Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Hanya Tersisa Sekitar 62 Ekor, Ini yang Akan Dilakukan Pemprov Kaltim Agar Pesut Mahakam Tidak Punah

Redaksi • Jumat, 4 Juli 2025 | 05:00 WIB

 

Gubernur Rudy Mas’ud dan Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mendampingi Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq berkunjung ke Desa Pela, Kota Bangun, Kamis (3/7). (ARIEF/ADPIMPROV KALTIM)
Gubernur Rudy Mas’ud dan Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mendampingi Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq berkunjung ke Desa Pela, Kota Bangun, Kamis (3/7). (ARIEF/ADPIMPROV KALTIM)

 

KALTIMPOST.ID, Jumlah Pesut Mahakam yang tersisa di sekitar Sungai Pela, Kutai Kartanegara, diperkirakan tidak lebih dari 62 ekor. Perlu upaya serius menyelamatkannya, menjaga, dan mengembangbiakkan agar populasinya bisa meningkat setiap tahun. Bukan sebaliknya, menjadi semakin punah dan tak tersisa.

Gubernur Kaltim Dr H Rudy Mas’ud menegaskan dukungannya dalam upaya penyelamatan dan pelestarian Pesut Mahakam. Penegasan komitmen itu disampaikan Gubernur Harum saat mendampingi Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq melakukan kunjungan kerja ke Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kamis (3/7).

Menurutnya, pelestarian dan penyelamatan serta pengembangbiakan Pesut Mahakam sebagai spesies endemik Kaltim itu menjadi sangat penting karena keberadaannya yang semakin punah. Angkanya saat ini disebutkan tidak lebih dari 62 ekor. Apalagi, lanjut gubernur, usia pesut tidak lebih dari 40 tahun dan hanya berkembang biak maksimal tiga kali seumur hidupnya.

“Pesut Mahakam bukan hanya kebanggaan masyarakat Kalimantan Timur, tapi sudah menjadi simbol keanekaragaman hayati Indonesia yang perlu terus dijaga bersama di tengah habitat yang hanya tinggal 62 ekor,” ucap Gubernur Harum di Gedung Balai Pertemuan Umum (BPU) Desa Pela.

Ia menegaskan, Pemprov Kaltim berkomitmen kuat untuk terus mendukung upaya pelestarian lingkungan, baik melalui kebijakan daerah dan kerja sama dengan kementerian maupun dukungan langsung kepada masyarakat. Baginya, konservasi Pesut Mahakam tidak boleh berhenti pada kawasan tertentu saja, tetapi harus menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat Kalimantan Timur.

Ia optimistis, kunjungan Menteri LH Hanif Faisol akan memperkuat kolaborasi dan menjadi momentum untuk menyusun langkah-langkah strategis yang lebih konkret untuk menyelamatkan habitat Pesut Mahakam dan ekosistem danau, rawa gambut dan mendorong desa-desa wisata berbasis lingkungan.

"Pemprov Kaltim mendukung penuh upaya penyelamatan dan pelestarian Pesut Mahakam ini," tegasnya lagi. Sekarang ini perlu langkah nyata secara bersama-sama bagaimana bisa menemukan sistem dan teknologi yang baru untuk bisa mengembangbiakan spesies endemik Pesut Mahakam.

Seperti Tiongkok yang sukses mengembangbiakan panda, hewan khas Negeri Tirai Bambu itu. Dan saat ini, panda dari Tiongkok sudah menyebar ke seluruh dunia. Orang nomor satu di pemerintahan Kaltim itu memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada masyarakat Desa Pela yang dengan penuh semangat telah menjaga ekosistem sungai dan danau-danau yang ada di sekitar mereka.

 

Langkah strategis lain yang harus dilakukan ke depan, bagaimana bisa terus menjaga dan mengembangbiakan pesut dan terus membangun pariwisata hijau berbasis konservasi hingga menjadikan Desa Pela sebagai salah satu destinasi unggulan Kalimantan Timur yang dekat dengan Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Dari sini mungkin hanya hanya sekitar 98 km ke IKN. Lewat Jonggon, tidak lebih dari 10 km sudah sampai ke IKN,” sambungnya. Menteri Lingkungan Hidup yang juga Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq hadir ke Desa Pela untuk melihat langsung kondisi ekosistem Pesut Mahakam dan mengeksekusi langkah penyelamatan spesies endemik satwa air yang hampir punah tersebut.

Secara rinci ia menguraikan Mahakam merupakan salah satu kawasan yang bernilai penting bagi keanekaragaman hayati karena terdapat spesies endemik yaitu Pesut Mahakam dan ekosistem spesifik yaitu danau dan lahan gambut.

Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) merupakan satwa yang dilindungi, masuk dalam kategori critically endangered (kritis) yaitu pada daftar merah (Red List) IUCN, dan masuk pada daftar Appendiks I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).

"Menteri jauh-jauh datang tidak hanya untuk melakukan seremoni. Menteri jauh-jauh datang untuk mengeksekusi apa yang harus dieksekusi dalam penanganan pelestarian biodiversiti kita," tegas Menteri Hanif Faisol.

Ia lantas menceritakan pengalamannya sekitar 30 tahun yang lalu. Ketika itu, kata dia, Pesut Mahakam bisa dengan mudah ditemui di Tepian Mahakam Samarinda. Tapi sekarang, Pesut Mahakam hanya menampakkan diri di sekitar Sungai Pela dan Danau Semayang. Jumlahnya pun diperkirakan tersisa hanya 62 ekor.

Menteri Hanif Faisol menegaskan, penyelamatan spesies endemik ini hanya bisa dilakukan dengan kerja nyata, bukan sekadar retorika, deklarasi dan diksi. "Sepanjang populasi Pesut Mahakam tidak bertambah, berarti kita belum berhasil. Jadi kalau sekarang tersisa 62 ekor, tahun depan ya minimal 70 ekor atau meningkat dari itu," harap Menteri Hanif.

Bersama Gubernur Harum dan Bupati Kukar Aulia Rahman, Menteri Hanif Faisol berjanji untuk menjaga dan melestarikan Pesut Mahakam dengan kewenangan yang mereka miliki. Menteri LH dengan UU 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Gubernur dan Bupati dengan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Antara lain dengan menjaga ekosistem agar tidak rusak, mencegah aktivitas yang tidak ramah lingkungan, melakukan tindakan pre-emtif dan preventif yang menyebabkan kematian pesut dan menjaga berbagai kegiatan di hulu sungai. Kematian pesut umumnya disebabkan oleh jaring ikan, setrum dan bom ikan.

Sebagai langkah nyata, Menteri Hanif Faisol berencana mengangkat empat pegiat lingkungan yang memiliki kepedulian tinggi dalam upaya penyelamatan Pesut Mahakam untuk menjadi tenaga ahlinya.

Mereka adalah Ketua Pokdarwis Desa Pela Alimin, Direktur Yayasan Konservasi RASI Ir Budiono, Dosen Universitas Mulawarman Dr Mislan dan peneliti Yayasan Konservasi RASI Daniell Krap. "Nanti, Menteri LH setiap hari ada di sini melalui tenaga-tenaga ahlinya. Semua perkembangan nanti dilaporkan ke saya," tegas Menteri Hanif kepada para wartawan.

Kunjungan kerja ini juga dihadiri Resident Representative of UNDP Indonesia, Mr. Norimasa Shimomura, Deputy Regional Director of UNEP for Asia Pacific, Ms. Marlene Nilsson, Head of Development Cooperation, Embassy of the Federal Republic of Germany, Mr. Oliver Hope, Perwakilan International Food and Agriculture Development (IFAD), GIZ, dan beberapa mitra pembangunan lainnya. Hadir juga Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri dan Sekda Kaltim Sri Wahyuni. (sul/ky/adv/dwi)

Editor : Muhammad Rizki
#Hanif Faisol Nurofiq #pesut mahakam #Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq #kutai kartanegara #Gubernur Kaltim Rudy Mas ud #Desa Pela