Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dari Hutan Kalimantan ke Jepang: Pelajari Komponen Kecil Tanaman yang Disulap Jadi Mobil Ramah Lingkungan

Raden Roro Mira Budi Asih • Rabu, 2 Juli 2025 | 07:07 WIB
Teknologi berbasis kehutanan, yakni nanoselulosa yang mampu menciptakan kendaraan ramah lingkungan. (FOTO: IST)
Teknologi berbasis kehutanan, yakni nanoselulosa yang mampu menciptakan kendaraan ramah lingkungan. (FOTO: IST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Langkah Rezky Ramandha Christiansyah begitu mantap saat bertemu Heian Shrine di Kyoto, Jepang. Mengenakan kimono, ditemani pelajar Jepang yang dulu pernah dia sambut di Samarinda.

Seleksi International Student Exchange Program (ISEP) Forest Study Tour in Japan 2025 yang diikuti sejak November 2024 lalu, mengantarkannya jadi satu dari 12 pelajar beruntung yang bertolak ke Negeri Sakura pada akhir Juni lalu.

Program kolaboratif itu melibatkan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Kyoto University, Mie University, dan Kyoto Prefectural University sebagai tuan rumah. Disponsori oleh Hayashida Junpei Shoten Co. Perusahaan importir kayu, terutama ulin yang memang khas Kalimantan.

Baca Juga: Cek Ini! Tanoto Foundation Buka Program Magang ke Luar Negeri, Mahasiswa Unmul Mesti Daftar....

Dari hampir 200 pendaftar, pria yang karib disapa Mandha itu berhasil lolos seleksi yang mencakup seleksi berkas, unjuk bakat budaya, dan wawancara dalam Bahasa Inggris. 

“Ini sudah tahun ketiga, dan semakin banyak mahasiswa kehutanan yang tertarik mendaftar. Mendaftar karena memang direkomendasikan sama dosen, di sisi lain saya juga punya kemampuan bahasa Inggris dan bisa main wayang,” tuturnya.

Dia menceritakan, peserta wajib melewati tahapan panjang. Setelah seleksi berkas, dipilih 80 siswa untuk masuk ke tahap wawancara dan unjuk budaya. Dari sana, tersaring 25 siswa. 

Baca Juga: Kabar Gembira untuk Warga Kaltim! Gratispol SMA/SMK Dimulai Tahun Ini, Disdikbud Tunggu Regulasi Pergub

“Dipilih dan dilatih sebagai teman (pendamping) mahasiswa Jepang dari tiga universitas tadi yang datang ke Samarinda pas Februari kemarin,” papar pria kelahiran 2001 itu.

Dari situ, dosen kembali melakukan seleksi hingga akhirnya hanya 12 siswa terbaik yang diumumkan di awal Maret lalu untuk mengikuti kegiatan ke Jepang pada 13—25 Juni 2025.

Yang membuat Mandha menonjol adalah bakatnya dalam seni pewayangan, menjadi satu-satunya peserta yang menampilkan pertunjukan itu dalam sesi unjuk bakat. 

Dia juga dengan cukup tenang dan fasih menjawab pertanyaan saat sesi wawancara. Mulai dari alasan ingin ke Jepang, hingga apa yang akan dilakukan usai kegiatan jika terpilih.

Baca Juga: Kantor Sekretariat Islam Terpadu di IKN, Dukungan Banjir PPU Wacana MUI!

Pada tanggal 13 Juni, dia bertolak. Hari pertama petualangannya dimulai pada Senin 15 Juni. Mandha dan rekan-rekannya langsung disuguhi pengalaman budaya. 

Mereka mengenakan kimono dan menjelajahi Kuil Heian dan Nanzenji di Kyoto, didampingi mahasiswa Jepang yang sebelumnya pernah berkunjung ke Samarinda. “Jadi kami sudah saling kenal,” sebutnya lalu terkekeh.

Hari kedua, mengunjungi Kyoto Prefectural University sekaligus mengikuti perkuliahan tentang teknologi berbasis kehutanan. Salah satu materi kuliah yang membekas adalah presentasi dari Asisten Profesor Tanaka di Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) Kyoto University, bertema Driving Toward a Sustainable Society with Nanocellulose (NCV).

“Materi itu membuka wawasan kami.Bahwa dari tanaman, bahkan dari komponen terkecil nanoselulosa, bisa tercipta berbagai produk ramah lingkungan seperti mobil, drone, hingga pendingin ruangan yang lebih efisien dan hemat energi,” kata Mandha kagum.

Baca Juga: BSU 2025 Kenapa Belum Cair? Ini Jadwal Resmi, Penyebab, dan Cara Cek Status Penerima

Selain itu, mereka juga mengunjungi Xylarium di Wood Research Institute (hutan pendidikan) Kyoto. menyimpan lebih dari 15.000 sampel kayu dari 3.600 spesies. 

Di sana, mahasiswa mengikuti kuliah oleh Profesor Suyako Tazuro tentang hubungan antara manusia dan tumbuhan melalui studi identifikasi kayu. (Bersambung)

Editor : Uways Alqadrie
#Disdikbud Kaltim #study tour ke luar negeri #International Student Exchange Program