Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Piala Dunia 2026

Buaya Muara yang Meneror Warga Gersik PPU, Predator Terbesar dan Pemangsa Manusia Sejati dari Perairan Tropis

Ari Arief • Jumat, 4 Juli 2025 | 14:50 WIB

Foto Ilustrasi. Buaya menghuni di Kelurahan Gersik, Penajam Paser Utara, membuat warga resah.
Foto Ilustrasi. Buaya menghuni di Kelurahan Gersik, Penajam Paser Utara, membuat warga resah.
KALTIMPOST.ID, PENAJAM-Buaya muara (Crocodylus porosus) yang sekarang diketahui menghuni kolam air di Kelurahan Gersik, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara, ternyata, wajar apabila menimbulkan keresahan warga setempat.

Pasalnya, berdasarkan data yang dihimpun media ini bersumber dari wikipedia, menyebutkan, buaya jenis ini merupakan predator terbesar dan pemangsa manusia sejati.

Berdasarkan wikipedia, buaya muara atau sering juga disebut buaya bekatak, adalah spesies buaya terbesar di dunia yang mendiami perairan sungai dan pesisir.

Dikenal pula sebagai buaya air asin atau buaya laut, spesies ini memiliki reputasi menakutkan di berbagai belahan dunia, bahkan dijuluki sebagai "man-eater crocodile" dalam bahasa Inggris.

Julukan ini bukan tanpa alasan, mengingat riwayatnya yang kerap memangsa manusia dan hewan besar lainnya seperti babi di habitat aslinya.

Penyebaran buaya muara tergolong sangat luas, meliputi perairan dataran rendah dan pantai tropis di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia (wilayah Indo-Australia).

Ukuran buaya ini sangat mencengangkan; panjangnya dapat mencapai 4,5 hingga 5,5 meter, bahkan tidak jarang melebihi 6 meter dengan berat mencapai 1.000 kilogram. Ciri fisiknya ditandai dengan moncong yang cukup lebar dan absennya sisik lebar di tengkuknya.

Dibandingkan dengan spesies lain seperti Buaya Nil Crocodylus niloticus) atau Alligator Amerika (Alligator mississipiensis), buaya muara jauh lebih besar dan memiliki persebaran terluas di dunia. Ancaman yang ditimbulkan oleh buaya muara terhadap manusia sangatlah signifikan.

Mereka diakui sebagai buaya pemangsa manusia sejati. Mirip dengan Buaya Nil, spesies ini sangat agresif dan sering menyerang manusia yang memasuki wilayah kekuasaannya.

Insiden serangan buaya muara terhadap manusia tercatat rutin terjadi. Di Australia, misalnya, dilaporkan ada dua serangan setiap tahunnya.

Kasus serangan juga banyak dilaporkan dari berbagai wilayah lain seperti Kalimantan, Sumatra, India bagian timur, Andaman, dan Myanmar, termasuk di Kaltim.

Hal ini menegaskan bahwa buaya muara adalah salah satu predator paling berbahaya yang patut diwaspadai di habitatnya.

Mengutip pewartaan sebelumnya, warga Kelurahan Gersik, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara (PPU) hingga kini masih dihantui perasaan waswas dan terancam keselamatan jiwanya, setelah tiga ekor buaya ganas yang diketahui berjenis buaya muara dipergoki warga menghuni kolam air di wilayah kelurahan tersebut.

Seorang warga yang tidak sengaja melewati kolam air peninggalan perusahaan perkayuan PT Balikpapan Forest Industries (BFI) itu bertepatan pada Iduladha 1446 Hijriah atau Jumat, 6 Juni 2025 lalu.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim kemudian mengirimkan alat jebakan buaya yang terbuat dari besi dan telah dipasang pada Kamis (12/6) siang, dan berhasil menjebak satu ekor buaya sekira pukul 22.00 Wita pada hari yang sama.

Selanjutnya, buaya yang berhasil ditangkap kemudian dievakuasi dan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU dikirim ke Pusat Penangkaran Buaya Teritip di Kota Balikpapan, Jumat (13/6).

Setelah itu, jebakan dikembalikan ke tempat semula dan diisi dengan umpan beberapa bangkai ayam. Namun, dua buaya yang tersisa tidak mau mendekati perangkap tersebut, hingga kini.

Kondisi ini menyebabkan keresahan di kalangan warga karena kolam tersebut juga menjadi salah satu sumber air yang didistribusikan kepada masyarakat sekitar.

Menanggapi hal tersebut, Kelurahan Gersik berinisiatif mengadakan musyawarah untuk mencari solusi terbaik, Kamis (3/7). Undangan resmi telah disebar oleh Lurah Gersik, Ommar Mildat, tertanggal 30 Juni 2025 di Gedung PSHT, RT. 05, Kelurahan Gersik.

Berbagai pihak diundang dalam pertemuan penting ini untuk mencari jalan keluar atas dugaan keberadaan reptil berbahaya tersebut.

Daftar tamu undangan meliputi BKSDA Wilayah III Balikpapan, BPBD PPU, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan PPU, Kelurahan Jenebora, Babinsa Kelurahan Gersik, Bhabinkamtibmas Kelurahan Gersik, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Gersik, Karang Taruna Kelurahan Gersik.

Selain itu, Ketua RT yang terdampak, yaitu RT.04, RT.05, RT.11, RT.12, dan RT.06 Jenebora, serta perwakilan warga terdampak yang memanfaatkan fasilitas distribusi kolam air RT. 04 juga diundang.

Ketua RT 04 Gersik, Kecamatan Penajam, PPU, Abdul Rasyid, mengungkapkan bahwa sudah ada rapat internal yang melibatkan tim teknis. Hasilnya, ada rencana untuk menguras kolam, namun langkah tersebut akan dilakukan setelah menunggu umpan yang dipasang melalui perangkat jebakan buaya selama seminggu ke depan.

“Kalau umpan tidak dimakan dan buaya tidak terjebak baru dilanjutkan rencana menguras kolam,” kata Abdul Rasyid, Jumat (4/7).

Sementara itu, Lurah Gersik, Kecamatan Penajam, PPU, Ommar Mildar berharap, dengan adanya musyawarah ini, semua pihak dapat hadir dan bersama-sama mengetahui langkah-langkah yang akan diambil sembari meningkatkan kewaspadaan atau tidak mendekati kolam air untuk sementara waktu ini.

“Sampai kolam dinyatakan benar-benar aman dari gangguan hewan predator,” kata Ommar Mildat. (*)

Editor : Almasrifah
#penajam paser utara #gersik #ppu #buaya #Alligator