Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Dunia Terancam Krisis Energi Global

Uways Alqadrie • Selasa, 24 Juni 2025 | 11:44 WIB
Peta Selat Hormuz. (Foto: inilah.com)
Peta Selat Hormuz. (Foto: inilah.com)

KALTIMPOST.ID, TEHERAN — Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas menyusul serangan terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran, yaitu Fordow, Natanz, dan Isfahan. 

Sebagai reaksi keras, Teheran mengancam akan menutup Selat Hormuz—jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak global.

Ancaman tersebut kini semakin mendekati kenyataan. Pada Minggu (22/6/2025), Parlemen Iran dikabarkan telah menyetujui usulan penutupan total selat tersebut. 

Namun, keputusan akhir masih menunggu persetujuan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Jika langkah tersebut benar-benar diambil, dampaknya dipastikan akan mengguncang pasar energi global. Berdasarkan data dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), sekitar 20,5 juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz setiap harinya—setara dengan sepertiga dari total perdagangan minyak dunia.

Negara-Negara Paling Rentan

India menjadi salah satu negara yang berpotensi terdampak parah. Sebagai importir minyak utama dunia, India memenuhi sekitar 85 persen kebutuhan minyaknya dari luar negeri, sebagian besar dari negara-negara Teluk yang bergantung pada jalur Selat Hormuz.

Krisis pasokan ini akan langsung memicu lonjakan harga energi domestik, menekan anggaran negara yang masih memberikan subsidi energi, dan mendorong inflasi. 

Menurut The Hindu Business Line, gangguan pasokan energi meski dalam jangka pendek pun dapat menghambat sektor industri dan transportasi secara signifikan. Cadangan minyak strategis India pun diperkirakan hanya mampu menopang kebutuhan kurang dari satu bulan dalam situasi darurat.

Sementara itu, Tiongkok, sebagai konsumen minyak terbesar kedua dunia, juga berada dalam posisi rentan. Hampir separuh dari konsumsi harian minyaknya yang mencapai lebih dari 14 juta barel berasal dari kawasan Teluk.

Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan gas alam cair (LNG), memperlambat pemulihan ekonomi pasca-pandemi, dan mengganggu rantai pasok industri. 

South China Morning Post menyebutkan, jika situasi ini berlarut lebih dari dua minggu, Beijing bisa saja memberlakukan pembatasan energi pada sektor industri tertentu serta mempercepat upaya diversifikasi energi, termasuk melalui proyek Jalur Sutra Energi.

Krisis Energi Dunia di Ambang Pintu

Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, selama ini menjadi jalur utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasi jalur sempit ini, yang lebarnya hanya sekitar 33 kilometer pada titik tersempit.

Jika penutupan benar-benar terjadi, harga minyak dunia diperkirakan akan melonjak tajam. Laporan Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent bisa menembus angka US$ 100 per barel dalam skenario gangguan ringan, dan bisa melonjak hingga US$ 110 jika penutupan berlangsung hingga sebulan.

Data perdagangan pada awal pekan ini menunjukkan minyak mentah Brent naik sebesar US$ 1,92 atau 2,49 persen ke level US$ 78,93 per barel. 

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turut menguat US$ 1,89 atau 2,56 persen ke angka US$ 75,73 per barel. Bahkan, dalam perdagangan kontrak berjangka, harga sempat menembus US$ 81,40 untuk Brent dan US$ 78,40 untuk WTI—level tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Sejak meletusnya konflik pada 13 Juni, harga Brent telah meningkat sekitar 13 persen, sedangkan WTI mencatatkan kenaikan hampir 10 persen. Padahal, dalam asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun 2025, harga minyak dipatok maksimal pada angka US$ 82 per barel.

Situasi ini menandai potensi krisis energi global jika jalur strategis Selat Hormuz benar-benar ditutup, dengan implikasi yang luas terhadap stabilitas ekonomi, terutama bagi negara-negara pengimpor minyak utama dunia.

Editor : Uways Alqadrie
#benjamin netanyahu #Perang Iran Israel #selat hormuz #iran israel #amerika serikat #donald trump