Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kisah Tragis Mahasiswa Cantik Devita Sari, Punya IPK 3,8 tapi Memilih Bunuh Diri: Isi Lengkap Surat Wasiat, Aku Capek Maaf

Uways Alqadrie • Rabu, 2 Juli 2025 | 19:24 WIB
Devita Sari Anugraheni dan surat wasiat yang kini viral di media sosial. (Foto: tangkapan layar)
Devita Sari Anugraheni dan surat wasiat yang kini viral di media sosial. (Foto: tangkapan layar)

KALTIMPOST.ID, SOLO – Kota Solo dikejutkan oleh kabar duka yang menyayat hati. Devita Sari Anugraheni (22), mahasiswi berprestasi dari Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Universitas Sebelas Maret (UNS), diduga mengakhiri hidupnya dengan melompat dari Jembatan Jurug ke aliran Sungai Bengawan Solo, Senin (1/7) sekitar pukul 12.00 WIB.

Tragedi ini menyebar luas di media sosial. Bersama dengan kabar kepergiannya, sebuah surat wasiat menyentuh hati yang ditulis tangan oleh Devita ikut viral dan memicu gelombang empati publik.

"Aku capek, maaf..."

Kalimat sederhana itu menjadi potongan paling menyayat dari surat wasiat yang ditemukan dalam tas Devita. Di sampingnya, tergeletak ponsel dan motor yang diparkir rapi di tepi jembatan—seolah semua telah direncanakan dengan tenang.

Dalam lembaran kertas yang ditulis dengan tulisan tangan itu, Devita menuangkan isi hatinya—jeritan sunyi yang barangkali selama ini tak pernah terdengar.

“Aku pergi ya. Jangan salahkan keluarga atau kampus. Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri…”

“Maaf untuk Bapak Dr. Sumardiyono, S.KM karena telah menghianati dan berjanji untuk bertahan… Aku capek, Bu. Maaf aku tak sekuat ibu.”

Surat itu menyebut nama Dr Sumardiyono, dosen sekaligus pembimbing skripsinya. Dalam pengakuannya, sang dosen tak sepenuhnya terkejut. 

Devita, katanya, pernah menyampaikan keinginannya untuk mengakhiri hidup setelah sidang skripsi. Namun saat itu, ia berpikir masalah tersebut bisa diselesaikan. Sayangnya, kenyataan berkata lain.

IPK 3,8 dan Skripsi Rampung: Potret Derita yang Tak Terlihat

Juru Bicara UNS, Prof Dr Agus Riwanto, mengonfirmasi bahwa Devita adalah penerima beasiswa KIP-K dan memiliki IPK tinggi, yaitu 3,8. Skripsinya telah rampung, dan ia tengah dalam proses administrasi untuk wisuda.

Dari luar, semua tampak sempurna. Tapi di dalam, Devita sedang berperang—melawan dirinya sendiri.

Tragedi ini menyadarkan banyak pihak bahwa angka akademik bukan jaminan kebahagiaan. Bahwa mahasiswa berprestasi pun bisa menyimpan luka, beban, dan kesedihan yang tak terlihat.

Detik-Detik Menegangkan di Jembatan Jurug

Seorang saksi mata, Hariadi, pengemudi ojek online, menyaksikan langsung momen memilukan itu. Ia melintas di Jembatan Jurug bersama penumpang ketika melihat seorang perempuan berdiri di pembatas jembatan.

“Saya sempat teriak, tapi dia langsung loncat. Kami hanya bisa terdiam, semuanya terjadi sangat cepat,” tutur Hariadi dengan nada terguncang.

Pencarian korban langsung dilakukan oleh tim SAR bersama BPBD. Arus sungai yang deras menyulitkan proses evakuasi.

Jeritan Sunyi dari Generasi yang Terlalu Kuat Menahan Luka

Kisah Devita bukan sekadar kabar tragis. Ini adalah potret nyata dari tekanan yang tak kasat mata—tekanan akademik, ekspektasi sosial, dan beban mental yang kerap dianggap remeh.

Surat wasiat Devita menyadarkan kita bahwa banyak anak muda yang tampak kuat, tapi sebenarnya sedang bertahan sendirian dalam kesunyian.

Kini, pertanyaan besar muncul: sudahkah kita cukup peka terhadap kesehatan mental di lingkungan kampus? Sudahkah kita benar-benar hadir saat teman atau mahasiswa kita berkata, "Aku capek"?

Catatan Redaksi

Jika Anda atau orang terdekat Anda sedang mengalami tekanan atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri, jangan ragu untuk mencari bantuan. Hubungi tenaga profesional atau layanan konseling yang tersedia. Anda tidak sendiri.

Editor : Uways Alqadrie
#jembatan jurug #Universitas Sebelas Maret surakarta #kota solo #Devita Sari Anugraheni