KALTIMPOST.ID, Mohammad Riza Chalid saat ini menjadi sorotan publik. Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan dirinya sebagai satu di antara sembilan tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang.
Kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang pada PT Pertamina, subholding, dan kontraktor diketahui terjadi dalam kontrak kerja sama sepanjang 2018-2023.
Berdasarkan keterangan Abdul Qohar, direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung, Riza Chalid merupakan beneficial owner alias pengendali utama sekaligus penerima manfaat dari PT Navigator Khatulistiwa dan PT Orbit Terminal Merak.
Dua perusahaan ini tersebut digerakkan anak Riza Chalid, Muhammad Kerry Adrianto Riza yang sebelumnya telah ditetapkan tersangka pada kasus serupa. Kasus ini ditaksir merugikan negara hingga Rp 285 triliun.
Lantas siapakah Riza Chalid?
Profil Riza Chalid
Mohammad Riza Chalid atau yang juga dikenal dengan nama Riza Chalid merupakan pengusaha asal Indonesia yang memiliki berbagai sektor usaha. Di antaranya, ritel mode, perkebunan sawit, industri minuman, hingga perdagangan minyak bumi.
Anak dari pasangan Chalid bin Abdat dan Siti Hindun binti Ali Alkatiri ini menikah dengan Roestriana Adrianti pada 1985.
Namun sayang pernikahannya dengan wanita yang kerap disapa Uchu Riza itu harus berakhir di 2012.
Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki dua anak, yakni Muhammad Kerry Adrianto yang lahir pada 1985 dan Kenesa Ilona Rina di tahun 1989.
Sosok yang dijuluki Saudagar Minyak atau The Gasoline Godfather itu memang aktif dalam bisnis impor minyak lewat anak usaha Pertamina, yakni Pertamina Energy Trading Ltd (Petral).
Selama puluhan tahun Riza Chalid disebut sosok sentral dalam “mengendalikan” Petral yang berbasis di Singapura.
Melalui perusahaannya, Global Energy Resources, Riza disebut pemasok terbesar minyak ke Petral.
Ia juga mengendalikan perusahaan bernama Gold Manor, yang pernah terseret dalam kasus dugaan korupsi tender impor minyak Zatapi pada 2008.
Bisnis minyak yang ia jalani selama ini ditaksir meraih 30 miliar USD per tahun.
Sementara kekayaannya disebut-sebut mencapai 415 juta dolar. Angka tersebut menjadikannya orang terkaya ke-88 dalam daftar 150 orang terkaya versi Globe Asia.
Jejak Kontroversial Riza Chalid
Jauh sebelum kasus yang menjerat dirinya, nama Riza Chalid sempat mencuat dalam berbagai peristiwa besar.
Di tahun 1997, ia mewakili perusahaan milik keluarga Cendana, PT Dwipangga Sakti Prima, dalam pembelian pesawat Sukhoi dari Rusia. Perusahaan ini pernah terlibat dalam kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat Hercules pada 1996.
Kemudian di 2015 namanya kembali muncul dalam hasil audit forensik Petral. Audit tersebut mengungkap adanya kebocoran informasi rahasia tender minyak Pertamina.
Informasi penting seperti harga perkiraan sendiri (HPS) sengaja dibocorkan melalui sebuah grup e-mail ke perusahaan luar yang terafiliasi dengan Riza Chalid.
Karena hal ini, Pertamina selalu kalah dalam tender dan tidak pernah mendapatkan harga minyak yang kompetitif.
Kemudian ia juga pernah terlibat dengan mantan Ketua DPR RI Setyo Novanto soal kontroversi perpanjangan izin operasi PT Freeport Indonesia.
Ia menjadi buah bibir saat skandal kasus “Papa Minta Saham” yang viral pada 2015 karena dianggap menyerupai skema penipuan “Mama Minta Pulsa” yang saat itu lagi ramai diperbincangkan.
Walau tak dijerat hukum dalam kasus ini, keterlibatan Riza Chalid memicu polemik.
Selain itu, Riza Chalid juga disebut terlibat dalam perkara 2018 yang berkaitan dengan upaya menghalangi penyidikan suap mantan petinggi Lippo Group, Eddy Sindoro.
Ground staff maskapai Air Asia kala itu mengaku diminta oleh sekretaris Riza Chalid untuk membantu Eddy Sindoro melewati Bandara Soekarno-Hatta tanpa pemeriksaan imigrasi.
Di ranah politik, pengaruhnya juga terasa kuat. Riza Chalid disebut-sebut jadi salah satu penyokong dana utama untuk Prabowo Subianto pada Pemilu 2014.
Ia juga diduga mendanai tabloid kontroversial Obor Rakyat dan membeli Rumah Polonia yang menjadi markas pemenangan Prabowo-Hatta.
Editor : Hernawati