KALTIMPOST.ID-Dari Samarinda, Kepala Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah Bambang Styawan menyoroti peredaran gelap narkoba yang kini makin terorganisir karena menggiurkan secara bisnis.
“Bahan dari negara asal itu cuma sekitar Rp 20 ribu, sampai ke Indonesia bisa jadi Rp 1,5 juta. Bagi sebagian orang, ini peluang bisnis,” jelas Bambang dalam sebuah dialog interaktif di radio nasional bertema “P4GN menuju Indonesia Emas 2045” pada Rabu (25/6).
Ia menambahkan, 1 kilogram narkotika bahkan bisa bernilai hingga Rp1,5 miliar di pasaran. “Itu sangat memprihatinkan. Banyak orang dimanfaatkan bandar jadi kurir,” ujarnya.
Bambang menjelaskan bahwa daya adiktif membuat narkoba mudah menjebak orang dari berbagai kalangan. “Sifat adiktif itulah yang membuat orang terus mencarinya secara instan,” ucapnya.
Merujuk survei 2022-2023, Kaltim menempati peringkat ke-13 nasional terkait kasus narkoba. Meski begitu, Kaltim patut berbangga karena masuk peringkat kedua nasional dalam program Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). “Semoga ranking kasus tidak naik lagi,” harap Bambang.
Dalam catatan Indonesian Drug Report 2025, BNN memetakan sejumlah kawasan di Kaltim yang terindikasi rawan narkotika.
Di Balikpapan, kawasan daerah Baru Tengah masuk kategori bahaya. Sedangkan Gunung Sari Ulu kategori waspada.
Sedangkan di Samarinda, titik rawan antara lain Gunung Lingai, Loa Buah, Sungai Keledang, Sungai Pinang Dalam, Daerah Tenun, dan Handil Bakti. Beberapa masuk kategori waspada, sebagian lainnya kategori bahaya.
Bambang pun mengajak masyarakat untuk waspada dan berani melapor jika menemukan indikasi peredaran gelap narkoba di lingkungannya.
“Warga bisa laporkan ke BNNP atau BNNK terdekat. Jaga lingkungan terkecil, keluarga adalah benteng pertama,” pungkasnya. (rdh/rd)
Editor : Romdani.