Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Calhaj Tertua di Aceh, Berusia 1 Abad : Awan Dahlan Berhaji dengan Modal Kebun Kopi

Uways Alqadrie • Kamis, 15 Mei 2025 | 09:18 WIB
Awan Dahlan dan istrinya, Anan Dahniar yang berusia 95 tahun. (Foto: Kementerian Agama)
Awan Dahlan dan istrinya, Anan Dahniar yang berusia 95 tahun. (Foto: Kementerian Agama)

KALTIMPOST.ID, BANDA ACEH - Tahun ini usia Awan Dahlan sudah 100 tahun. Usia yang sudah sangat sepuh bagi ukuran orang Indonesia. Istrinya, Anan Dahniar juga sudah tua, 95 tahun.

Di rumahnya, di Tapak Moge Timur Kecamatan Kute Panang, Aceh Tengah, keduanya sumringah. Tentu saja, karena pasangan gaek ini akan berangkat ke tanah suci 20 Mei 2025 mendatang.

Awan adalah sapaan hormat dalam Bahasa Gayo untuk memanggail kakek, sedangkan anan sebutan untuk nenek. 

Dahlan merupakan jemaah haji tertua di Aceh tahun ini. Di usianya yang renta, Awan Dahlan masih tampak bugar, sehari-hari ia masih rutin ke kebun kopinya. 

Sejumlah daerah lainnya juga mempunyai jemaah haji berusia di atas 100 tahun. Sejauh ini berdasarkan data Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jabar, Sumbuk Soma Dikrama yang menginjak usia 108 tahun sepertinya menjadi yang tertua di Indonesia.

Daerah lainnya rata-rata tertua berumur tertinggi 107 tahun, seperti Sutiah binti Sunyoto (107) yang merupakan calon haji kloter 19 JKG atau kloter kelima asal Kabupaten Lampung Selatan.

Penglihatan Awan Dahlan terang, hanya sesekali memakai kacamata untuk membaca dan masih mengendarai motor ke kebunnya. Berbicara dengannya tidak harus berteriak, ia masih mendengar jelas.

"Yang lupa Bapak ni, ingatannya," ucap Dahniar, "kune kase, iso (entah gimana nanti, di sana--Arab)."

Tapi lupa ingatannya tidak parah, tidak sampai demensia yang membuatnya lupa arah rumah atau kebunnya.

"Paling waktu aja, dia lupa. Hmm. Mesti, ayo salat. Kalau udah lama-lama, akhirnya jadi enggak tahu," kata perempuan yang mempunyai sembilan orang anak tersebut.

Meski demikian, pasangan sepuh ini mengaku sudah siap untuk berangkat ke tanah suci. "Mudah-mudahan, masih sehat. Saya malah kepikiran sama yang dorong-dorong aja, saya pikir. Kan, ramai-ramai juga itu, iya kan?" ujar Dahlan membayangkan ketika di Masjidil Haram nantinya.

Baca Juga: Jamaah Kedapatan Bawa Rokok, Ini Sanksi dan Potensi Denda dari Otoritas Saudi

Berhaji dari Hasil Kopi

Awan Dahlan tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 3 Embarkasi Aceh. Ia akan berangkat bersama jemaah lainnya dari Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Banda Aceh.

"Alhamdulillah bisa mengunjungi ka'bah tiga kali. Berkah umur, Alhamdulillah," ujar kakek 12 bersaudara ini.

Dahlan sudah pernah melakukan umrah bersama istrinya. Setelah dua kali menginjakkan kaki di tanah suci, Awan dan Anan ini baru terpikir untuk mendaftar haji.

"Ulak umrah (pulang umrah) ni," ujar Dahniar sambil mengingat-ingat kembali tahun mereka pernah ke tanah suci.

Setelah pulang dari umrah yang kedua, barulah keduanya punya niat mendaftar haji.

"2017 pergi. 2018 berhenti, 2019 pergi lagi. Pulang umrah dua kalinya, terus daftar haji," kata Dahniar melanjutkan.

Di usianya yang senja, Dahlan dan Dahniar berangkat ke tanah suci berdua, sebagaimana pernah dua kali berumrah, juga berdua. Anak-anak tidak ikut mendampingi. Dari sembilan orang, baru dua anaknya yang sudah mendaftar haji.

"Dua kali umrah berdua. Alhamdulillah, nggak ada pisah-pisah. Berangkat haji, berdua," ucap Dahniar.

Keduanya mendaftar haji dari hasil kebun. Begitu pun umrah. Meski pun masih memiliki beberapa petak sawah warisan di kampungnya, Atang Jungket Kecamatan Bies Aceh Tengah, Dahlan mengaku dana yang digunakan untuk mendaftar haji semuanya dari hasil kebun kopi.

"Semuanya kebun, izin Allah. Dari kopi semuanya, kumpul-kumpul kami."

Ditanya berapa luas kebunnya, Dahlan hanya tertawa. "Sedikit," katanya tersenyum merendah.

Ia menunjuk satu kebun kopi di sekeliling rumahnya dan satunya lagi yang jauh.

Baca Juga: 20 Anak Tewas, Sekolah Dibom Junta Myanmar saat Gencatan Senjata

"Satu di bawah, jauh bang, ada satu kilo (jaraknya)," ujar Munawar, anak bungsunya yang berusia 42 tahun.

Menurut Munawar, dari kebun tersebut bisa menghasilkan 30-40 kaleng sekali panen. Satu kalengnya kalau digabahkan sekitar 4 bambu (sekitar 1,2 kg).

"Itu sekali panen, dua minggunya (kemudian) panen lagi," ujarnya.

Di musim panen, jelas Munawar, dari Oktober sampai Januari bisa mencapai 10 kali panen. Sementara di Februari-Maret agak kurang. "Tapi yang ini mau putus, bulan sembilan (September) lagi nanti."

Dahlan bercerita, akhir tahun lalu hasil kebunnya mencapai 60 kaleng sekali panen. Hasil kebun itu digunakan untuk melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji ketika namanya diumumkan sebagai jemaah yang berhak melunasi di tahun ini.

"Pelunasan sekali terus, enggak ada cicil-cicil, Insyaallah, lancar," kata Dahlan.

Prioritas Haji untuk Lansia

Pasangan sepuh ini sebenarnya tidak menyangka akan berangkat haji tahun ini, karena baru mendaftar haji 5 tahun lalu. Namun takdir berkata lain, mereka termasuk dalam kuota prioritas khusus jemaah lansia.

Mungkin ini jawaban dari doa-doa Anan Dahniar setiap kali salat, baik di rumahnya maupun di Makkah dan Madinah ketika umrah.

"Habis ini, panggil ya Allah. Mudahkan rezeki ku, ya Allah. Gitu tiap salat," ucap nenek tujuh bersaudara itu.

Awan Dahlan dan istrinya mendaftar haji pada November 2019. Kalau saja tidak masuk dalam prioritas lansia, ia harus menunggu hinga tahun 2044 untuk berangkat haji.

Editor : Uways Alqadrie
#Makkah Al Mukarramah #aceh #calon haji indonesia #ibadah haji