KALTIMPOST.ID, Baru-baru ini Taufik Hidayat terpilih sebagai Komisaris PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI).
Namanya terpampang di jajaran dewan komisaris yang tercantum dalam laman resmi PT PLN EPI.
Adapun PT PLN EPI merupakan subholding PT PLN (Persero) yang bergerak di bidang penyediaan energi primer. Di antaranya, batu bara, gas, bahan bakar minyak (BBM), hingga biomassa untuk pembangkit listrik PLN.
Penunjukan Taufik Hidayat ke jajaran komisaris ini dilakukan lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Saat ini mantan atlet bulu tangkis tersebut masih memegang tampuk jabatan sebagai wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora).
Lantas seperti apa profil Taufik Hidayat?
Profil Taufik Hidayat
Dilansir dari berbagai sumber, Taufik Hidayat dikenal sebagai salah satu legenda bulu tangkis Indonesia.
Pria yang lahir di Bandung pada 10 Agustus 1981 ini merupakan atlet tunggal putra terbaik yang pernah dimiliki Tanah Air.
Anak dari pasangan Aris Haris dan Enok Dartilah ini menorehkan prestasi gemilang dengan meraih medali emas Olimpiade Athena pada 2004 dan gelar Juara Dunia di 2005.
Hal itu menjadikannya sebagai satu-satunya tunggal putra Indonesia yang sukses menyandingkan dua gelar paling prestisius secara berurutan.
Kepiawaiannya bermain olahraga tepuk bulu angsa itu membuat Taufik dijuluki sebagai “Raja backhand smash”.
Julukan itu diberikan kepada Taufik karena kemampuannya dalam melakukan pukulan backhand smash yang sangat mematikan.
Pukulan ini menjadi ciri khasnya dan membuatnya ditakuti oleh lawan-lawannya di lapangan.
Minatnya pada olahraga bulu tangkis rupanya telah ia mulai sejak kecil. Taufik dibimbing oleh pelatih legendaris Iie Sumirat dan bergabung dengan klub SGS PLN Bandung.
Pada 1997, ia meraih gelar juara Kejuaraan Asia Junior untuk tunggal putra di Manila Filipina saat berumur 16 tahun, menandai awal kariernya yang cemerlang.
Di usia 17 tahun, ia menjuarai Brunei Open dan menembus semifinal Kejuaraan Asia dan Indonesia Terbuka 1998.
Setahun berselang, ia meraih gelar Indonesia Terbuka pertamanya dan tampil di final All England dan Singapura Terbuka, walau harus kalah dari Peter Gade dan Hariyanto Arbi.
Karier professional Taufik dimulai dengan cepat. Kariernya mencapai puncak pada 2000 saat ia menduduki peringkat satu dunia pada usia 19 tahun, usai menjuarai Malaysia Terbuka, Kejuaraan Asia, dan kembali menjadi juara Indonesia Terbuka. Ia juga kembali menjadi finalis All England.
Di antara prestasi lainnya, Taufik juga meraih enam kali juara Indonesia Terbuka dan medali emas di Asian Games 2002 dan 2006.
Puncak kariernya dicapai saat ia meraih medali emas Olimpiade Athena 2004 dan gelar Juara Dunia 2005, menjadikannya pemain tunggal putra pertama yang meraih kedua gelar tersebut secara berturut-turut.
Gantung Raket dan Terjun ke Politik
Pada 12 Juni 2013, Taufik resmi memutuskan untuk menggantung raket, dengan pertandingan terakhir pada Indonesia Terbuka di Istora Senayan, Jakarta.
Pasca pensiun, Taufik aktif di dunia pembinaan atlet muda. Ia mendirikan Taufik Hidayat Arena (THA) pada 2012 di Ciracas, Jakarta Timur, sebagai pusat pelatihan bulu tangkis.
Selain itu, ia juga menjadi brand ambassador Yonex dan sempat menjadi Wakil Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) periode 2016-2017, kemudian menjadi staf khusus (stafsus) di Kemenpora pada 2017-2018.
Dari 2018, Taufik memulai karier perpolitikannya dengan bergabung menjadi kader Partai Demokrat. Namun, hal itu tidak bertahan lama, dan dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari politik.
Setelahnya dia maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat II dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), tetapi gagal lolos ke Senayan.
Kemudian pada 21 Oktober 2024, Taufik resmi dilantik sebagai Wamenpora dalam Kabinet Merah Putih periode 2024-2029 oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dia bekerja untuk mendampingi Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo.
Harta Kekayaan Taufik Hidayat
Berdasarkan arsip Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara Elektronik (E-lhkpn), Taufik terpantau sampaikan total hartanya sebanyak dua kali.
Pertama, periode awal menjabat sebagai wamenpora, dengan jumlah Rp 78.967.141.850 per 22 November 2024.
Lalu yang kedua, tepatnya pada 26 Maret 2025, Taufik kembali menyerahkan LHKPN dengan jumlah mencapai Rp 79.669.506.015.
Rinciannya sebagai berikut:
- Tanah dan bangunan Rp 49.851.629.200
- Alat Transportasi dan Mesin Rp 3.511.000.000
- Harta Bergerak Lainnya Rp 820.000.000
- Surat Berharga Rp 14.354.550.000
- Kas dan Setara Kas Rp 4.791.229.999
- Harta Lainnya Rp 6.459.256.816
- Utang Rp 118.160.000
Seperti tertera dalam LHKPN, Taufik menyatakan kepemilikan atas enam bidang tanah dan/atau bangunan yang diklaim berasal dari hasil sendiri dan hibah dengan akta.
Aset-aset properti itu terletak di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Bandung Barat, dan Karawang Barat, dengan luas 10 hingga 3.186 meter persegi.
Ia juga memiliki empat kendaraan yang seluruhnya diklaim dari hasil sendiri.
Alat transportasinya terdiri dari mobil Volkswagen Tiguan (2019) senilai Rp 350 juta, mobil Toyota Innova Zenix (2023) senilai Rp 600 juta, mobil BMW Series 735IL (2024) senilai Rp 2,5 miliar, dan motor Honda Beat (2019) Rp 12 juta.
Editor : Hernawati