Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Picu Stres hingga Ganggu Tumbuh Kembang Anak, Ini Dampak Ukuran Rumah Subsidi Jika Diperkecil

Nasya Rahaya • Selasa, 1 Juli 2025 | 07:01 WIB

Ayunda Ramadhani.
Ayunda Ramadhani.

KALTIMPOST.ID, Pemerintah melalui Kementerian PKP berencana mengurangi luas rumah subsidi. Rencana ini tertuang dalam draf Keputusan Menteri PKP Nomor/KPTS/M/2025, yang saat ini masih dalam tahap konsultasi publik.

Dalam rancangan itu, batas minimal tanah menjadi hanya 25 meter persegi dengan bangunan seluas 18 meter persegi. Padahal, ketentuan saat ini yang tertuang dalam Kepmen PUPR Nomor 689/KPTS/M/2023 menetapkan luas tanah minimal 60 meter persegi dan bangunan minimal 21 meter persegi.

Menanggapi rencana tersebut, psikolog klinis dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Mulawarman, Ayunda Ramadhani menilai ukuran rumah subsidi yang baru terlalu sempit untuk disebut layak huni dari sisi psikologis. Terutama jika ditinggali oleh keluarga dengan anak.

“Yang paling terdampak tentu adalah privasi. Dalam rumah sekecil itu, nyaris tak ada ruang untuk mengekspresikan diri, kan susah melakukan kegiatan tanpa terdengar anggota keluarga lain. Nangis pun kedengaran, apalagi kalau buang air di kamar mandi yang bersebelahan langsung dengan ruang tidur,” kata dia.

Kondisi ini, kata Ayunda, dapat menjadi stresor, yakni pemicu stres yang berkelanjutan bila tidak ditangani. Tak adanya ruang pribadi membuat penghuni sulit mencari jeda untuk menenangkan diri saat konflik terjadi. “Jadi, konflik kecil bisa terakumulasi dan berubah jadi bom waktu,” ucapnya.

Ayunda juga menyoroti risiko bagi penghuni yang memiliki kecenderungan gangguan mental seperti klaustrofobia, alias fobia ruang sempit. Lingkungan yang sesak dan tanpa ventilasi yang memadai bisa memperparah kondisi tersebut.

Bagi anak-anak, dampaknya lebih kompleks. Ayunda menyebut ruang sempit menghambat perkembangan motorik dan kreativitas. “Anak-anak jadi sering dilarang lari-larian, bermain, atau berisik karena rumah terlalu sempit. Itu bisa menekan ekspresi mereka dan berujung tantrum,” katanya.

Keterbatasan ruang juga berpotensi mengganggu kualitas tidur dan ibadah. “Saya sudah lihat rancangan rumahnya, itu saking sempitnya itu saya pikir sholatnya di mana? Rasanya di kamar saja sangat sempit untuk sholat,” ujarnya.

Namun, Ayunda mengakui sebenarnya ada juga sisi positifnya. Rumah kecil memungkinkan interaksi keluarga lebih intens dan memperkuat dialog. “Tapi itu hanya jika komunikasi sehat dan tiap anggota keluarga saling memahami kebutuhan ruang masing-masing,” ujarnya.

Meski begitu, secara jujur Ayunda menilai rumah subsidi berukuran 25/18 hanya layak untuk pasangan baru menikah atau keluarga dengan satu anak berusia di bawah lima tahun. “Di atas usia itu, anak sudah butuh ruang sendiri. Tidur pun sebaiknya sudah terpisah dari orang tua,” tuturnya.

Sebagai solusi, ia menyarankan desain interior yang lebih efisien, tanpa sekat-sekat berlebih, serta penggunaan furnitur multifungsi. “Dan jangan lupa, imbangi hidup di ruang sempit dengan aktivitas luar ruang. Rumah tak harus memuat semuanya,” kata Ayunda.

“Kalau ditanya, sehatkah secara psikologis tinggal di rumah 25 meter? Saya jawab: bisa jadi tidak. Tapi semua tergantung bagaimana kita menata ruang, emosi, dan relasi dalam keluarga,” tutupnya. (*)

 

Editor : Muhammad Rizki
#rumah subsidi #rumah subsidi 18 meter persegi