Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

"Jangan Salah Narasi", Andi Harun Tangkis Kritikan Menteri Lingkungan Hidup Soal Insinerator

Eko Pralistio • Kamis, 3 Juli 2025 | 20:27 WIB

TPA Sambutan di Kota Samarinda. Pengelolaan sampah di Kota Samarinda mendapat atensi Kementerian Lingkungan Hidup. (RAMA/KP)
TPA Sambutan di Kota Samarinda. Pengelolaan sampah di Kota Samarinda mendapat atensi Kementerian Lingkungan Hidup. (RAMA/KP)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA— Pemkot Samarinda memastikan tetap melanjutkan rencana penerapan insinerator berbasis komunal di 10 kecamatan. Hal ini ditegaskan Wali Kota Samarinda, Andi Harun (AH), meskipun Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menjelaskan sejumlah dampak penggunaan insinerator berskala kecil yang tidak memenuhi standar.

Dalam kunjungan kerjanya ke Samarinda, Kamis (3/7), Hanif menyebut insinerator di beberapa kota berpotensi menghasilkan dioksin dan furan, dua senyawa berbahaya yang bersifat karsinogenik jika proses pembakarannya tidak sempurna. Sementara itu, Andi Harun meniliai, teknologi insinerator yang akan digunakan Samarinda berbeda dengan yang dikhawatirkan Kementerian Lingkungan Hidup.

“Jangan salah narasi. Kami tidak menggunakan insinerator berskala kecil dengan sistem cerobong asap seperti yang banyak dipermasalahkan di daerah lain,” ujar Andi Harun, Kamis (3/7). Menurutnya, insinerator yang akan diterapkan di Samarinda menggunakan sistem virolisis, yaitu metode pembakaran tertutup yang diarahkan ke bawah dengan bantuan media air (hidro).

Baca Juga: Menteri Lingkungan Hidup Cek Pengelolaan Sampah di Samarinda, Mengapa Penggunaan Insinerator Dikritik?

“Teknologi ini sudah teruji, bahkan sudah digunakan di Kawasan Ibu Kota Negara (IKN) yang mengusung konsep green city. Jadi tidak diragukan lagi,” jelasnya. Andi Harun membandingkan insinerator yang direncanakan di Samarinda dengan yang pernah menuai protes di beberapa kota di Indonesia. Menurutnya, insinerator yang digunakan di sana masih mengandalkan sistem cerobong asap yang cenderung tidak stabil suhu pembakarannya.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq (baju hitam), saat kunjungan kerja ke TPA Sambutan, Samarinda, Kamis (3/7). (RAMA/KP)
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq (baju hitam), saat kunjungan kerja ke TPA Sambutan, Samarinda, Kamis (3/7). (RAMA/KP)

“Di daerah lain itu bahkan sempat ada kegaduhan dengan warga karena sistem pembakarannya buka-tutup dan suhunya tidak stabil di angka 850 derajat Celcius. Inilah yang kemudian dikhawatirkan kementrian,” katanya. Dia menegaskan, Pemkot Samarinda berkomitmen penuh untuk mematuhi semua standar teknis dan regulasi dari kementrian terkait penggunaan insinerator.

Dia menyebut, penyedia teknologi insinerator yang akan bekerja sama dengan pemkot juga telah memastikan sistem yang digunakan ramah lingkungan dan hemat energi. “Pak Hakim (produsen insinerator) sudah sampaikan, tidak ada polusi dan hemat bahan bakar. Teknologinya sudah diuji. Jadi kami pastikan, insinerator yang akan kami gunakan nanti memenuhi semua syarat lingkungan yang ketat,” imbuhnya. (*)

Editor : Muhammad Rizki
#Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq #sampah Samarinda #TPA Sambutan Samarinda #insinerator #Wali Kota Samarinda Andi Harun #andi harun