KALTIMPOST.ID, LOMBOK BARAT – Keluarga almarhum Brigadir Muhammad Nurhadi, polisi muda yang meninggal dalam insiden misterius di Gili Trawangan, masih terus mencari kejelasan atas kasus tersebut. Mereka menyebut ada banyak kejanggalan yang belum terjawab hingga kini.
Reni (35), kakak ipar Nurhadi, mengatakan sempat melihat isi percakapan WhatsApp milik almarhum sebelum ponsel tersebut disita oleh penyidik. Salah satu pesan mencurigakan berasal dari tersangka HC, yang menurutnya mencoba membungkam Nurhadi.
"Di WA ada pesan dari HC yang meminta Nurhadi diam. Itu sempat discreenshot dan dikirim ke YG oleh almarhum, tapi saya tidak sempat simpan hasilnya," ujarnya.
Reni juga mempertanyakan versi kronologi yang disampaikan pihak kepolisian. Menurutnya, ada perbedaan informasi antara yang disampaikan aparat dan keterangan dari rekan-rekan Nurhadi di Gili Trawangan.
“Kami diberitahu Nurhadi jatuh dari cidomo, tapi rekannya di klinik bilang tidak ada YG yang mengantarnya seperti yang diklaim polisi. Banyak info yang tidak cocok,” ungkap Reni.
Karena berbagai ketidaksesuaian itulah, pihak keluarga mengaku mulai kehilangan kepercayaan terhadap informasi resmi yang disampaikan. Mereka berharap penyidik segera membuka fakta secara transparan agar keadilan bagi Brigadir Nurhadi dapat ditegakkan.
Pengakuan Istri Brigadir Nurhadi
Istri Nurhadi, Elma Agustina (28), mengaku masih terpukul dan berharap penyelidikan segera mengungkap pelaku utama di balik kematian suaminya.
Diketahui Elma dan Nurhadi memiliki dua orang anak laki-laki, putra pertamanya berusia 5 tahun dan putra keduanya kini berusia 4 bulan.
“Saya tidak mencari apa-apa, hanya keadilan,” ucap Elma saat ditemui di kediamannya di Desa Sembung, Kecamatan Narmada, Jumat (1/7/2025).
Ia mengatakan sejumlah polisi mendatanginya, termasuk dua istri atasan yang menjadi tersangka pembunuh suaminya, istri Kompol I Made Yogi dan istri Ipda Haris Chandra.
Baca Juga: Pesan Terakhir Brigadir Nurhadi Sebelum Diduga Dibunuh Kompol I Made Yogi dan Ipda Haris
Meski demikian, Elma membantah tegas isu bahwa ia menerima uang dari salah satu tersangka.
“Tidak benar saya menerima uang Rp 400 juta, demi Allah tidak pernah ada,” tegasnya. Elma menolak tudingan yang menyebut dirinya dibayar untuk tidak memperpanjang kasus. Ia memastikan akan terus menuntut kejelasan kasus demi almarhum suaminya.
"Saya tidak akan menukar nyawa suami saya dengan uang, tidak pernah ada uang Rp 400 juta itu demi Allah," tegas Elma.
Keluarga berharap pihak Polda NTB bisa segera merampungkan penyidikan dan mengungkap aktor utama di balik kasus yang menyisakan banyak pertanyaan ini.
Editor : Uways Alqadrie