KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Salah satu tantangan besar program Makanan Bergizi Gratis (MBG) adalah anak-anak yang enggan makan sayur. Banyak menu yang akhirnya tersisa karena ditolak siswa. Padahal, sayuran menjadi sumber vitamin, mineral, dan serat penting untuk tumbuh kembang anak sekolah.
Menurut Koordinator Program Studi Sarjana Gizi Universitas Mulawarman Nurul Afiah, strategi kreatif dibutuhkan agar anak tidak lagi menolak sayuran.
“Fenomena anak-anak yang menolak makan sayuran adalah hal yang sangat umum dan sering kita jumpai pada anak-anak kita di rumah, tidak hanya saat MBG ini. Dari sisi gizi, tantangan utamanya adalah bagaimana mempertahankan kandungan zat gizi sayuran sekaligus membuatnya lebih diterima oleh anak,” jelasnya.
Nurul menyarankan modifikasi resep agar sayur lebih familiar di lidah anak. “Sayuran bisa dicampur dalam menu favorit anak, contoh wortel parut dalam perkedel, bayam dalam telur dadar, atau labu siam dalam sop ayam, atau dibuat lebih berwarna & menarik. Misalnya capcay dengan sayur merah, hijau, oranye. Gunakan juga bumbu khas lokal agar lebih akrab di lidah anak,” katanya.
Selain itu, penyajian yang menarik juga menjadi kunci. “Dapat dimodifikasi bentuk juga dengan misalnya dibuat finger food contoh stik wortel kukus dengan saus kacang, nugget sayur, bakso sayur agar lebih familiar. Gunakan wadah atau tampilan menarik, misalnya bento box dengan bentuk lucu,” tambahnya.
Menurutnya, strategi itu bukan sekadar soal rasa, melainkan juga membentuk kebiasaan. Anak yang terbiasa melihat sayur dalam bentuk menarik akan lebih mudah menerimanya seiring waktu.
Nurul juga mengingatkan bahwa MBG adalah kesempatan emas untuk mengajarkan perilaku makan sehat sejak dini. “Pembuat menu MBG bisa mencoba modifikasi bentuk dan rasa sayuran sambil memberikan edukasi yang menyenangkan sehingga anak lebih terbuka menerima sayur tanpa kehilangan kandungan gizinya,” tuturnya.
Lebih jauh, dia menekankan pentingnya variasi. Memberi sayur dengan warna berbeda setiap hari bisa memperkaya asupan vitamin dan mineral. “Sayuran pun akan lebih baik diberi yang beragam warna, tidak sayuran hijau saja, sebab setiap warna pada sayuran merepresentasikan kandungan vitamin dan mineral yang berbeda,” jelasnya.
Menurut Nurul, anak-anak perlu dikenalkan pada pangan lokal khas Kaltim, yang bisa dimasukkan ke menu MBG. “Contoh sederhana seperti sayur bening jagung manis, tumis kangkung dengan bawang putih, bisa jadi alternatif sehat sekaligus akrab di lidah anak,” katanya.
Dengan kombinasi strategi kreatif dan edukasi, Nurul optimistis konsumsi sayur di kalangan siswa bisa meningkat. Intinya adalah jangan memaksa, tapi membiasakan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo