Data dari International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS) menunjukkan bahwa panjang hari tersebut lebih pendek sekitar 1,25 milidetik dari durasi normal 24 jam atau 86.400 detik.
Fenomena percepatan ini bukan hal baru. Beberapa hari lain di Juli 2025 juga mengalami pemendekan waktu, seperti 9 Juli (lebih cepat 1,23 milidetik), 10 Juli (1,36 milidetik), dan 22 Juli (1,34 milidetik). Perubahan ini merupakan bagian dari variasi alami rotasi Bumi yang telah diamati selama beberapa dekade.
Faktor Penyebab Rotasi Bumi Meningkat
Menurut lembaga-lembaga seperti NASA dan badan geofisika internasional, ada sejumlah penyebab yang memengaruhi kecepatan rotasi Bumi, antara lain:
Pergeseran massa di dalam Bumi, termasuk pergerakan cairan di inti dan mantel
Dinamika atmosfer dan arus laut
Interaksi gravitasi dengan bulan dan matahari
Perubahan topografi, seperti mencairnya es di kutub dan naiknya permukaan laut
Meskipun dampaknya sangat kecil dalam hitungan waktu harian, akumulasi perubahan ini berdampak pada sistem navigasi, jam atom, jaringan keuangan, hingga komunikasi global yang bergantung pada sinkronisasi presisi waktu.
Dampak dan Potensi Leap Second Negatif
Jika tren ini terus berlangsung, IERS kemungkinan akan mempertimbangkan langkah historis: penerapan leap second negatif, yaitu pengurangan satu detik dari waktu global (UTC). Ini belum pernah dilakukan sebelumnya, namun menjadi opsi jika kecepatan rotasi terus meningkat.
Baca Juga: Mau Coba Gado-Gado Surabaya? Ini Resep Simpel dan Enaknya, Praktis untuk Menu Sehari-hari
Para peneliti juga mengingatkan bahwa variasi ini tidak bersifat permanen. Dalam jangka panjang, Bumi justru cenderung melambat akibat pengaruh pasang surut oleh bulan.
Editor : Uways Alqadrie