harus bertanggung jawab. Belasungkawa kami untuk keluarga korban.”
Sejak kudeta militer tahun 2021, Myanmar terjerumus dalam perang saudara yang tak kunjung usai.
Ironisnya, militer sempat mengumumkan gencatan senjata selama Mei ini demi memulihkan wilayah terdampak gempa bermagnitudo 7,7 yang menewaskan hampir 3.800 orang. ***
Editor : Dwi Puspitarini