Beberapa kalangan menganggap, pengenalan tersebut mestinya berisi tentang dunia akademis. Bukannya pemaparan program pemerintah atau narasi geopolitik tentara.
Wakil Rektor III Unmul, Prof. Moh. Bahzar tak menepis jika Rektorat-lah yang mengundang kedua pejabat itu hadir dalam Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB).
“Memang kami yang mengundang. Harapannya biar mahasiswa tahu apa itu Gratispol. Apa salahnya,” katanya, Kamis, 7 Agustus 2025. Begitu pun dengan kehadiran Kodam VI/Mulawarman, Rektorat Unmul, diundang untuk memberi materi kebangsaan. “Kan jelang momen hari kemerdekaan, makanya kami undang pakarnya,” sambungnya.
Kritik yang muncul dirasanya sah-sah saja. Toh, PKKMB tahun ini terbilang acara besar yang mengoordinasikan ribuan peserta di GOR 27 September dan rektorat melibatkan seluruh civitas akademika sebagai panitia. “Agar warga kampus benar-benar punya ras memiliki Unmul. Bukan parsial,” katanya.
Dalam PKKMB Unmul 2025, ada sejumlah peristiwa menarik. Ratusan mahasiswa baru dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan memilih berbalik badan, memunggungi Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji ketika memaparkan program unggulannya, Gratispol.
Lalu, menggemanya lagu Buruh Tani dan Mars Mahasiswa ketika Kapoksahli Pangdam VI/Mulawarman Brigjen TNI Deni Sukwara hendak menyampaikan materi kebangsaan.
Soal dua kejadian itu, Prof Bahzar berujar, “Itu bagian dari demokrasi di kampus. Ekspresi yang tak bisa dilarang,” tuturnya singkat.
Editor : Uways Alqadrie