KALTIMPOST.id – Di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat, sebuah peringatan serius datang dari Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Dalam sebuah perbincangan podcast di program Endgame yang dipandu Gita Wirjawan baru-baru ini, SBY menyuarakan kecemasannya yang mendalam tentang kemungkinan pecahnya Perang Dunia III, dengan menunjuk tahun 2030 sebagai momen kritis yang perlu diwaspadai.
Kekhawatiran ini bukan sekadar firasat, melainkan didasarkan pada analisis strategis dari sebuah buku yang telah ia baca.
SBY secara terbuka mengungkapkan bahwa sumber kekhawatirannya berasal dari sebuah buku analisis militer dan geopolitik.
Menurutnya, buku tersebut secara gamblang memetakan skenario terjadinya perang besar yang berpusat di kawasan Asia Pasifik.
“Saya cemas dan terus terang khawatir kalau terjadi Perang Dunia Ketiga,” ujar SBY dalam podcast tersebut.
Baca Juga: Prabowo Subianto: AHY Berpotensi Mengikuti Jejak SBY Menjadi Presiden Indonesia
“Saya membaca sebuah buku yang menggambarkan tentang kemungkinan terjadinya great war di Asia Pasifik pada tahun 2030,” lanjutnya.
Pengungkapan ini memberikan bobot lebih pada peringatannya, menunjukkan bahwa analisis tersebut datang dari sumber yang kredibel di kalangan ahli strategi, bukan sekadar opini pribadi.
Meski begitu, SBY juga menggarisbawahi bahwa buku tersebut menyebutkan perang dahsyat itu masih bisa dicegah jika langkah-langkah yang tepat diambil oleh para pemimpin dunia.
Titik-Titik Panas Pemicu Perang di Asia Pasifik
Dalam analisisnya, SBY merinci beberapa titik panas (flashpoints) di kawasan Asia Pasifik yang berpotensi menjadi pemicu utama konflik berskala global.
Kawasan ini, menurutnya, adalah episentrum ketegangan yang paling mungkin meledak.
Beberapa isu krusial yang ia soroti antara lain:
- Ketegangan Semenanjung Korea: Konflik abadi antara Korea Utara dan Korea Selatan yang sewaktu-waktu bisa memanas.
- Sengketa Laut Cina Selatan: Klaim tumpang tindih antara Tiongkok dan beberapa negara ASEAN yang menjadi sumber friksi berkelanjutan.
- Rivalitas Kekuatan Besar: Meningkatnya persaingan strategis antara Tiongkok dan Jepang, serta tentunya dengan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
“Itu semua ada di kawasan kita,” tegas SBY, menekankan bahwa Indonesia berada di tengah-tengah potensi pusaran konflik tersebut.
Peringatan ini menjadi pengingat bahwa stabilitas regional tidak bisa dianggap remeh.
Geopolitik Global
Ramalan spesifik tentang tahun 2030 ini sejalan dengan pandangan SBY yang lebih luas mengenai kondisi dunia saat ini, yang ia sebut sebagai era "geopolitical global disorder" atau kekacauan tatanan geopolitik global.
Menurutnya, tatanan dunia yang ada saat ini sudah tidak lagi efektif dalam mencegah konflik dan menegakkan keadilan.
Dengan adanya peringatan berbasis analisis ini, SBY secara tidak langsung mendorong para pemimpin saat ini, baik di Indonesia maupun di tingkat global, untuk tidak hanya menjadi penonton tetapi juga proaktif mencari solusi diplomatik demi mencegah ramalan buruk tersebut menjadi kenyataan.
Dunia, menurutnya, masih punya pilihan untuk berbelok dari jalan menuju kehancuran. (*)
Editor : Erwin D. Nugroho