Tuduhan tersebut dinilainya hanya memperparah luka keluarga di tengah kehilangan.
Prada Lucky, prajurit muda yang baru dilantik pada Juni 2025, diduga menjadi korban kekerasan bergilir oleh lebih dari 20 seniornya hingga meninggal dunia.
Kejadian ini memicu sorotan publik dan kembali membuka persoalan kekerasan di lingkungan militer.
Kronologi Kejadian
Minggu, 27 Juli 2025 – Pemeriksaan Awal
Sekitar pukul 21.45 WITA, Staf-1/Intel melakukan pemeriksaan terhadap Prada Lucky di markas Batalyon Teritorial Pembangunan 834/Wakanga Mere, Nagekeo, NTT. Pemeriksaan tersebut terkait dugaan perilaku menyimpang. Dalam dokumen yang beredar di media sosial, tidak dijelaskan secara detail tuduhan yang dimaksud.
Senin, 28 Juli 2025 – Upaya Melarikan Diri
Pukul 06.20 WITA, Lucky meminta izin ke kamar mandi, namun tak kembali. Ia ditemukan kabur oleh anggota Staf Intel, Serda Lalu Parisi Ramdani, dan dilaporkan ke Sertu Thomas Desambris Awi.
Sekitar pukul 09.25 WITA, laporan dilanjutkan ke Danki A, Lettu Inf Ahmad Faisal, yang memerintahkan pencarian di sejumlah titik.
Pukul 10.45 WITA, Lucky ditemukan di rumah seorang warga bernama Ibu Iren, yang dikenal sebagai ibu asuhnya. Ia lalu dibawa kembali ke markas.
Tak lama setelah tiba, ia kembali diperiksa di kantor Staf-1/Intel. Beberapa senior disebut datang membawa selang dan memukulinya secara bergantian.
Rabu, 30 Juli 2025 – Kekerasan di Sel
Pukul 01.30 WITA, empat prajurit—Pratu Petris Nong Brian Semi, Pratu Ahmad Adha, Pratu Emanuel De Araojo, dan Pratu Aprianto Rede Raja—mendatangi sel tahanan dan memukul Prada Lucky serta rekannya, Prada Ricard Junimton Bulan.
Sabtu, 2 Agustus 2025 – Gejala Sakit Muncul
Sekitar pukul 09.10 WITA, Ricard mengalami demam dan Lucky muntah-muntah. Keduanya dibawa ke Puskesmas Kota Danga. Setelah pemeriksaan, Ricard diizinkan pulang, sementara Lucky dirujuk ke RSUD Aeramo karena kadar hemoglobinnya sangat rendah.
Minggu, 3 Agustus 2025 – Kondisi Membaik
Lucky mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah mendapat perawatan medis.
Senin, 4 Agustus 2025 – Dikunjungi Ibu Asuh
Pukul 19.00–21.30 WITA, Ibu Iren menjenguk Lucky di rumah sakit. Ia memberi semangat dan sempat menyuapi makan.
Selasa, 5 Agustus 2025 – Kondisi Menurun Drastis
Sekitar pukul 04.47 WITA, kondisi Lucky memburuk. Ia dipindahkan ke ruang ICU dan dipasang ventilator untuk membantu pernapasan.
Rabu, 6 Agustus 2025 – Meninggal Dunia
Pukul 11.23 WITA, Lucky mengembuskan napas terakhir di RSUD Aeramo. Dokter menyatakan ginjal dan paru-parunya mengalami kerusakan parah, diduga akibat penganiayaan.
Kesaksian Keluarga
Lusi Namo, kakak almarhum, mengatakan bahwa adiknya diinjak-injak oleh senior karena dianggap pura-pura sakit saat berada di sel tahanan.
Informasi ini ia peroleh dari seseorang yang mengaku pacar seorang prajurit. Orang tersebut pernah menerima foto Lucky dalam kondisi terluka dan berdarah, namun foto itu dikirim dengan fitur sekali lihat.
Rafael Davids, paman Lucky, mengenang keponakannya sebagai pemuda rendah hati dan penuh semangat. Ia meminta agar semua pelaku dihukum seberat-beratnya.
Editor : Uways Alqadrie