Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

"Aku Cuma Mau Sekolah": Jeritan Hati Eza yang Menyentuh Hati Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

Uways Alqadrie • Minggu, 6 Juli 2025 | 18:13 WIB

Eza saat bertemu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Foto: tangkapan layar)
Eza saat bertemu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Foto: tangkapan layar)
KALTIMPOST.ID, DEPOK – Kisah menyentuh datang dari seorang anak bernama Eza, warga Kota Depok berusia tujuh tahun yang selama ini tak bisa mengenyam pendidikan dasar akibat tidak tercantum dalam Kartu Keluarga (KK). 

Nasib Eza berubah setelah bertemu langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam kegiatan "Abdi Nagri Nganjang Ka Warga" di Lapangan IREKAP, Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Cilodong, Sabtu (5/7/2025) malam.

Eza hadir di lokasi acara bersama bibinya. Saat itu, Gubernur Dedi memintanya naik ke panggung untuk bercerita mengenai kehidupannya. 

Dalam percakapan yang disiarkan di kanal YouTube Humas Jabar, terungkap bahwa Eza tidak dapat bersekolah karena tidak memiliki dokumen administrasi kependudukan, termasuk KK.

Bibinya yang telah merawat Eza sejak bayi menjelaskan bahwa kedua orang tua anak itu tidak mengurusnya dengan baik dan kerap berpindah-pindah tempat tinggal. Setelah neneknya meninggal, Eza sepenuhnya diasuh oleh sang bibi.

"Sejak bayi, saya yang urus. Orang tuanya tidak pernah benar-benar peduli. Eza tinggal sama saya, tapi karena tidak masuk KK, dia tidak bisa sekolah," ujar sang bibi.

Menanggapi cerita tersebut, Gubernur Dedi menyampaikan keprihatinannya. Ia menegaskan bahwa persoalan administratif tidak seharusnya menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mendapatkan hak pendidikan.

"Ini masalah umum di Jawa Barat. Pendidikan adalah hak setiap warga negara, dan tidak semestinya anak-anak seperti Eza terhambat hanya karena urusan KK. Kita harus memastikan anak-anak tetap bisa sekolah, apapun kondisi administrasinya," tegas Dedi.

Ia pun langsung menginstruksikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, untuk segera menyusun surat edaran kepada seluruh sekolah dasar di wilayahnya. 

Dalam surat tersebut akan ditegaskan bahwa sekolah wajib menerima siswa meskipun belum memiliki dokumen kependudukan lengkap, selama anak tersebut telah berdomisili di wilayah tersebut dalam waktu yang cukup lama.

"KK itu untuk urusan domisili, tapi kalau anaknya sudah lama tinggal di situ, cukup dicek ke RT. Tidak boleh anak-anak dibiarkan terlantar hanya karena administrasi," imbuhnya.

Selain membuka jalan bagi Eza untuk segera bersekolah, Dedi juga memberikan bantuan langsung. Ia mengetahui bahwa pengasuh Eza hanya berpenghasilan sekitar Rp30 ribu per hari dari berjualan es, sementara suaminya bekerja menjaga warung kopi dengan upah Rp50 ribu per hari.

Dedi pun memberikan sejumlah uang untuk keperluan sekolah Eza, termasuk seragam dan perlengkapan lainnya. Momen haru pun terjadi saat tangis bahagia pecah dari Eza dan bibinya. 

Para tamu yang hadir pun tergerak memberikan sumbangan spontan hingga mencapai lebih dari Rp30 juta.

“Total bantuan yang terkumpul kita genapkan jadi Rp50 juta, supaya bisa bantu keperluan hidup juga,” ujar Dedi Mulyadi disambut haru dan tepuk tangan para hadirin.

Kisah Eza menjadi pengingat pentingnya empati dan kebijakan yang berpihak pada masyarakat kecil, khususnya anak-anak yang menjadi korban dari persoalan administratif yang semestinya dapat diatasi secara manusiawi dan cepat.

 

Editor : Uways Alqadrie
#kartu keluarga #bapak aing #kang dedi mulyadi #dedi mulyadi #gubernur jawa barat