Ia menyebut penyakit ini kerap luput dari perhatian karena sebagian besar tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
“Cacingan bisa asimptomatis, tidak bergejala atau simptomatis dengan gejala yang jelas. Sayangnya banyak orangtua baru menyadari ketika sudah muncul tanda berat,” kata Diane kepada Kaltim Post.
Gejala yang paling sering terlihat yakni iritasi di sekitar anus hingga ke alat kelamin, yang membuat anak merasa gatal dan sering menggaruk. Kondisi ini bisa memicu infeksi sekunder akibat luka garukan.
“Gatal itu juga mengganggu tidur anak. Mereka jadi tidak tenang, sering terbangun, terlihat lemas dan mengantuk di siang hari. Bahkan kelopak mata bawah bisa tampak kehitaman,” ujarnya.
Gangguan tidur dan infeksi berulang ini, menurut dia berdampak langsung pada tumbuh kembang anak. Tidak hanya itu, cacing dapat mengembara ke organ tubuh lain.
Ia mencontohkan cacing bisa masuk ke usus buntu dan memicu apendisitis, bisa juga ke tuba falopi hingga menyebabkan radang saluran telur, atau ke vulva dan vagina anak perempuan prapubertas yang berisiko memicu infeksi saluran kemih.
“Anemia akibat cacingan juga sering terjadi. Anak jadi lemah, letih, lesu, dan tidak fokus di sekolah,” sebutnya. Faktor lingkungan turut berperan besar. Ia menekankan sanitasi yang buruk memiliki korelasi kuat dengan cacingan.
“Kemiskinan memang berpengaruh, tapi yang paling menonjol itu sanitasi. Tidak ada air bersih dan kebiasaan buang air besar sembarangan memudahkan penularan,” ujarnya.
Jika dibiarkan, dampak cacingan bisa lebih parah. Anak yang sering terinfeksi akan mengalami gangguan gizi hingga berujung pada gizi buruk. Pertumbuhan tinggi badan pun bisa terganggu dan memicu stunting.
“Infeksi berulang dan gizi kurang itu bisa menurunkan kualitas tumbuh kembang anak,” sambungnya.
Ia mengingatkan, jangan menunggu muncul gejala untuk memberikan obat cacing. Menurut rekomendasi IDAI, anak sebaiknya diberi obat cacing setiap enam bulan sekali.
“Jangan diremehkan, kalau menunggu sampai keluar cacing dari mulut, hidung, atau anus, atau anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan dan infeksi berulang, itu artinya sudah terlambat,” ujarnya.
Lebih jauh, Dia menegaskan bahwa cacing yang menyebar ke organ vital bisa mengancam jiwa. “Cacing bisa sampai ke otak, paru-paru, dan jantung. Jika saluran napas tersumbat, anak bisa sesak dan itu berisiko fatal,” terangnya.
Terakhir, Diane menekankan orang tua diminta menjaga kebersihan diri dan lingkungan anak, memastikan ketersediaan air bersih, serta membiasakan cuci tangan dengan sabun. “Cacingan ini bukan penyakit sepele. Pencegahan jauh lebih baik daripada menunggu anak jatuh sakit,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo