KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Meski pilihan menu makanan modern makin beragam, tamu dan keluarga di Samarinda tetap memilih soto banjar, ayam asam manis dan sapi lada hitam sebagai sajian utama pernikahan.
Bahkan di tengah tren dekorasi, gaun pengantin yang semakin modern dan silih berganti. Nyatanya kalau urusan perut, selera tamu dan keluarga pengantin di Samarinda masih cinta makanan khas daerah. Hidangan khas seperti soto banjar, ayam asam manis dan sapi lada hitam tetap mendominasi meja prasmanan di pesta-pesta pernikahan.
“Sudah ditawarkan menu-menu baru, seperti zuppa soup atau macaroni schotel, tetap saja pilihan mereka kembali ke menu yang sudah akrab di lidah,” kata Eka Wahyuni, pemilik Sambos Catering, saat ditemui Kaltim Post di kantornya, Jalan M Said Gang Jembatan 2, Kamis (24/7).
Eka menyebut bahwa preferensi ini sebagian besar datang dari pihak keluarga pengantin (orang tua), yang biasanya mengambil keputusan soal makanan.
“Sepengalaman saya, kalau pengantin biasanya lebih fokus ke dekorasi atau make up. Tapi kalau makanan, hampir selalu yang urus adalah keluarga atau orang tua. Mereka cenderung memilih yang mereka kenal dan yakin disukai tamu,” ujar perempuan yang mendirikan Sambos Catering sejak 2016 itu.
Dalam sehari, khusus pada Sabtu dan Minggu, Sambos bisa melayani lima hingga tujuh lokasi pernikahan. Jumlah tamu per acara pun tak kecil. “Kalau 1.000 porsi itu jarang sekarang. Rata-rata 2.000, bahkan kadang lebih,” ungkap Eka.
Dengan jumlah tamu sebesar itu, Sambos menawarkan berbagai paket mulai dari Rp 25 juta hingga Rp 35 juta per 1.000 porsi. Menu dalam setiap paket disusun sesuai selera dan kebutuhan tamu. “Di paket Rp 30 juta ke atas, biasanya sudah termasuk tambahan kopi dan dessert seperti es krim. Tapi di bawah itu juga tetap lengkap, tinggal pilih,” katanya.
Beberapa menu baru tetap disediakan untuk memberi variasi agar tetap mengikut tren, seperti steamboat ala Singapura, macaroni schotel, atau zuppa soup. Namun sejauh ini, sambutan pasar belum terlalu besar. “Kalau yang ambil sih ada saja, tapi porsinya jauh lebih kecil dibanding menu andalan seperti ayam mentega, sapi lada hitam, atau bakso,” ujar Eka.
Soto banjar menjadi primadona yang tak tergantikan. Meski Sambos juga menawarkan variasi soto lain seperti soto betawi, makassar, atau lamongan, pilihan pelanggan tetap kembali ke yang klasik. “Soto banjar itu wajib. Rasanya lebih cocok di lidah tamu Samarinda,” ujarnya.
Soal tampilan dan tata saji, Sambos juga mengikuti konsep yang disesuaikan dengan tema pernikahan. Eka menyebut alat prasmanan berbahan kuningan sebagai pilihan paling populer saat ini. “Kesan tradisional tapi tetap mewah. Itu yang bikin kuningan banyak dipilih,” katanya.
Jika venue memungkinkan, pihaknya juga menyajikan dekorasi tambahan seperti gazebo atau rombong kayu untuk mempercantik area prasmanan. “Tapi tentu kami juga harus menyesuaikan dengan tinggi atap atau luas ruang. Kadang hanya bisa bermain di bunga atau ornamen ringan saja kalau tempatnya terbatas,” tambahnya.
Sambos juga terbuka dengan permintaan khusus, misalnya jika pengantin ingin menyajikan kopi dengan merek tertentu. “Bisa. Selama disampaikan sejak awal, kami bisa bantu carikan atau siapkan. Tapi kebanyakan tetap ikut paket yang sudah kami sediakan,” kata Eka.
Meski inovasi kuliner terus bermunculan, Eka menilai kecenderungan masyarakat Samarinda tetap mengarah pada makanan yang memberi rasa aman dan akrab. “Kalau belum ada soto atau ayam asam manis, rasanya belum lengkap. Makanan tradisional itu tetap juara,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo