Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Hujan Mulai Mengguyur Mahulu, Air Sungai Mahakam Terpantau Tinggi di Kecamatan Ini

Jody Kristianto • Senin, 4 Agustus 2025 | 23:10 WIB

BANJIR MENGINTAI: Debit Sungai Mahakam di Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai, Mahakam Ulu, terpantau tinggi Senin (4/8) imbas hujan yang mengguyur wilayah tersebut. (BPBD MAHULU)
BANJIR MENGINTAI: Debit Sungai Mahakam di Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai, Mahakam Ulu, terpantau tinggi Senin (4/8) imbas hujan yang mengguyur wilayah tersebut. (BPBD MAHULU)

 

 

KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG- Permukaan Sungai Mahakam di Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) meningkat signifikan, Senin (4/8) setelah hujan mengguyur wilayah tersebut.

Sebelumnya, akibat kekeringan imbas kemarau, angkutan sungai yang  menjadi satu-satunya akses warga Mahulu, mengakibatkan kapal tidak bisa berlayar dan berdampak pada melonjaknya harga kebutuhan pokok.

Kepada Kaltim Post, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mahulu, Agus Darmawan, menyampaikan jika hujan yang turun cukup lama di dua kecamatan itu menjadi faktor utama naiknya debit air di wilayah hulu Mahakam.

“Memang terjadi kenaikan air di Long Apari dan Long Pahangai akibat curah hujan yang cukup lama. Namun, hingga saat ini masih dalam kategori aman,” jelas Agus. Meskipun terjadi peningkatan debit air, BPBD Mahulu memastikan distribusi logistik ke dua kecamatan perbatasan tetap berjalan seperti biasa.

Baca Juga: Kemarau Kian Parah, Harga Barang Naik, Ketua DPRD Mahulu Minta Pembangunan Jalan Jadi Prioritas

“Distribusi logistik tetap kita laksanakan. Tidak ada hambatan berarti sejauh ini,” jelasnya. Terkait kemungkinan terjadinya banjir jika kenaikan air terus berlanjut, Agus menyampaikan harapannya agar situasi tetap terkendali. “Mudah-mudahan tidak (banjir), karena di wilayah Long Bagun ke arah hilir permukaan air masih tergolong kecil,” ujarnya.

Hingga Senin (4/8) malam, BPBD Mahulu terus melakukan pemantauan lapangan serta koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk aparat kecamatan dan kampung. Masyarakat diminta tetap waspada, khususnya yang tinggal di bantaran sungai yang rawan terdampak luapan air. Sebelumnya, dari Rapat Koordinasi Tim Penanganan Musim Kemarau pada 29 Juli lalu, sejumlah keputusan penting dihasilkan.

Seperti bantuan beras dari Bulog dikirimkan ke dua kecamatan terdampak kemarau, Long Pahangai dan Long Apari. Alternatif distribusi disiapkan dengan melibatkan helikopter. Terutama untuk menjangkau tiga kampung di ujung Long Apari. Yakni Long Apari, Naha Tifab, dan Noha Silat.

Baca Juga: Waspada Penyakit Dampak Kekeringan, Diskes Kaltim Lakukan Asemen ke Mahulu

Sedangkan distribusi elpiji ke perbatasan, kapal pengangkut gas hanya mampu mencapai Long Iram akibat surutnya Sungai Mahakam. Selanjutnya, armada subsidi ongkos angkut (SOA) dikerahkan untuk mengambil elpiji dari Long Iram dan mendistribusikannya ke Long Pahangai dan Long Apari. Selain bahan pangan, keperluan lainnya seperti logistik darurat juga akan diinventarisasi oleh Dinas Sosial dan akan dipenuhi melalui dana belanja tak terduga (BTT).

Dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanganan Karhutla yang digelar BNPB secara daring pekan lalu, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengeluarkan peringatan tegas bahwa sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di Sumatera dan Kalimantan, akan menghadapi puncak musim kemarau pada Agustus 2025.

Dalam situasi ini, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diperkirakan meningkat drastis, dengan wilayah prioritas mencakup Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Berdasarkan analisis curah hujan dasarian (10 harian), sebagian besar wilayah Riau, Jambi, dan Kalimantan masih berada dalam kategori curah hujan rendah hingga awal Agustus.

Baca Juga: Mahulu Tetapkan Status Siaga Darurat Kemarau, Logistik Disalurkan lewat Konvoi dan Helikopter

Peta potensi kemudahan kebakaran (fire danger rating system/FDRS) menunjukkan dominasi warna merah, yang menandakan tingkat kemudahan lahan untuk terbakar sangat tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa lahan bisa terbakar secara alami, bahkan tanpa pemantik eksternal.

Dia menegaskan, meskipun hujan sempat turun sebagai hasil dari operasi modifikasi cuaca (OMC) pada pekan lalu, dampaknya tidak bersifat jangka panjang. “Warna Merah kembali muncul. Artinya, efek OMC sudah mulai menurun, dan kondisi cuaca aslinya kembali mendominasi,” jelasnya.

Dalam paparan visual prakiraan pembentukan awan hujan harian, wilayah kritis seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan menunjukkan rendahnya potensi pertumbuhan awan. Mayoritas wilayah terlihat dalam warna kuning dan oranye, menandakan awan tidak berkembang secara maksimal.

BMKG kembali mengingatkan bahwa musim kemarau diperkirakan akan berlangsung hingga September, dan musim hujan baru akan mulai masuk pada Oktober. Artinya, dua bulan ke depan adalah fase kritis yang membutuhkan koordinasi total lintas lembaga. “Musim hujan belum datang. OMC bukan jaminan. Kuncinya adalah patroli ketat, deteksi dini, dan pemadaman cepat,” kata Dwikorita. (*)

 

 

 

 

Editor : Muhammad Rizki
#sungai mahakam #mahulu #sungai mahakam surut #Mahakam Ulu