KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Sejak awal tahun ajaran baru 2025, dapur Sambos Catering di Sungai Kunjang, Samarinda, berjibaku tiap malam.
Dari pukul 19.00 hingga menjelang pagi, puluhan pekerja sibuk menyiapkan ribuan kotak makanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan janji utama Presiden Prabowo Subianto dalam kampanye 2024.
Dalam sehari, dapur ini mampu memproduksi hampir 3.500 porsi untuk siswa, dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah kejuruan (SMK).
“Awalnya 1.500 porsi, kemudian naik ke 2.500, sekarang sudah 3.480 porsi per hari. Kami naikkan bertahap, sambil mengukur kemampuan produksi,” kata Eka Wahyuni, pemilik Sambos Catering, kepada Kaltim Post.
Makanan yang disiapkan Sambos didistribusikan ke lima sekolah, antara lain SD Al-Azhar 46 dan 47, SDN 010, SDN 002, SMPN 25, dan SMKN 15 dalam cakupan Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda. Menu yang disajikan relatif sama, namun porsinya disesuaikan usia siswa.
Untuk anak kelas satu hingga kelas tiga SD, nasi yang diberikan sekitar 100 gram, dengan tambahan protein 50 gram, sayur 50 gram dan buah 50 gram. Sedangkan untuk siswa kelas empat SD hingga SMK, nasi ditambah menjadi 150 gram, sayur 70 gram, dan buah 100 gram.
“Menu ditentukan langsung oleh tim gizi dari SPPG (Satuan Pelaksana Program Gizi), bukan dari kami. Jadi setiap porsi benar-benar sudah dihitung kandungan proteinnya,” ujar Eka.
Meski berbasis gizi seimbang, variasi menu tetap dijaga agar anak-anak tidak bosan. Ada puluhan menu yang dirancang termasuk nasi uduk, nasi goreng, spaghetti, hingga burger pernah masuk daftar sajian. “Kadang, setiap lima hingga sepuluh hari sekali, paket ditambah susu kotak,” ungkap Eka.
Kata Dia, untuk harga per porsinya ditetapkan Rp 15 ribu dari SPPG, harga ini sudah mencakup penyediaan sumber karbohidrat, protein, sayuran, dan buah. “Alhamdulillah sejauh ini tidak ada keluhan. Malah anak-anak sering request, misalnya minta nasi kuning,” sebutnya.
Untuk memenuhi target 3.500 porsi per hari, Sambos membagi pekerja ke dalam empat tim: persiapan, produksi, pemorsian, dan pencucian ompreng. Total ada 42 orang yang khusus bekerja untuk dapur MBG miliknya, karyawan ini terpisah dari 150 karyawan catering reguler Sambos.
Sistem ini, menurut Eka, bukan hanya menopang usahanya, tapi juga membuka lapangan kerja baru. Bahan-bahan masakan pun sebagian besar dipasok dari penyalur dan petani sekitar. “Kami diarahkan untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitar. Jadi bukan hanya usaha saya yang terbantu, tapi juga masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Sambos turut menerapkan pengelolaan limbah makanan. Sisa makanan ditimbang dan disalurkan kembali, agar tidak terbuang percuma. Program MBG di Samarinda sejatinya menargetkan setiap dapur umum mampu melayani 3.000–3.500 siswa per hari.
Pada tahap awal, distribusi makanan bahkan baru menjangkau ratusan siswa di satu sekolah. Kini cakupannya semakin meluas ke lebih banyak wilayah.
Eka menilai keikutsertaannya sebagai penyedia dapur MBG membawa manfaat ganda yakni memperluas bisnis catering sekaligus berkontribusi dalam pemenuhan gizi anak sekolah. “Kalau anak-anak senang makan dan sehat, itu juga jadi kebahagiaan buat kami,” katanya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo