KALTIMPOST.ID, PALEMBANG – Suasana haru menyelimuti ruang sidang Pengadilan Militer Palembang, Selasa (1/7/2025), saat keluarga para korban penembakan menyampaikan kesaksian dan unek-unek mereka di hadapan majelis hakim.
Istri dan ibu dari tiga anggota kepolisian yang tewas menyuarakan kepedihan atas kehilangan yang mereka alami serta keberatan terhadap narasi yang dinilai menyudutkan korban.
Sasnia, istri mendiang AKP Anumerta Lusiyanto yang menjabat Kapolsek Negara Batin, menyatakan kekecewaannya terhadap isu yang beredar mengenai dugaan suaminya terlibat dalam praktik setoran judi sabung ayam. Tuduhan tersebut, menurutnya, sering mencuat selama proses persidangan.
"Suami saya bukan seperti yang dituduhkan. Jangan lagi ada fitnah. Kami sudah cukup terluka. Saya tahu betul seperti apa suami saya. Bahkan hingga akhir hayatnya, beliau masih menjalankan ibadah puasa," ucap Sasnia dengan suara bergetar.
Ia juga menyampaikan bahwa dirinya sering mendampingi Lusiyanto dalam menjalankan tugas, termasuk saat menerima tamu di kantor Polsek.
"Saya yang menyiapkan teh dan kopi untuk tamu karena tidak ada office boy. Saya tahu siapa saja yang datang menemui suami saya," lanjutnya.
Kesaksian serupa juga disampaikan Milda Dwi Ani, istri dari almarhum Bripka Petrus Apriyanto. Dengan mata berkaca-kaca, Milda mengungkapkan duka mendalam yang ia rasakan.
Ia mengaku baru satu setengah tahun menikah dan kini harus membesarkan anak berusia enam bulan seorang diri.
"Suami saya adalah satu-satunya penopang keluarga. Saya hanya ibu rumah tangga. Bagaimana masa depan anak saya tanpa ayahnya?" tuturnya sambil menahan tangis.
Milda juga meminta agar terdakwa, Kopda Bazarsah, dijatuhi hukuman seberat-beratnya. "Saya ingin pelaku dihukum mati. Nyawa tidak bisa diganti dengan uang," katanya tegas.
Sementara itu, Suryalina, ibu dari almarhum Bripda Ghalib Surya Ganta, turut menyampaikan kesaksiannya. Ia menceritakan bahwa Ghalib merupakan anak bungsu dan menjadi harapan keluarga setelah ayahnya wafat sebulan sebelum tragedi terjadi.
"Setelah suami saya meninggal karena serangan jantung, hanya Ghalib yang jadi sandaran kami. Tapi dia pun direnggut secara kejam. Saat jenazah dikafani, masih terlihat darah keluar dari hidung, mata, dan mulutnya. Saya tidak sanggup melihat," ujar Suryalina dengan pilu.
Ia juga mendesak agar terdakwa dihukum mati.
Sidang ini menjadi titik emosional dalam rangkaian proses hukum yang menyita perhatian publik.
Keluarga korban berharap keadilan dapat ditegakkan secara maksimal terhadap pelaku penembakan yang telah merenggut nyawa orang-orang tercinta mereka.
Editor : Uways Alqadrie