KALTIMPOST.ID, Malam itu, di tengah gelap dan sunyi Desa Lin Ta Lu, dentuman keras membangunkan ratusan warga yang tengah berlindung di sebuah vihara.
Mereka mengira vihara Buddha adalah tempat paling aman dari perang yang tak kunjung usai. Namun, kenyataan berkata lain.
“Mereka mengira aman untuk tinggal di vihara Buddha. Tapi mereka tetap dibom,” ungkap seorang pejuang anti-junta yang enggan disebutkan namanya.
Serangan udara yang terjadi sekitar pukul 01.00 dini hari itu menghantam aula vihara, tempat sekitar 200 orang mengungsi dari pertempuran sengit antara tentara junta dan pasukan pro-demokrasi.
Hasilnya tragis, setidaknya 22 hingga 23 warga sipil tewas, termasuk tiga hingga empat anak-anak. Dua korban lainnya masih kritis di rumah sakit.
Seorang warga yang turut membantu evakuasi korban menggambarkan suasana memilukan, “Banyak jenazah mengalami luka di kepala. Sungguh menyedihkan melihatnya,” ujarnya dengan suara bergetar.
Aula vihara yang selama ini menjadi harapan terakhir para pengungsi, kini rata dengan tanah. Beberapa jenazah langsung dibawa ke pemakaman sebelum fajar.
Baca Juga: Dikira Bumil, Ternyata Pencopet! Emak-Emak WNI Ini Nekat Lawan Sendirian di Metro Paris
Sejak kudeta militer 2021 yang menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi, Myanmar tak pernah benar-benar damai.
Sagaing menjadi salah satu wilayah paling terdampak, bahkan setelah gencatan senjata sempat diisukan usai gempa besar melanda pada Maret lalu.
Namun, kenyataan di lapangan, serangan udara dan pertempuran justru semakin intens.
Pada Mei lalu, serangan udara juga menghantam sebuah sekolah di Desa Htein Kwin, menewaskan 20 siswa dan guru. Kini, vihara pun tak luput dari sasaran.
Hingga berita ini ditulis, juru bicara junta militer Myanmar belum memberikan komentar.
Sementara itu, Pemerintah Persatuan Nasional sipil paralel yang melacak serangan udara juga belum menanggapi permintaan konfirmasi. ***
Editor : Dwi Puspitarini