Insiden memilukan ini terjadi setelah kapal mengalami kebocoran di ruang mesin, yang menyebabkan pemadaman total sebelum akhirnya kapal terbalik dan hanyut ke arah selatan.
Kapal berangkat dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, pada pukul 22.56 WIB dan tenggelam sekitar pukul 23.20 WIB. Berdasarkan data sementara yang dihimpun Basarnas, kapal mengangkut 53 penumpang, 12 kru, serta 14 truk tronton.
Kebocoran Mesin dan Listrik Padam
Koordinator Pos Basarnas Banyuwangi, Wahyu Setyabudi, menyatakan bahwa tanda-tanda kedaruratan pertama kali muncul sekitar pukul 00.16 WITA, ketika kru kapal menyampaikan permintaan bantuan melalui saluran radio channel 17.
"Terdengar informasi di channel 17, KMP Tunu Pratama Jaya meminta tolong karena mengalami kebocoran mesin kapal," jelas Wahyu.
Sekitar tiga menit kemudian, kapal mengalami blackout atau pemadaman listrik total pada pukul 00.19 WITA, yang memperparah situasi di tengah gelombang laut yang cukup tinggi.
Koordinat terakhir kapal sebelum karam tercatat berada di -08°09.371', 114°25.1569'.
Cuaca Buruk Diduga Jadi Faktor Pemicu
Selain masalah teknis, kondisi alam turut memperburuk keadaan. Menurut Ni Putu Cahyani Negara, Kasi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli (KBPP), perairan Selat Bali saat kejadian tengah dilanda gelombang dengan tinggi antara 1,7 hingga 2,5 meter, berdasarkan laporan dari BMKG.
“Informasi dari BMKG menyebutkan ombak saat itu berada di kisaran 1,7 hingga 2,5 meter,” ungkapnya.
Upaya Evakuasi dan Pencarian
Tim SAR gabungan dari Pos SAR Banyuwangi dan Jembrana telah dikerahkan ke lokasi kejadian. Mereka menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) untuk menjangkau titik koordinat yang diduga menjadi lokasi terakhir kapal sebelum hilang kontak.
Hingga saat ini, pencarian terhadap penumpang dan awak kapal terus dilakukan dalam kondisi laut yang belum stabil.
Editor : Uways Alqadrie