KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Momen mengantar anak di hari pertama sekolah bukan sekadar rutinitas pagi. Bagi Dedi Kurnaepi, momen itu adalah sejarah yang tak bisa diulang. Ketika pemerintah lewat surat edaran Menteri Kependudukan mengimbau para ayah turut mengantar anak di awal tahun ajaran baru sekolah, Dedi menyambutnya dengan antusias.
"Anak kedua saya perempuan, baru masuk SD. Saya sendiri yang antar," kata Dedi saat berbincang santai. Dia mengaku, momentum itu adalah pengalaman yang sangat emosional. "Ini momen sejarah. Enggak akan terulang dua kali," ujar ayah dua anak asal Samarinda ini.
Meski di tengah tuntutan pekerjaan, Dedi tetap berusaha hadir. Anak pertamanya yang kini sudah kelas lima SD pun pernah dia antar saat masuk TK perdana.
“Waktu itu momen untuk si kakak masuk SD itu saat saya lagi kerja luar kota, di Bali waktu itu. Memang enggak bisa. Tapi sekarang kerjaan di Samarinda, jadi saya sempatkan antar adeknya masuk SD,” ungkap Operational Manager Biella Kitchen & Bar Samarinda tersebut.
Dedi menilai, kehadiran ayah di masa-masa awal sekolah bisa membentuk mental dan rasa percaya diri anak. “Khususnya anak perempuan ya, itu lebih dekat secara emosional sama ayah. Jadi saat diantar, dia merasa aman dan lebih semangat ketemu guru atau teman baru,” bebernya.
Dia mendukung penuh gerakan yang digaungkan pemerintah. Menurutnya, mengantar anak ke sekolah bukan hanya soal antar-jemput, tapi bagian dari tumbuh kembang emosional si kecil.
Namun, dia juga tak menutup mata terhadap realita. “Kadang-kadang kondisi kerja enggak memungkinkan. Ada yang harus masuk jam 7 pagi, ada juga yang enggak bisa cuti. Tapi kalau ada kesempatan dan bisa disempatkan, kenapa tidak?” tegasnya.
Soal kedekatan dengan anak, Dedi punya jurus sederhana tapi konsisten. “Setiap weekend pasti kami luangkan waktu. Enggak harus mewah misal makan bareng di restoran, tapi makan di pinggir jalan pun jadi, yang penting kumpul,” ujarnya lalu terkekeh pelan.
Sesekali, keluarganya juga mengagendakan liburan singkat. “Kalau kondisi keuangan memungkinkan, kita keluar kota. Cari suasana baru. Tapi kalau enggak, cukup ke pantai, taman, atau mal,” jelasnya.
Sebagai kepala keluarga yang punya bekerja dan tak selalu di rumah, Dedi juga punya cara menjaga komunikasi tetap intens dengan anak-anak. “Minimal lewat chat atau telepon. Saya biasa tanya, ‘Gimana sekolahnya? Belajar apa hari ini?’ Supaya anak tetap merasa didampingi,” tuturnya.
Menurutnya, saat anak-anak masih usia SD ke bawah, perhatian dan keterlibatan orang tua sangat penting. “Usia SD itu masih masa-masa dengar apa kata orangtua. Tapi masuk SMP, itu sudah istilahnya dengar apa kata teman. Mereka sudah punya dunia sendiri, punya teman. Jadi selama masih butuh, saya akan selalu ada. Makanya di masa awal-awal ini yang penting untuk didampingi,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo