KALTIMPOST.ID, Praktik pengelolaan hutan dan pelestarian budaya di Jepang kembali membuka mata mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Mereka dibuat kagum dengan teknologi, kesadaran ekologis, dan integrasi budaya lokal yang dijumpai di berbagai wilayah Kyoto dan sekitarnya.
Perjalanan hari ketiga dimulai di kawasan Tanakamiyama, Perfektur Shiga. Para mahasiswa diperkenalkan dengan sistem pengendalian erosi di lereng-lereng hutan yang ditata rapi.
“Kami benar-benar takjub, mereka sudah memikirkan cara menanam ulang hutan dengan perhitungan matang. Kalau dibandingkan dengan kita, seolah-olah Jepang sudah 100 tahun lebih maju dalam hal rehabilitasi hutan,” ujar Rezky Ramandha Christiansyah atau Mandha.
Dari sana rombongan berlanjut ke salah satu log market, tempat penjualan kayu lokal. Menariknya, proses penjualan dilakukan dengan sistem lelang terbuka, di mana pembeli saling menawar.
Diketahui fakta bahwa pengelolaan hutan di Jepang banyak bersifat kepemilikan pribadi. Meski demikian, pelestarian tetap dijaga lewat regulasi yang ketat dan kesadaran masyarakat. Disebutkan Mandha, jika melanggar terkait pengelolaan hasil hutan bisa dibilang hukumannya akan sangat berat.
“Kalau di Indonesia hutan milik negara, di sini hutan milik pribadi tapi tidak sembarangan bisa dibabat. Ada keseimbangan antara bisnis dan pelestarian alam yang benar-benar diterapkan,” lanjutnya.
Hari itu ditutup dengan kunjungan ke desa pengrajin keramik, yang memperlihatkan peralihan dari tungku tradisional berbahan tanah liat ke tungku modern yang lebih ramah lingkungan. “Ini bukti Jepang bisa memadukan teknologi modern dengan kearifan lokal tanpa menghilangkan akar budayanya,” tambah pria asal Berau tersebut.
Di hari keempat, dia dan rekan-rekannya mengunjungi Kitayama Cedar, perusahaan yang khusus menjual kayu log jenis cemara. Biasa digunakan untuk pilar bangunan tradisional Jepang seperti toko ramen atau kedai teh. Bahkan di sana, dia juga coba praktik membuat sumpit.
Setelah itu, peserta diajak ke perusahaan yang memproduksi papan kayu siap pasang. “Yang mereka pikirkan adalah detail terkecil. Bahkan bagaimana potongan kayu bisa siap pasang, gitu. Ada kisi-kisinya. Jadi bikin rumah kayak bikin lego,” sebutnya.
Hari itu diakhiri dengan menginap di kawasan hutan pendidikan Kyoto University. Diakui Mandha, suasananya sangat berbeda dengan hutan pendidikan di Fakultas Kehutanan Unmul. Hutan tersebut didominasi pohon cemara (monokultur) dan dikelola dengan sangat rapi serta sistematis. Dia tak henti dibuat kagum dengan budaya dan kebiasaan masyarakat Jepang.
"Jadi kami belajar disiplin juga. Kebiasaan-kebiasaan mereka. Kayak penginapan di hutan pendidikan itu setiap ruangan benar-benar dipikirkan dan memiliki fungsi detail," jelasnya bersemangat.
Hari kelima diisi dengan kegiatan mengenal jenis-jenis pohon di kawasan hutan pendidikan, sebelum berlanjut ke desa tradisional. Di sana, peserta diajak mempelajari arsitektur rumah adat Jepang yang masih bertahan.
Menariknya, atap rumah tradisional di desa itu menggunakan daun rumbia, mirip seperti yang ada di rumah-rumah tradisional di Indonesia. Kegiatan sore ditutup dengan kunjungan ke kuil ikonik Jepang, Kinkaku-ji (Golden Pavilion), sebuah bangunan bersejarah berlapis emas yang menyimpan filosofi dan kekayaan budaya Jepang.
"Beneran dari emas dibuatnya. Jadi berkilau gitu. Keren sih. Jepang enggak berhenti buat kagum," seru pria 23 tahun tersebut. Kearifan lokal yang benar-benar dijaga dan menjadi daya tarik wisata.
Hari keenam, dipusatkan di Kyoto Prefectural University dengan agenda penuh perkuliahan. Materi utama membahas tentang hidrologi hutan dan siklus nitrogen di alam. “Kami juga diajak ke Kyoto Botanical Garden, kebun botani yang mirip dengan Kebun Raya Bogor namun dengan koleksi tumbuhan khas. Ada juga tanaman yang berumur ratusan tahun di sana,” ujarnya.
Mandha belajar banyak tentang bagaimana Jepang menjaga keseimbangan antara teknologi, budaya, dan kelestarian alam. Bagaimana memahami pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis kearifan lokal dan inovasi. (bersambung/*)
Editor : Muhammad Rizki