KABUL-Empat tahun sejak Taliban merebut Kabul dan mengakhiri dua dekade kehadiran Barat, perempuan Afghanistan makin terhapus dari ruang publik. Hampir 100 aturan baru diterbitkan, yang mencabut kebebasan dasar mereka.
Sejak 2022, anak perempuan dilarang masuk sekolah menengah. Setahun kemudian, universitas juga menutup pintu bagi mahasiswi.
Pekerjaan di lembaga swadaya masyarakat dan PBB pun tak lagi bisa diakses. Perempuan dipaksa mengenakan penutup tubuh penuh, dilarang masuk taman, pusat kebugaran, pemandian umum, bahkan dilarang membaca puisi atau bernyanyi di depan publik.
“Perempuan Afghanistan telah kehilangan hak asasi mereka,” kata jurnalis eksil Zahra Nader, pemimpin media independen Zan Times. PBB menilai kondisi ini sebagai penghapusan total perempuan dari masyarakat.
Meski penuh risiko, sejumlah perempuan tetap melawan dengan membuka sekolah rahasia di rumah. Namun, penangkapan dan kekerasan mengintai setiap bentuk perlawanan.
Di dalam Taliban sendiri ada perbedaan pandangan. Beberapa tokoh menilai larangan sekolah bagi anak perempuan justru merugikan. Wakil Menteri Luar Negeri Mohammad Abbas Stanikzai bahkan menyebut kebijakan itu bertentangan dengan syariat, sebelum akhirnya ia meninggalkan Afghanistan.
Upaya internasional menekan Taliban sejauh ini tak banyak hasil. ICC sempat mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Pemimpin Tertinggi Hibatullah Akhundzada dengan tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan, namun Taliban menolak dan menyebutnya “omong kosong”.
Hanya Rusia yang sampai sekarang mengakui pemerintahan Taliban. Sementara, tekanan Barat kian berkurang. “Perempuan Afghanistan hanya ingin merasa bahwa hak mereka masih diperjuangkan,” kata peneliti Mélissa Cornet. (afp/tom)
Editor : Thomas Priyandoko