Diduga akibat penandatanganan senior sesama anggota TNI Angkatan Darat. Kematiannya sangat sia-sia dan meminta agar kasus ini diselesaikan secara tuntas.
“Saya terima jika anak saya gugur di medan perang demi negara, tapi ini mati sia-sia di tangan seniornya sendiri,” ungkap Sepriana di rumah duka, Jumat (8/8).
Baca Juga: Empat Senior Penganiaya Prada Lucky Sudah Ditahan, Serma Christian Namo Minta Pelaku Dihukum Berat
Dia menuntut pelaku kejahatan dihukum seberat-beratnya, bahkan jika perlu hukuman mati. "Kalau pelaku tidak memproses, lebih baik bunuh saya saja. Saya sangat sakit hati melihat anak saya diperlakukan seperti itu," ujarnya sambil meneteskan air mata.
Sepriana juga menceritakan kisah thriller yang telah mengikuti seleksi menjadi prajurit TNI hingga delapan kali. Ia pun menyesal mengizinkannya bergabung dengan TNI jika akhirnya berakhir tragis.
Prada Lucky bertugas di Batalyon Teritorial Pembangunan 834 Waka Nga Mere (Yon TP 834/WM) di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Ia meninggal dunia pada Rabu (6/8) setelah menjalani perawatan intensif selama empat hari di RSUD Aeramo, Nagekeo.
“(Informasi) Ada 20 orang semua, bukan empat orang saja,” kata Sepriana kepada CNNIndonesia.com Jumat (8/8) di rumah duka tanpa menyebut sumber informasi tersebut.
Penyebab kematian diduga kuat akibat pembongkaran yang dilakukan seniornya di asrama batalyon. Saat ini, Sub Detasemen Polisi Militer IX/1 Kupang tengah melakukan penyelidikan. Sebanyak 20 personel diperiksa terkait dugaan tersebut.
Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Candra mengatakan, proses hukum tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah. Namun jika buktinya cukup, pelaku akan dikenakan sanksi sesuai hukum militer yang berlaku.
Editor : Uways Alqadrie