KALTIMPOST.ID, Dalam sebuah video viral yang terekam di Kang Dedi Mulyadi Channel, seorang pria asal Kalimantan bernama Aksar tiba-tiba menjadi sorotan publik.
Ia melakukan perjalanan panjang ke rumah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, demi memenuhi permintaan unik sang istri yang sedang hamil, yaitu meminum sisa air minum milik sang gubernur.
Sebuah percakapan yang awalnya hangat antara Dedi Mulyadi dan seorang sopir truk bernama Aksar mendadak viral dan jadi sorotan warganet, khususnya masyarakat Kalimantan.
Aksar datang jauh-jauh dari Balikpapan demi memenuhi ngidam sang istri: ingin meminum air sisa minum Kang Dedi.
Namun, bukan soal air yang jadi pembicaraan publik melainkan pernyataan Aksar soal suku Banjar.
“Tapi kebanyakan orang luar, Pak, petani itu orang Jawa Barat, orang Sunda, orang Jawa, orang Bali,” ucap Aksar.
Lalu ia menambahkan, “Orang Kalimantan itu… jujur, Pak. Karena pemalas. Ya, jujur. Nah, kalau untuk kerja, apalagi suku Banjar.”
Meluruskan persepsi itu, Dedi memberi insight yang lebih dalam, “Karena sudah kaya, Pak. Sebenarnya bukan males. Karena sudah diwarisi alam yang kaya, sehingga mereka ngapain harus capek-capek nanam padi? Ngambil ikan di rawa sudah ada. Ngambil ikan di sungai juga gampang. Berburu ada. Sebenarnya nggak disebut bahwa orang Kalimantan males, tapi orang Kalimantan diwarisi, dititipi alam yang kaya raya.”
Aksar menambahkan, “Nggak juga lah, Pak. Sebenarnya orang Banjar itu kalau nggak kerja, ya sudah. Mereka sembarangnya aja dah perbuat.”
Menyoal pekerjaan sehari-hari suku Banjar saat ini, Aksar menjelaskan bahwa mereka beragam,
“Kebanyakan, Banjar itu macam-macam, Pak. Ada Banjar baru, ada Kenangan, ada Tanjung, ada macam-macam.”
Sedangkan soal kegiatan tradisional yang masih dijalankan, “Berburu, kebanyakan,” tambahnya.
Dedi kemudian menyelidiki lebih jauh, “Berburu masih ada, apa sih yang berburu di sana?”
“Kijang,” jawab Aksar.
Ditanya soal kelestarian hutan dan satwa, Aksar dengan penuh rasa syukur menjawab, “Alhamdulillah, masih yang masih alami.”
Akhirnya, Dedi menyimpulkan dengan nada bersahabat, “Ya itu tadi. Dari berburu aja udah bisa makan enak.”
Meskipun suasana obrolan tetap hangat dan santai, namun kutipan-kutipan tersebut langsung menyebar di media sosial dan mengundang beragam reaksi dari warga Kalimantan, khususnya suku Banjar.
Beberapa merasa pernyataan itu terlalu menyederhanakan realitas sosial, sementara lainnya menganggap Dedi Mulyadi justru meluruskan stereotip negatif. ***
Editor : Dwi Puspitarini