KALTIMPOST.ID, Di tengah hiruk-pikuk kehidupan pinggir jalan dekat SDN 014 Babulu, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), setiap harinya terlihat sosok Sholeh, 56 tahun, dengan setia menjajakan dagangan papedanya.
Dengan penghasilan yang tak menentu, terkadang hanya mengantongi Rp 30.000 dan tak jarang pula pulang dengan tangan hampa, terutama saat hujan, ia tak pernah patah arang.
Namun, di balik perjuangan kerasnya itu, tersembunyi sebuah impian mulia yang akhirnya terwujud tahun ini: berkurban di kampung halamannya, Sebakung Jaya, Kecamatan Babulu, PPU.
Kisah Sholeh menjadi sorotan sebagai teladan kedermawanan dan keteguhan hati.
Dengan segala keterbatasan finansial, ia menyisihkan sedikit demi sedikit keuntungannya, bahkan dari penghasilan yang tidak menentu.
Baca Juga: Beasiswa PPU 2025: Pendaftaran Dibuka, Cek Syarat dan Kategorinya!
Setiap rupiah yang ditabungnya adalah wujud dari niat tulusnya untuk menunaikan ibadah kurban.
"Alhamdulillah di tahun ini beliau ikut berkurban, inilah orang yang dermawan," ujar Kepala Desa Sebakung Jaya, Sajidin, dengan nada bangga.
Sajidin menambahkan, "Berkurban adalah suatu impian beliau. Berkurban tidak harus menunggu kaya, berkurban adalah membunuh sifat tamak terhadap dunia.
Bukan soal kemampuan secara finansial namun adalah kemauan untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta," ujarnya.
Pernyataan Kepala Desa Sajidin ini menegaskan bahwa ibadah kurban bukan sekadar masalah kemewahan materi, melainkan tentang ketulusan hati dan keinginan untuk berbagi serta mendekatkan diri kepada Tuhan.
Baca Juga: Ajang Kecantikan Kini Jadi Gerakan, Kelly Tandiono Pimpin Miss Universe Indonesia
Kisah Sholeh menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang bagi niat baik dan kedermawanan.
Ia telah menunjukkan bahwa dengan semangat dan niat yang kuat, impian sebesar apapun dapat diwujudkan.
“Semoga kisah Bapak Sholeh ini dapat menginspirasi banyak orang untuk tidak menyerah pada keadaan dan selalu berupaya menebar kebaikan, sekecil apapun itu,” katanya.
Sementara itu, seperti dilansir media ini sebelumnya, di Desa Sebakung Jaya Suasana guyub dan semangat kebersamaan begitu terasa di ini jelang perayaan Iduladha tahun ini, yang diperkirakan pada Juni 2025.
Baca Juga: Tersandung Hak Cipta, Lesti Kejora Dilaporkan Yoni Dores, Ini Responsnya
Warga muslim setempat telah menunjukkan solidaritas tinggi dalam menjalankan ibadah sosial melalui pelaksanaan kurban.
Sebanyak 20 ekor sapi dan 4 ekor kambing berhasil dikumpulkan dan disalurkan melalui dua masjid utama di desa tersebut.
Kepala Desa Sebakung Jaya, Kecamatan Babulu, PPU, Sajidin, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas partisipasi aktif warganya dalam ibadah kurban kali ini.
Ia merinci, dari total hewan kurban, 15 ekor sapi dan 4 ekor kambing direncanakan disembelih di Masjid Darul Muhajirin.
Sementara itu, 5 ekor sapi lainnya disalurkan ke Masjid Al Mujahidin. "Alhamdulillah, tahun ini masyarakat Sebakung Jaya kembali menunjukkan semangat gotong-royong yang luar biasa dalam berkurban,” kata Sajidin menginformasikan hal itu kepada Kaltim Post, Minggu (18/5).
Baca Juga: Puluhan Tahun Berjualan, Ayam Goreng Legendaris Ini Ternyata Nonhalal?
“Sebagian besar hewan kurban ini merupakan hasil patungan dari warga dan jamaah masjid," tambahnya.
Untuk hewan kurban sapi sebanyak 20 ekor itu dibeli dengan rerata harga Rp 18,5 juta per ekor.
Karena itu, lanjutnya, apabila dihitung akumulasinya untuk 20 ekor sapi itu seluruhya bernilai nominal sebesar Rp 370 juta, dan belum ditambahkan dengan besaran untuk 4 ekor kambing.
Sajidin menjelaskan bahwa rata-rata biaya patungan per ekor sapi mencapai Rp 18,5 juta itu menunjukkan tingginya kesadaran dan kemauan warga untuk berbagi dan menjalankan Sunnah Nabi Ibrahim AS.
“Partisipasi ini murni dari kesadaran warga untuk berkurban dan berbagi kebahagiaan di hari raya Idulfitri. Kami sangat mengapresiasi semangat kebersamaan ini," imbuhnya.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Healing: ASN IKN Turun ke Sawah, Wujudkan Kota Berkelanjutan Bersama Petani Lokal
Tradisi berkurban di Sebakung Jaya, kata dia, tidak hanya menjadi wujud ketaatan beragama, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Proses pengumpulan dana, pembelian hewan kurban, hingga penyembelihan dan pendistribusian daging kurban dilakukan secara bersama-sama oleh warga.
“Semangat guyub-rukun seperti inilah yang terus kami jaga di Sebakung Jaya. Ibadah kurban ini menjadi momentum untuk saling berbagi dan peduli terhadap sesama, terutama bagi mereka yang membutuhkan,” tuturnya.
Momentum Iduladha di Sebakung Jaya menjadi cerminan nyata bagaimana nilai-nilai keagamaan dan sosial berpadu harmonis dalam kehidupan bermasyarakat.
Semangat berkurban yang tinggi menjadi bukti kokohnya persatuan dan kepedulian di antara warga muslim desa tersebut. ***
Editor : Dwi Puspitarini