Prada Lucky, prajurit muda yang baru sebulan dilantik sebagai anggota TNI Angkatan Darat, menjadi korban kekerasan fisik dari para seniornya di Batalyon Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 834/Waka Nga Mere, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Peristiwa ini memicu kemarahan publik dan seruan luas agar penegakan hukum dilakukan secara transparan tanpa pandang bulu.
Penganiayaan terhadap Prada Lucky dilakukan secara sistematis dan melibatkan total 20 personel TNI, baik perwira, bintara, maupun tamtama.
Empat di antaranya sudah berstatus tersangka dan ditahan karena memukul korban dengan tangan kosong, sementara 16 lainnya masih dalam proses pemeriksaan intensif oleh Polisi Militer.
Fakta yang terungkap menunjukkan bahwa korban dipukul tidak hanya dengan tangan, tetapi juga menggunakan selang, sehingga menyebabkan luka memar, sayatan, dan cedera parah di hampir seluruh tubuh.
Hasil investigasi internal menguatkan dugaan bahwa aksi kekerasan ini berlangsung selama beberapa hari sebelum akhirnya korban tak sadarkan diri.
Korban sendiri merupakan putra dari Sersan Mayor Christian Namo, anggota Kodim 1627 Rote Ndao, dan Sepriana Paulina Mirpey. Menurut kesaksian sang ibu, beberapa hari sebelum meninggal, Lucky sempat melarikan diri ke rumah ibu asuhnya dan mengaku telah dianiaya para seniornya, bahkan menyebut nama julukan pelaku.
Dia mengungkap bahwa jumlah pelaku mencapai 20 orang, bukan hanya empat sebagaimana awalnya disebut pihak berwenang.
Kesaksian ini semakin menguatkan desakan keluarga agar semua pelaku, tanpa terkecuali, dihukum sesuai undang-undang.
Tragisnya, Prada Lucky menghembuskan napas terakhir di RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, pada Rabu (6/8/2025), hanya beberapa saat sebelum ayahnya tiba di rumah sakit.
Keluarga menyebut kematiannya bukanlah akibat tugas negara, melainkan kekerasan yang dilakukan oleh sesama anggota TNI. Ayah korban, yang masih aktif berdinas, menyatakan akan mengejar semua pelaku hingga ke mana pun demi mendapatkan keadilan bagi anak semata wayangnya.
"Tentara main-main dengan nyawa, sampai neraka pun saya kejar. Nyawa dibayar nyawa," tegas Serma Christian Namo.
Empat Pelaku yang Sudah Ditahan (Pemukulan dengan Tangan Kosong)
1. Pratu Petris Nong Brian Semi – memukul korban dengan tangan kosong.
2. Pratu Ahmad Adha – memukul korban dengan tangan kosong.
3. Pratu Emiliano De Araojo – memukul korban dengan tangan kosong.
4. Pratu Aprianto Rede Raja – memukul korban dengan tangan kosong.
Keempatnya merupakan senior di Batalyon Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 834/Waka Nga Mere, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Daftar Pelaku Lain yang Diduga Terlibat (Masih Diperiksa)
Pemukulan Menggunakan Selang
Letda Inf Thariq Singajuru – memukul korban dengan selang sebagai bentuk hukuman fisik.
Sertu Rivaldo Kase – memukul korban dengan selang.
Sertu Andre Manoklory – memukul korban dengan selang.
Sertu Defintri Arjuna Putra Bessie – memukul korban dengan selang.
Serda Mario Gomang – memukul korban dengan selang.
Pratu Vian Ili – memukul korban dengan selang.
Pratu Rivaldi – memukul korban dengan selang.
Pratu Rofinus Sale – memukul korban dengan selang.
Pratu Piter – memukul korban dengan selang.
Pratu Jamal – memukul korban dengan selang.
Pratu Ariyanto – memukul korban dengan selang.
Pratu Emanuel – memukul korban dengan selang.
Pratu Abner Yetersen – memukul korban dengan selang.
Pratu Petrus Nong Brian Semi – memukul korban dengan selang.
Pratu Emanuel Nibrot Laubura – memukul korban dengan selang.
Pratu Firdaus – memukul korban dengan selang.
Editor : Uways Alqadrie