KALTIMPOST.ID, Sebuah pesan singkat di platform X menjadi jejak terakhir Anas Al-Sharif, jurnalis Al Jazeera berusia 28 tahun, sebelum nyawanya terenggut di serangan artileri Israel yang menghantam tenda jurnalis di depan Rumah Sakit Al-Shifa, Minggu (10/8) malam.
“Pengeboman Israel intens dan terkonsentrasi,” tulisnya, hanya beberapa jam sebelum ledakan besar merenggut nyawanya bersama empat rekan sesama wartawan dan dua warga sipil Palestina lainnya.
Menurut laporan WAFA dan AFP, korban tewas meliputi koresponden Al Jazeera Mohammed Qreiqea, juru kamera Ibrahim Zaher, Moamen Aliwa, serta asisten juru kamera Mohammed Noufal.
Israel mengklaim salah satu korban, Al-Sharif, adalah anggota sayap bersenjata Hamas — tuduhan yang dikecam keras komunitas internasional.
Direktur Regional Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), Sara Qudah, menegaskan, “Jurnalis adalah warga sipil dan tidak boleh menjadi sasaran. Mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban.”
Sejak 7 Oktober 2023, perang di Gaza telah menewaskan lebih dari 61.430 warga Palestina dan melukai 153.213 orang, mayoritas anak-anak dan perempuan.
Laporan RSF menyebut lebih dari 200 jurnalis telah gugur sejak perang dimulai, termasuk sejumlah reporter Al Jazeera.
Ironisnya, beberapa hari sebelum kematiannya, Komite Perlindungan Jurnalis telah mengeluarkan peringatan agar Al-Sharif dilindungi, setelah ia secara terbuka mengkritik juru bicara militer Israel Avichay Adraee. ***
Editor : Dwi Puspitarini